Urgensi Bahasa Arab (Ilmu Nahwu) Dalam Membangun Peradaban

URGENSI BAHASA ARAB (ILMU NAHWU) DALAM MEMBANGUN PERADABAN

Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih Allah untuk Islam. Ilmu-ilmu bahasa Arab di tengah ilmu-ilmu Islam yang lain ibarat lidah di antara anggota-anggota tubuh manusia. Tak berlebihan tampaknya kita katakan bahasa Arab ibarat jantungnya ilmu-ilmu Islam. Karena merupakan bahasa perdamaian yang tinggi. Allah Swt berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya sebagai bacaan sempurna yang berbahasa Arab agar kamu mengerti (QS Yusuf: 2)

Yakni, dalam ayat di atas, ditegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an dalam bentuk bacaan bahasa Arab tak lain kecuali untuk manusia berfikir. Dan semua peradaban bermula dari sebuah pemikiran. Bahkan Filsafat Yunani yang menjadi benih peradaban modern tidak dapat difahami dengan mudah kecuali setelah ditrnslit terlebih daluhu oleh al-Farabi. Konon diceritakan Ibn Sina saja tidak dapat memahami pemikiran Aristoteles meski sudah tamat empat puluh kali sampai kemudian menemukan buku al-Farabi. Setelah difahami melalu bahasa Arab kemudian ditranslit lagi kedalam bahasa non Arab.

Jika bahasa adalah wadah pemikiran manusia, maka bahasa Arab adalah wadah dari ekspresi yang paling berharga dan benar dari pemikiran dan jiwa manusia yang tidak mampu diungkapkan dengan bahasa yang lain. Karena sejak zaman jahiliyah bahasa Arab telah dimurnikan dari pengaruh-pengaruh bahasa luar melalui penutur-penutur terpilih. Lalu ketika Nabi Ismail bin Nabi Ibrahim datang kepada mereka maka dia mempelajarinya hingga semakin menambah kemurniannya. Lalu turun kepada anak-cucunya yang tetap berada dalam Agama yang lurus, Agama ayah mereka, Ibrahim. Bahasa Arab terus dituturkan mereka dalam keadaan murni, terpilih, dan bersih. Bahkan meski ketika Ajaran Agama mereka telah rusak maka Ajaran Bahasa mereka tidak rusak.  Kemudian datang Rasulullah Saw yang tidak berbicara dari nafsuya. Lalu Allah Swt menurunkan kitab-Nya, Al-Qur’an, dengan bahasa Arab yang mubîn, yakni yang mampu menyampaikan pesan-Nya dengan jelas dan tepat yang tidak dibangun di atas khurafat dan keyakinan palsu, tanpa dakwaan yang tidak realistis, dan tanpa kebongan dengan mengatasnamakan Allah Swt.

Ibn Kasir (w. 774 H.) dalam tafsir-nya jilid 2 halaman 467 berkata:

لُغَةُ العَرَبِ هِيَ أَفْصَحُ اللُّغَاتِ وَأَبْيَنُهَا وَأَوْسَعُهَا، وَأَكْثَرُهَا تَأْدِيَةً لِلْمَعَانِي الَّتِي تَقُومُ بِالنُّفُوسِ، فَلِهَذَا أُنْزِلَ أَشْرَفُ الكُتُبِ بِأَشْرَفِ اللُّغَاتِ عَلَى أَشْرَفِ الرُّسُلِ

Bahasa Arab adalah bahasa yang laing fasih, paling jelas, paling luas, dan paling banyak mendatangkan makna yang dibawa oleh jiwa. Oleh karenanya kitab paling mulia diturunkan dengan bahasa paling mulia kepada Rasul paling mulia.

Allah Swt. mensifati bahasa Arab dengan ghaira dzî ‘iwajin, yakni lurus, istiqamah dalam surah al-Zumar ayat 28,  dengan mubîn, yakni menjelaskan dalam surah al-Syu‘ara ayat 195, dan dengan adil (hukum) dalam surah al-Ra‘d ayat 37.

Abu Ishaq al-Zajjaj (w. 311 H.) mengatakan, aku mendengar Abu al-‘Abbas al-Mubarrid (w. 286 H.) sebagaimana dalam kitab Abâthil wa Asmâr halaman 436 mengatakan bahwa sebagian ulama terdahulu mengatakan:

عَلَيكُمْ بِالْعَرَبِيَّةِ، فَإنَّها الْمُرُوءَةُ الظَّاهِرَةُ، وَهِيَ كَلَام ُاللهِ – عَزَّ وَجَلَّ – وَأَنْبِيَائِهِ وَمَلَائِكَتِهِ

Jagalah bahasa Arab karena dia adalah kehormatan kalian yang terlihat. Dia adalah bahasa Allah, bahasa para nabi, dan bahasa para malaikat.

