Ulama Yang Tak Dirindukan

ULAMA YANG TAK DIRINDUKAN
(Rahasia Allah di Balik Kemenangan Mongol atas Baghdad)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Selamat harlah NU yang ke-91. Tulisan ini bukan tentang kisah ulama NU, tapi semoga bisa melepas kerinduan akan sosok ulama-ulama NU yang istiqamah, tawadhu, sejuk dan penuh karamah. “Yang tak lagi dirindukan.” Sepeninggal sayidina Mu’awiyah bin Abu Sufyan (w. 60 H.), pemerintahan Islam jatuh ke tangan para penguasa yang dikenal zhalim. Penguasa dipaksakan benar. Yang bertentangan dengan penguasa ditangkap, dipenjarakan, dan dibunuh. Tak peduli apakah mereka ulama atau orang biasa. Penguasa menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran. Melawan penguasa hanya menyebabkan umat kehilangan ulama dalam revolusi berdarah yang enggan menemui kesudahannya.
 
Di tengah kecamuk revolusi  hadir seorang ulama yang disebut oleh siti Aisyah sebagai sosok yang kata-katanya mirip seorang nabi. Juga diakui oleh para ulama zamannya sebagai guru para ulama. Dialah pemimpin para ahli zuhud, imam al-Hasan al-Bashri (w. 110 H.). Dia tak masuk dalam kancah revolusi melainkan sebaliknya, memperlebar toleransi. Dia tidak pernah menolak kebijakan penguasa, melainkan memberikan pendampingan padanya. Dia tahu, bahwa sebenarnya, penguasa, dengan segala kebijakan yang dikeluarkannya, tak menghendaki keburukan bagi umat. Demikian pula dengan revolusi para ulama, tak punya niat menumpahkan darah apalagi sampai membuat umat susah. Perjuangan mereka tulus karena Allah. Hanya masing-masing belum saling memahami.
 
Imam Hasan al-Bashri  seorang ulama yang tawadhu. Hatinya bersih dari noda-noda dunia. Tak menginginkan jabatan dan kekuasaan. Tak bekerja untuk dinar dan dirham. Pujian dan hinaan bernilai sama di matanya. Integritas inilah yang membuatnya disegani  para ulama revolusi dan penguasa sekaligus. Tak pernah mengeluarkan celaan, termasuk kepada penguasa. Tak heran, ketika para ulama dipenjara dan dibunuh, dia justru dihormati dan didengar nasehatnya oleh penguasa. Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H.), panglima perang Bani Umayah yang dikenal gagah, sadis dan pembunuh ratusan ulama bersimpuh menangis mendengar nasehat-nasehat Imam Hasan al-Bashri.
 
Imam Farqad menghadiri undangan makan di Istana. Dia ingin mengikuti jejak toleransi imam Hasan al-Bashri. Namun suasana di ruangan sangat mengejutkan hatinya. Alat-alat makan yang disuguhkan terbuat dari emas dan perak. Dia tak kuat melihat kemunkaran itu untuk segera keluar. Imam Hasan al-Bashri yang mengetahui kepergian imam Farqad langsung memanggil: “Hai Furaiqad.” Dia tidak memanggilnya Farqad, tapi Furaiqad, yaitu sebuah derivasi kata dalam bahasa Arab untuk menilai kecil (kurang) sekaligus belas kasih. Seakan-akan imam Hasan al-Bashri berkata, “ternyata ilmu-mu tak sebesar namamu. Tidak perlu pergi. Apa yang kamu anggap munkar di tempat ini dapat diatasi. Tapi ketika toleransi runtuh maka kedamaian umat tidak akan terwujud.” Lalu, ketika makan, imam Hasan al-Bashri menuangkan makanan ke atas semacam kerupuk yang lebar, sehingga, dengan cara itu, dia tidak makan dengan peralatan dari emas dan perak.
 
Demi menjaga tolerasni, imam Hasan al-Bashri tak pernah menyinggung sanad keilmuannya karena ada ulama dalam rantai sanad yang tidak disukai penguasa. Para ulama dan murid beliau sering menanyakan sanad tersebut. Tapi beliau tak menjawabanya. Sampai ketika suasana sudah mulai dingin, imam Hasan al-Bashri mengatakan: “Seandainya kutak hidup di zaman sosok Ali dibenci, niscaya telah kukatakan sejak awal, bahwa sebagian besar ilmu ini bersumber dari Ali bin Abi Thalib.” Pada masa itu segala sesuatu yang berhubungan dengan nama Ali langsung diciduk penguasa. Rakyat dilarang memberi nama anak laki-lakinya dengan nama Ali. Caci maki terhadap yang kontra penguasa dari yang pro penguasa, juga caci maki terhadap penguasa dari yang anti penguasa menghiasi mimbar-mimbar khuthbah jum’at kaum muslimin.
 
Imam Hasan al-Bashri mengubah tradisi caci maki dengan cara yang tidak mengandung unsur caci maki meski sebabkan dirinya dicacimaki. Ia menghapus kesenjangan antara ulama dan penguasa sampai terbangun jembatan pemahaman yang menghubungkan aspirasi muslimin dengan kebijakan penguasa pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik (w. 99 H.). Imam Hasan al-Bashri tak sendirian. Banyak ulama yang menempuh jalan perjuangan yang sama. Yaitu toleransi. Di Madinah, misalnya, ada imam Sa’id bin al-Musayyab (w. 94 H.), seorang ulama tabiin, murid Abdullah Ibn Umar.
 
Diriwayatkan imam Sa’id bin al-Musayyab menghindar dari mentafsir Al-Qur’an kecuali sebatas yang diterimanya dari Nabi dan para sahabat karena sangat takut salah. Salah mentafsir sama dengan menyediakan tempat di neraka. Perang saudara antara sesama muslimin pun dimulai dari tafsir-tafsir yang salah. Imam Sa’id lebih fokus mengkader pemimpin dengan pendidikan nabawi. Di antara muridnya lahir seorang ulama besar ahli Al-Qur’an, ahli hadits, mujtahid dan zuhud. Ia terbukti amanah menjadi wali kota Madinah sampai kemudian Sulaiman bin Abdul Malik (w. 99 H.) menunjuknya menjadi pengganti dirinya sebagai khalifah. Dia tak lain adalah yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai khulafaurrasyidin kelima, yaitu Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H.).
 
Wallaahu A’lam
Jakarta, 31 Januari 2017
Bagikan