Rasulullah SAW Menitipkan Salam Untuk Non Muslim Yang Berjiwa Sosial Tinggi

RASULULLAH SAW MENITIPKAN SALAM UNTUK NON MUSLIM YANG BERJIWA SOSIAL TINGGI
Oleh: K.H Deden Muhammad Makhyaruddin

Abdullah bin Mubarak (w. 181 M.), ulama terkemuka abad kedua Hijrah bermimpi bertemu Rasulullah Saw saat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Dalam mimpinya, Abdullah diperintahkan oleh Rasulullah Saw sepulangnya dari haji ke Iraq untuk menyampaikan salam kepada orang yang bernama Bahram yang beragama Majusi (penyembah api). Selain menitipkan salam, Rasulullah Saw memerintahkan kepada Abdullah bin Mubarak agar menyampaikan kepada Bahram bahwa Allah ridha padanya.

Abdullah bin Mubarak sangat heran dengan mimpinya. Karena mana mungkin Allah ridha kepada penyembah api. Ringkas cerita. Sesampainya di Iraq, Abdullah bin Mubarok mencari Bahram dan akhirnya ketemu. 

“Apakah Anda mengerjakan yang baik menurut Islam?” Tanya Abdullah.

“Saya menikahkan anak laki-laki saya dengan anak perempuan saya. Lalu saya mengadakan walimah (pesta) yang besar. Apakah itu yang baik menurut Islam?” Jawab Bahram seraya meminta tanggapan.

“Itu haram dalam Islam,” jawab Abdullah bin Mubarak.

“Atau ini. Saya punya anak bungsu. Perempuan. Lalu saya nikahi sendiri. Lalu saya membuat walimah yang besar. Apakah itu yang baik menurut Islam,” lanjut Bahram menjawab dan meminta tanggapan lagi.

“Itu juga haram dalam Islam,” sahut Abdullah bin Mubarok.

“O, ya. Ini. Pada malam walimah pernikahan saya dengan anak perempuan saya. Malam mulai senyap. Ada seorang perempuan masuk mengendap-ngendap seraya mematikan lampu. Saya dekati lalu dia pergi dan lampu saya nyalakan lagi. Tapi dia datang lagi dan memadamkan lampu lagi dan terus kucing-kucingan dengan saya. Sampai keempat kalinya saya ikuti dia karena takut dia mata-mata. Saya mendengar dari dalam rumahnya suara anak-anak merintih kelaparan meminta makan. Dia adalah ibu dari anak-anak itu. Dia menjawab kepada anak-anak: Nak, sabarlah. Ibu malu sama Allah kalau harus meminta kepada selain-Nya.” Hati saya terenyuh. Lalu tanpa sepengatuan siapa-siapa saya mengangkut makanan yang banyak dari rumah saya. Saya angkut sendiri lalu saya berikan kepada mereka. Mereka pun senang. Apakah itu yang baik menurut Islam?” Demikian jawaban Bahram.

“Ya. Betul. Ini baik menurut Islam. Saya diperintahkan Nabi saya dalam mimpi untuk menyampaikan dua hal. Yaitu salam dari beliau dan kabar bahwa Allah Swt ridha kepada Anda.”

Kisah ini saya baca pertama kali dalam kitab Al-Ushfuriyyah menjelang tahun duaribuan. Yakni sudah sangat lama. Dan kisah ini sangat populer di kalangan kiyai-kiyai dan santri-santri di pesantren-pesantren tardisional. Juga di kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu pengajian di kampung saya dahulu. Tapi dengan judul: “Bahram Majusi yang husnul khatimah.” Ketika saya beri judul seperti di atas maka kisah ini menjadi sedikit terasa berbeda dan mempunyai pesan yang berbeda juga. Belum lagi kalau saya kasih judul: “Allah Ridha kepada Non Muslim yang Berjiwa Sosial Tinggi.” Maka akan lebih beda lagi. Inilah yang menyebabkan para ulama selalu khawatir akan nasib akhir dari hidupnya. Karenanya mereka sibuk bertaubat dan mempebaiki diri tanpa sempat mencela orang lain. Kehidupan sosialnya diabadikan untuk membantu yang lain apapun Agamanya.

Imam al-Ghazali, dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, mengatakan: “Jika kamu melihat non muslim maka jaga hatimu dari merendahkannya, atau merasa lebih baik darinya. Apalagi sampai berbuat zalim kepadanya karena kenonmuslimannya. Karena kamu tidak tahu akhir dari kehidupannya dan kamu pun tidak tahu akhir dari kehidupanmu.” 

Semoga Allah anugerahkan kepada kita akhir kehidupan yang indah, husnul khatimah. Wallaahu A’lam.

Sadeng, 9Juli 2017

Bagikan