Sedemikian pentingnya bahasa Arab sampai Imam Ahmad menetapkan hukum makruh membiasakan bebrbicara dengan selain bahasa Arab sebagaimana dikemukakan Ibn Taimiyyah dalam Iqtidhâ al-Shirâth al-Mustaqîm halaman 310.

Imam al-Syafii berkata:

إنَّ المسلمَ عليه أن يكونَ تَبَعًا فيما افتُرِضَ عليه، ونُدِبَ إليه، لا مَتْبُوعًا

Sesungguhnya seorang muslim wajib menjadi pengikut apa yang diwajibkan dan apa yang disunnahkan kepadanya bukan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah itu yang mengikutinya. 

Yakni, perintah Allah, baik yang wajib mapun yang sunnah datang dalam bahasa Arab, maka setiap muslim wajib mengikuti bahasa perintah itu, bukan perintah itu yang memngikuti bahasanya.

Para ulama terdahulu mempunyai kesadaran penuh terhadap kuatnya pengaruh bahasa dalam membangun peradaban Islam dan membangun kepribadian muslim. Karena itu mereka memacu dan terpacu pada bahasa Al-Quran dan Sunnah. Mereka sangat inkar kepada yang beralih atau memilih ke bahasa lain.

Imam al-Syafii berkata:

سَمَّى اللهُ الطَّالبينَ مِنْ فَضلِه في الشِّراءِ والبيعِ تُجَّارًا، ولم تَزَلْ العربُ تُسَمِّيْهم التُجَّارَ، ثم سَمَّاهم رسول الله – صَلَّى الله عليه وَسَلَّم – بما سَمَّى اللهُ به منَ التِّجارةِ بلسانِ العربِ

Allah menyebut para pencari karunia-Nya dalam berdagang (jual-beli) dengan tujjâr. Dan orang tidak berhenti menyebut mereka dengan tujjâr. Kemudian Rasulullah Saw menyebut mereka dengan sebutan yang dipakai Allah menyebut mereka, yaitu kata tijârah, dengan bahasa Arab.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana dalam Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm halaman 313, mengatakan, setelah mengutip perkataan Imam al-Syafii di atas: “Samasirah adalah salah satu kosakata bahasa non Arab. Maka kami tidak menyukai seseorang yang mengetahui bahasa Arab menyebut para pedagang kecuali dengan kosakata tâjir, tidak berbicara kecuali dengan bahasa Arab lalu menyebut sesuatu dengan selain bahasa Arab. Karena bahasa yang dipilih oleh Allah Swt adalah bahasa Arab. Lalu Allah turunkan kitab-Nya dengan bahasa itu, dan menjadikannya bahasa penutup para nabi. Karenanya setiap orang yang mampu belajar bahasa Arab hendaknya mempelajarinya. Karena bahasa Arab harus menjadi bahasa utama yang disukai tanpa berarti haram berbicara dengan bahasa selain Arab.”

Imam al-Syafii, dalam kutipan Ibn Taimiyyah, tidak menyukai orang yang bisa bahasa Arab berbicara dengan selain bahasa Arab atau mencampurkannya dengan bahasa lain.

Imam Malik, sebagaimana dalam Majmu‘ Fatawa jilid 32 halaman 255 berkata:

مَن تَكَلَّمَ في مسجدِنا بغيرِ العربيَّة أُخرِجَ منه

Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan selain bahasa Arab maka akan diusir.

Berbicara dengan selain bahasa Arab bukanlah hal yang diharamkan tetapi para ulama salaf sangat tidak menyukainya jika diucapkan tanpa ada keperluan demi menjaga peradaban Islam. Karena Allah telah menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, menjadikan nabi-Nya dari dari bangsa Arab, dan menjadikan bangsa Arab sebai-baik umat, maka menjaga bahasa Arab bagian terbesar dari melestarikan Islam.  Kaum muslimin setiap kali membebaskan suatu negeri, mereka tidak pernah meninggalkan bahasa mereka dan bahasa Al-Qur’an karena pindah ke bahasa negeri tersebut. Melainkan bahasa Arab menjadi bahasa negeri baru tersebut. Mereka akan sangat inkar terhadap kemunculan di tengah-tengah mereka bahasa yang tak lagi Arab yang jauh dari Al-Qur’an dan Ahli Al-Qur’an.

Ibn Taimiyyah mengatakan, kaum muslimin membiasakan khuthbah dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an ketika mereka membebaskan Syam dan Mesir padahal bahasa mereka Romawi, ketika membebasakan Iraq dan Khurasan padahal bahasa mereka Persia, dan ketika membebaskan Afrika Utara padahal bahasa mereka Barbar. Membiasakan khuthbah dengan bahasa selain Arab tentu sangat tidak disukai para ulama salaf.

Alvaro, Uskup Córdoba, pada tahun 854 M., dalam catatan Ibn Taimiyyah, mendapatkan bahasa Arab yang begitu maju. Ia menyaksikan bagaimana para penduduk Spayol (Andalusia) telah beralih bahasanya menjadi bahasa Al-Qur’an, termasuk para pemeluk Agama Nashrani di Andalusia. Padahal Islam di Andalus termasuk belum lama. Hal ini karena umat Islam dahulu menjadikan bahasa Arab sebagai tonggak perdadabannya.

