PERJALANAN TITIK AL-QURAN

PERJALANAN TITIK AL-QURAN

Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Meski sudah sering dikaji, titik dalam Al-Qur’an masih menyisakan banyak gagal faham. Sering tertukar antara titik tanda baca dan titik huruf mu’jam dalam sejarah mushaf. Hal ini karena referensi-refernsinya berserakan di berbagai macam kitab. Riwayat titik dalam satu kitab selalu tak sama, atau paling tidak, selalu ada yang beda, kendati sedikit, dengan riwayat dalam kitab lain. Dengan tulisan ini, saya akan mengkompromikannya, semoga kemudian menjadi tuntas.

Al-Qur’an, baik pada periode penurunan wahyu maupun periode mushaf, ditulis dengan huruf Arab tanpa titik. Hingga banyak huruf yang kembar. Ba, ta, tsa, ya, dan nun ditulis dalam bentuk huruf yang sama. Begitu pula jim, ha, dan kha. Ditulis sama. Dal sehuruf dengan dzal, ra sehuruf dengan zay, dan seterusnya. Ini, sebagaimana riset al-Dani, agar mushaf dapat dibaca dengan menggunakan semua dialek dan ragam bacaan yang diturunkan.

Tak pernah ada yang membaca salah Al-Qur’an selama periode mushaf ditulis dengan huruf-huruf kembar di atas sampai lebih kurang 40 tahun kemudian, yaitu pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ini pun pemicunya bukan keadaan huruf-huruf-nya yang kembar, tapi ketidaktahuan pembaca akan bahasa Arab. Yang mestinya dibaca dhammah atau fathah malah dibaca kasrah. Hal ini mendorong Ali menunjuk Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H.) untuk merumuskan ilmu Gramatika Arab (Nahwu) sekaligus membuat tanda baca i’rab (harakat i’rab) dalam mushaf.

Abu al-Aswad (w. 69 H.), setelah berijtihad dan memertimbangkan banyak hal, memilih titik sebagai tanda baca (harakat). Titik dipilih karena, selain sangat sederhana, sudah dikenal secara tidak baku sebagai tanda dalam bahasa Semit sebagai akar bahasa Arab, seperti Suryani dan Ibrani. Abu al-Aswad (w. 69 H.) menandai fathah dengan titik satu di atas huruf, dhammah dengan titik satu di depan huruf, dan kasrah dengan titik satu di bawah huruf. Titik-titik tersebut ditulis dengan tinta yang warnanya berbeda dengan warna huruf, agar tidak campur. Titik berlaku pula untuk tanwin.

Berikutnya mushaf-mushaf terus ditulis dengan mengacu pada tanda baca (titik) yang dibuat Abu al-Aswad (w. 69 H.) sampai pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan. Masyarakat Islam semakin majemuk, hingga banyak yang tak lagi bisa membaca mushaf Al-Qur’an dengan keberadaan huruf-huruf kembar. Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H.) mendesak para qura untuk membuat tanda pada huruf-huruf kembar, tapi mereka enggan melakukannya karena takut dianggap melakukan bid’ah pada Al-Qur’an sebagaimana bid’ah Yahudi dan Nashrani pada kitab mereka.

Lalu salah seorang murid Abu al-Aswad bernama Nashr bin Ashim al-Laitsi (w. 89 H.) dengan dibantu seorang muridnya, Yahya bin Ya’mur (w. 120 H.), setelah memertimbangkan banyak hal, bekerja merumuskan tanda pembeda pada huruf-huruf-huruf kembar, agar semua orang bisa membaca Al-Qur’an tanpa keliru.

Titik terpilih lagi sebagai tanda. Karena tiada tanda yang lebih sederhana dari titik. Nashr dan Yahya membedakan ba dari keempat saudara kembarnya dengan titik satu di bawah, ta dengan titik dua di atas, tsa dengan titik tiga di atas, nun dengan titik satu di atas, dan ya dengan titik dua di bawah. Demikian pula jim dengan kedua saudara kembarnya. Jim dengan titik satu di bawah, kha dengan titik satu di atas, dan ha dengan membuang titik.

Huruf-huruf yang kembar dua (sepasang), yang satu huruf pokok dan yang satunya lagi huruf cabang, yaitu dal (pokok) dan dzal (cabang), ra dan zay, sin dan syin, shad dan dhadh, tha dan zha, ain dan ghain, fa dan qaf, diberikan tanda titik satu di atas huruf cabang. Kecuali syin, titiknya tiga. Pada mulanya, huruf pokok pun diberi titik satu di bawah. Yakni, dal diberi titik satu di bawah dan dzal diberi titik satu di atas, ra diberi titik satu di bawah dan zay diberi titik satu di atas, dan seterusnya sampai fa dan qaf. Qaf diberi titik satu di bawah dan fa diberi titik satu di atas. Kemudian titik di bawah huruf pokok tidak diperlukan lagi karena sudah dapat dibedakan dan menjaga keasliannya sebagaimana tertulis di pembukaan surat. Kecuali qaf. Abjad Maghribi tetap mempertahankan titik satu di bawah hingga kini, sedang Abjad Timur menggantinya dengan titik dua di atas. Kemudian huruf-huruf Hijaiyah yang menyusun Al-Qur’an disebut Huruf Mu’jam yang, secara harfiah, mengandung arti “dibedakan dengan titik.”

Setelah itu, di dalam mushaf banyak sekali titik. Pertama titik harakat i’rab Abu al-Aswad. Kedua titik huruf mu’jam. Keadaan mushaf ditulis terus seperti itu sampai permulaan pemerintahan Dinasti Abasiyah. Lama kelamaan titik i’rab buatan Abu al-Aswad dinilai tak relevan lagi dan menimbulkan kekeliruan, karena melahirkan dua titik bertumpuk pada satu huruf. Misalnya, dzal yang berharakat fathah. Di atasnya ada dua titik bertumpuk. Pertama titik dzal, dan kedua titik fathah. Apbila dzal tersebut berharakat kasrah, maka titik akan ada di atas dzal juga di bawahnya. Kondisi seperti ini terjadi pula pada ba dengan penumpukan titik di bawah bila berharakat kasrah. Lalu tampil al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H.) merumuskan tanda baca baru menggantikan tanda baca Abu al-Aswad. Dhammah ditandai dengan wawu kecil di atas huruf, fathah dengan alif miring kecil di atas huruf, kasrah dengan alif miring kecil di bawah huruf, dan sukun dengan kepala kha dari kata khafif, artinya ringan, di mana sukun ini tidak diberi tanda oleh Abu al-Aswad. Kemudian untuk tanda tanwin, huruf-huruf kecil tersebut digandakan. Ini pun sebuah inovasi. Karena Abu al-Aswad hanya memberi tanda titik satu pada tanwin sama dengan titik harakat yang bukan tanwin.

Yang dilakukan Imam al-Khalil (w. 170 H.) tak sekadar mengganti tanda baca Abu al-Aswad (w. 69 H.), tapi juga menyempurnakannya. Bersamaan dengan itu, al-Khalil pun menyempurnakan titik mu’jam Nashr bin Ashim (w. 89 H.) dan Yahya bin Ya’mur (w. 120 H.). Ada dua huruf yang belum diberi tanda oleh mereka bedua. Yaitu alif dan hamzah. Hamzam masih ditulis dengan alif tanpa penandaan. Lalu al-Khalil (w. 170 H.) mengganti hamzah dengan kepala ain. Apabila hamzah tersebut bisa bertukar menjadi alif, maka kepala hamzah ditulis di atas alif.

Tanda baca buatan al-Khalil (w. 170 H.) tak berubah, bahkan hingga kini. Namun dari periode penurunan wahyu hingga akhir abad ketiga Hijrah, varian khath yang dipergunakan untuk menulis mushaf masih Khath Kufi yang kaku, patah-patah, dan sulit dibaca. Ini karena para penulis wahyu, misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan, atau orang-orang Arab pada umumnya, belajar menulis khath yang berasal dari Iraq. Lalu lahir temuan Ibnu Muqlah (w. 328 H.) pada awal abad keempat dengan varian Khath Naskhi yang tidak kaku, mudah dibaca, dan berkaidah. Huruf mu’jam dapat bedakan dari kembarannya tak hanya dengan titik, tapi dengan bentuk, kepala, batang, perut, dan ekor huruf.

Sejak Ibnu Muqlah (w. 328 H.), tak pernah ada yang berubah lagi dengan mushaf Al-Qur’an, kecuali varian khath dan tanda baca sekunder, seperti tanda waqaf dan lain-lain. Kekokohan mushaf ini diperkuat oleh rasm-nya yang khas, final, dan tidak berubah, atau disebut utsmani, bukan imla’i.

Wallahu A’lam

Bagikan