BULAN YANG TERLUPAKAN

BULAN YANG TERLUPAKAN
(Melukis Kenangan di Bulan Sya’ban)
@deden_mm

Sudah bulan Sya’ban  lagi. Sudah Nishfu Sya’ban lagi. Dan sudah sampai mana perjalanan kita? Sedang di mana kita? Sya’ban mengingatkan kita dengan namanya. Berasal dari kata syi’b (شِعْبٌ). Artinya jalan di atas bukit. Dari jalan tersebut terlihat lambaian tangan Ramadhan memanggil. Juga jalan muhasabah karena dari atas bukit, jalan yang sudah dilalui selama 11 bulan ke belakang pun terlihat.

Di pertengahan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) amal-amal manusia dalam setahun diangkat ke langit untuk kemudian jadi alasan kebahagiaannya atau untuk disesalinya. Tapi layaknya jalan, Sya’ban pun terlupakan. Sya’ban hanya laluan para perindu Ramadhan setelah bermesraan dengan Rajab. Juga dahulu adalah bulan transisi bangsa Arab setelah libur perang dan politik selama Bulan Haram, Rajab.

Inilah jalan di atas bukit yang hampir tak pernah orang punya kenangan tentangnya. Bahkan hingga hari ini. Orang-orang menulis “H-30 Ramadahan” dan hamin-hamin lainnya. Mereka menulis di jalan-jalan “rindu Ramadhan.” Di mana Sya’ban-nya? Padahal ia sedang berasama Sya’ban. Dan tanpa Sya’ban tidak akan pernah sampai kepada Ramadhan.

Rindu itu melenakan antara syahwat dan ketulusan. Sering bohong. Yang dirindukan hanya indah dalam jarak. Setelah sampai padanya, mana kerinduan yang karenanya lupakan Sya’ban. Mana yang rindunya bertahan sampai akhir Ramadhan. Taraweh berjuz-juz setiap malamnya. Tilawah berkali-kali khatam setiap waktunya. Sedekahnya lebih cepat dari angin yang berhembus. Adakah para perindu itu?

Rasulullah Saw memberikan contoh mengemas rindu agar tak bohong. Beliau melukis tinta puasa di hari-hari Sya’ban layaknya telah perjumpa dengan Ramadhan. Beliau tak lupakan Sya’ban karena terbuai rindu Ramadhan. Karena rindu Ramadhan yang tak bohong adalah mengisi setiap hari dengan rangkaian amaliah Ramadhan. Adakalanya jasadnya tak sampai tapi rindunya sampai. Jika rindu itu benar bukan syahwat maka takkan perlah lupa melukis kenangan di kanfas Sya’ban. Jalan di Atas Bukit itu.

Puasa, shalat malam, tilawah, murojaah, sedekah dengan semangat dan durasi seakan sudah berjumpa Ramadhan adalah jejak rindu terindah di bulan Sya’ban kepada Ramadhan. Jika kamu ingin melukiskan kenangan di Ramadhan maka goreskan pula kenangan itu di kertas Sya’ban.

Deden Muhammad Makhyaruddin
Jogjakarta, 26 April 2018

Bagikan