Umar bin al-Khththab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari:

أمَّا بعدُ، فتَفَقَّهُوا في السُّنَّةِ، وتعلَّمُوا العربيَّةَ، وأَعْرِبوُا القرآنَ؛ فإنَّه عَربيٌّ

Amma ba‘du, ‘fahamilah sunnah, pelajarilah bahasa Arab, dan i‘râbkanlah Al-Qur’an karena dia berbahasa Arab

Ubay bin Ka‘ab berkata sebagaimana dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah nomor 25651:

تعلَّموا العربيَّةَ، كَما تعلَّمون حفظَ القُرآنِ

Pelajarilah bahasa Arab sebagaimana kamu mempelajari hafalan Al-Qur’an

Ibn Umar berkata:

أعرِبوا القرآن؛ فإنَّه عربي

I‘rablah Al-Quran karena dia berbahasa Arab

Salah seorang sahabat Rasulullah Saw beklata:

لأَن أقرأَ آيةً بإعرابٍ أحبُّ إليَّ مِن أنْ أقرأَ كذا وكذا آية بغير إعرابٍ

Membaca satu ayat dengan mengetahui i‘rabnya lebih aku cintai dari pada membaca ayat segini dan segini tanpa i‘rab.

Imam Abu Ja‘far berkata:

مِن فِقهِ الرجلِ عرفانُه اللَّحنَ

Di antara tanda kedalaman pemahaman ulama adalah mengetahui bacaan yang salah

Yang dimaksud dengan bahasa Arab pada perkataan Salaf di atas adalah mengetahui Ilmu Nahwu yang dirumuskan pertama kali pada zaman Ali bin Abu Thalib. Para ulama sepakat atau disebut ijma, bahwa di antara syarat ijtihad yang paling penting adalah mengetahui Ilmu Nahwu sebagaimana dalam kitab Luma‘ al-Adillah fî ‘Ushûl al-Nahwi karangan Imam al-Anbari pasal ke sebelas.

Imam Waki‘, sebagaimana dalam kitab al-Jâmi‘ li Akhlâq al-Râwi karya al-Khathib al-Baghdadi jilid 2 halaman 26, ketika belajar hadits kepada Imam al-A‘masy selalu membetulkan bacaan yang salah. Lalu al-’A‘masy berkata: “Kamu salah dalam hal yang lebih penting dari hadits.” Waki‘ berkata: “Apa yang lebih penting dari hadits?” al-’A‘masy bekata: “Nahwu.”

Ali bin Abu Thalib berkata:

تعلَّموا النَّحو؛ فإنَّ بني إسرائيل كفروا بحرفٍ واحد كان في الإنجيل الكريم مسطورًا، وهو: أنا وَلَّدت عيسى. بتشديد اللام، فخَفَّفوه، فكَفَرُوا

Pelajarilah Nahwu, karena Bani Israil menjadi kufur karena satu huruf. Dalam Injil terdapat satu kalimat. Yaitu firman Allah: “aku menjadiنشى Isa lahir.” Yaitu walladtu (وَلَّدْتُ)  dengan tasydid lam. Lalu mereka membaca tanpa tasyrid sehingga menjadi waladtu (وَلَدْتُ). Artinya aku melahirkan.

Imam al-Syafii sebagaimana dalam kitab Syadzarât al-Dzahab karya Ibn al-‘Imad halaman 231 berkata:

مَن تَبَحَّرَ في النحو اهتدَى إلى كل العلوم

Barangsiapa yang luas pengetuhuan Nahwu-nya maka akan terpandu kepada semua ilmu.

Dan beliau berkata:

لا أُسأَل عَن مسألة مِن مسائلِ الفِقه إلاَّ أجبتُ عنها من قواعدِ النحوِ

Tidak semata-mata aku ditanya tentang masalah fiqih kecuali aku menjawabnya dari kaidah-kaidah Nahwu.

Beliau pun berkata sebagaimana dalam Manâqib al-Syâfii karya Imam al-Baihaqi jilid 2 halaman 42:

ما أردتُ بها – يعني: العربيَّة والأخبار – إلاَّ الاستعانة على الفقه

Aku tidak menghendaki dengan Ilmu Nahwu ini kecuali untuk membantu kepada fiqih.

Imam Khalil al-Farahidi (w. 170 H.) mendengar Imam Ayyub al-Sikhtiyani, seorang ahli hadits dan ahli fiqih yang besar, membaca hadits lalu terjadi salah dalam mengucapkan i‘rabnya lalu beliau berkata: Astaghfirullah. Yakni Imam Ayyub al-Sikhtiyani menganggap salah baca i‘rab termasuk dosa.”

 

Wallâhu A‘lam

Bagikan