PANCASILA KAFFAH

PANCASILA KAFFAH
Oleh: @deden_mm

Islam Kaffah didefinisikan sebagai Islam yang utuh dengan menerapkan semua syariat-syariatnya. Merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 208 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً،،،
Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam Islam secara utuh…

Tapi, mari perhatikan dengan saksama ayat di atas. Terlihat dengan jelas bahwa tidak ada kata Islam (الإِسْلَام) di dalamnya. Yang ada adalah kata Silmi (السِّلْمِ). Dengan kata lain sebenarnya tidak ada Islam Kaffah dalam Al-Quran. Yang ada adalah Silmi Kaffah.

Sebagian besar ulama tafsir memaknai kata silmi (السِّلْمِ) dengan pengertian Islam. Dan inilah tafsir yang dinilai paling kuat oleh semisal imam al-Thabari (w. 310 H.). Namun tetap tidak kemudian menafikan rahasia menyebutkan Islam dengan Silmi. Kenapa sih Allah tidak mengatakan fil islami kaffah (فِي الإِسْلَامِ كٓافَّةً)? Pastilah ada rahasianya.

Silmi (السِّلْمِ) adalah al-shulh (الصُّلْحُ). Yaitu damai atau perdamaian. Islam disebut Silmi pada ayat ini karena punya konteks hendak menampilkan eksistensi Islam sebagai wadah perdamaian yang luas sehingga lebih cair dan tidak kaku untuk mewadahi semua kalangan. Siapapun tidak bisa masuk kedalam Islam secara kaffah jika Islamnya belum tampil sebagai silmi.

Imam Ibnu Katsir al-Makky (w. 120 H.) sebagai salah seorang imam qiroat yang tujuh membaca kata Silmi (السِّلْمِ) dengan Salmi (السَّلْمِ). Bacaan ini sah secara mutawatir dari Rasulullah Saw. setara dengan bacaan silmi (السِّلْمِ). Ini meniscayakan tidak ada pengertian Islam di dalamnya. Tetapi perdamaian seutuhnya.

Tampaknya Silmi bukanlah Islam biasa yang terformalkan sebagai nama Agama. Tapi Islam universal dan utuh (atau sebut saja kaffah) yang bisa menjadi wadah semua pemeluk Agama.

Ini sesuai dengan penafsiran dari Ibnu Abbas (w. 68 H.) dan al-Dhahak (w. 105 H.) bahwa yang dimaksud orang-orang yang beriman (alladziina aamanu) di pembuka ayat ini bukan hanya orang-orang muslim, tapi juga penganut agama lain seperti Ahli Kitab.

Kata udkhulu (ادْخُلُوا) adalah ajakan kepada semua pemeluk agama untuk masuk kepada sebuah sistem perdamaian total yang disebut Silmi. Salah satu wujud nyata dari Silmi yang diijtihadkan para ulama kita di Indonesia adalah Pancasila.

Pancasila bukan Islam tapi Silmi yang mempersatukan. Yakni sebuah tampilan dari wajah Islam yang total. Adalah tidak tepat menganggap Pancasila sebagai sistem yang bathil. Bahkan justru bisa menjadi solusi bagi seluruh problematika umat, bukan hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

Masuknya para pemeluk agama kedalam Silmi atau sebut saja Pancasila sangat dibenci setan. Karena berarti agama telah menjadi alat perdamaian yang total. Ini tentu mendesak setan untuk menyiapkah langkah-langkah baru bagaimana menjadikan kembali agama sebagai alat perpecahan.

Alhasil Silmi bisa menjadi rentan diselewengkan karena dikelilingi langkah-langkah setan yang menggodanya. Oleh karenya, dalam lanjutan ayat di atas, kemudian Allah mengatakan:

وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Dan jangan mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh dia bagimu adalah musuh yang nyata.

Demikian. Semoga bermanfaat. Dan yang tidak sepakat, paling tidak bisa jadi tahu bahwa ada penafsiran para ulama tentang ayat 208 dari surah al-Baqarah ini yang seperti ini.

Sadeng, 10 September 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan