NODA ULAMA

NODA ULAMA
Oleh: @deden_mm

Siapa santri yang tak kenal Imam al-Kisa’iy (w. 189 H.). Ulama yang sholeh dan guru besar para ulama di zamannya. Dia ulama nahwu Kufah yang termasyhur, termasuk salah satu imam qiroat yang tujuh, dan ulama tafsir yang keilmuannya sampai pada level tertinggi.

Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar (w. 229 H.), ulama Al-Quran dan ahli qiroat terkemuka sebagai rawi Qiraat Tujuh dam imam Qiraat Sepuluh adalah salah satu murid imam al-Kisa’i dalam riwayat. Suatu ketika al-Kisai berkata kepada muridnya al-Bazzar:

“Sayyidi al-Rasyid berkata padaku.”

Yang dimaksud al-Rasyid adalah Amirul Mu’minin Harun al-Rasyid. Dan “sayyidi” adalah panggilan penghormatan yang dalam bahasa Indonesia berarti “tuanku.”

Kata-kata imam al-Kisa’i di atas ternyata begitu menusuk hati al-Bazzar. Dia tak habis pikir atas dasar apa ulama besar sekaliber gurunya yang shaleh itu memanggil nama Penguasa dengan panggilan kemuliaan. Baginya panggilan itu menjadi noda ilmu ulama.

Tidak diketahui apakah imam al-Kisai menarik kembali ucapannya atau tidak. Tapi kenyataannya Khalaf bin Hisyam memutuskan untuk meninggalkan imam al-Kisai dan tak mengambil satu huruf pun darinya. Sanad keilmuan, khususnya sanad Qiraat, yang diterima dari imam al-Kisai dibuang.

Imam Khalaf bin Hisyam memilih mengambil Qiraat sebgai rawi dari imam Hamzah al-Kufi (w. 156 H.) sebelum kemudian naik level menjadi setara dengan imam al-Kisai sebagai imam al-Qiraat.

Harun al-Rasyid bukanlah penguasa yang dikenal zhalim. Melainkan sebaliknya dikenal adil. Julukan al-Rasyid yang melekat padanya adalah bukti keadilannya. Tapi dunia kekuasaan tetaplah dunia fitnah. Adalah noda bagi seorang ulama memanggil penguasa dengan sebutan “sayyid.”

Itu hanya sekadar memanggil dengan “sayyid.” Sudah sedemikian besar nodanya sampai imam al-Kisai ditinggalkan murid terbaiknya dan mendorongnya bertaubat dan meralat perkataannya. Padahal tidaklah haram. Juga tidaklah makruh.

Bisa dibanyangkan bagaimana besarnya noda ulama yang memberikan perhormatan kepada penguasa lebih dari sekadar panggilan? Dan bagaimana pula jika penguasanya bukan Harun al-Rasyid tapi penguasa yang zhalim?

Sadeng, 26 Agustus 2018

Bagikan