SEBAB BERGESERNYA NILAI ULAMA

SEBAB BERGESERNYA NILAI ULAMA
Oleh: @deden_mm

Kepemimpinan setelah Rasulullah Saw dilanjutkan oleh Khulafaurrasyidin. Mereka adalah para pemimpin yang juga ulama dan fuqaha. Mereka berijtihad sendiri dalam mengeluarkan fatwa. Tidak bergantung kepada ulama lain dalam mengambil keputusan kecuali dalam hal yang tidak dapat diputuskan kecuali dengan musyawarah.

Hal ini menyebabkan para ulama masa Khulafaurrasyidin terkonsentrasi pada ilmu Akhirat. Mereka menahan diri dari berfatwa dalam urusan-urusan dunia umat. Semua ijtihad mereka hanya dihadapkan kepada Allah Swt seutuhnya. Demikian seperti yang ditulis oleh imam al-Ghazali (w. 505 H.) dalam Ihya ‘Ulum al-Din.

Tampuk kepemimpinan kemudian beralih kepada para pemimpin yang bukan ulama yang tidak mengeluarkan fatwa sendiri maka mereka terdesak membutuhkan ulama untuk menduduki jabatan tinggi di pemerintahan. Khususnya jabatan hakim.

Para ulama dari kalangan tabiin saat itu tetap istiqamah dalam ilmunya. Tidak ada yang mau diangkat menjadi pejabat pemerintahan. Setiap kali mereka dipinta mareka melarikan diri. Hal ini menyebabkan pemerintah terpaksa “mengemis” kepada ulama.

Saat itulah orang-orang melihat betapa mulianya ulama. Mereka dicari dan dibutuhkan tapi mereka tidak mau. Hal ini memicu generasi berikutnya berusaha menjadi ulama agar mendapat posisi dan jabatan yang tinggi itu. Nilai ulama pun mulai bergeser dari niat dan tujuannya.

Imam al-Ghazali (w. 505 H.) mengatakan, “pada akhirnya ulama yang tadinya dicari penguasa jadi mencari penguasa. Yang sebelumnya berada di puncak kemuliaan karena menolak jabatan menjadi jatuh dalam kehinaan mencari kemuliaan (jabatan).”

Sadeng, 19 September 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan