THE PEACE OF SARUNG

THE PEACE OF SARUNG
Oleh: @deden_mm

Peace is power. Demikian tema acara milad AQL Islamic Center pimpina KH Bachtiar Nasir yang ke 10 tahun di Balai Kartini Jakarta. Saya bener-bener berniat untuk datang sejak pertama kali saya terima undangannya.

Saya datang dengan pakaian yang mencerminkan kedamain khas Nusantara. Yaitu sarung. Meski sebenarnya sarung sudah menjadi pakaian sehari-hari saya, tapi kali ini saya niatkan untuk peace is power itu.

Dalam bahasa Sunda sarung disebut sinjang (bahasa halus) dan samping (bahasa kasar). Shalat dalam bahasa Sunda Halus disebut “netepan.” Sebagaimana wudhu disebut “abdas.” Yaitu kosakata-kosakata berkonotasi damai dalam bahasa Sunda yang tercipta pasca Islam.

Pada mulanya sarung adalah pakaian shalat untuk laki-laki. Sebagaimana mukena pakaian shalat untuk perempuan. Biasanya kiyai ketika masuk waktu shalat maka tamu-tamu yang kebetulan ada langsung diajak shalat serta masing-masing dipinjamkan sarung. Bahkan hingga hari ini di kampung Sadeng, tempat sekarang saya tinggal, tidak ada masyarakat yang shalat di masjid kecuali memakai sarung.

Sarung kemudian menjadi pakaian santri pesantren tradisional. Karena mereka didik secara khusus menjadi “muqimishhalah (para pendiri shalat dengan sempurna).” Bukan sekadar “mushallin” yang lalai dari shalatnya. Sarung menghadirkan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. Karena akhir dari shalat adalah menebarkan kedamaian (membaca salam).

Penjajah tidak takut santri akan melakukan perlawanan selama sarungnya masih dikenakan menutup badan antara pusar dan lutut. Karena sarung bukan pakaian perang, bukan pakaian silat, dan bukan pakaian olah raga. Yang memakai sarung cenderung tidak bisa lari kecang dan tidak bisa menendang.

Yang membahayakan Penjajah adalah ketika santri melepas sarungnya. Menjadikannya ikat pinggang. Menyilangkannya di dada. Menyelendangkannya di pundak. Atau menjadikannya topeng ninja di kepala. Penjajah tidak bisa menunda lagi untuk angkat tangan dan angkat kaki dari negeri para santri. Sarung is peace. Tapi sarung pun is power.

Jakarta, 11 September 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan