PENGHAFAL AL-QURAN DI PUSARAN KEMERDEKAAN

PENGHAFAL AL-QURAN DI PUSARAN KEMERDEKAAN
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
 
Islam di Nusantara tak dapat dipisahkan dari peran penghafal Al-Quran. Karena sebelum Wali Songo eksis menyebarkan Islam, Islam sudah pesat di tanah Sunda dengan hadirnya pesantren Al-Quran di Karawang yang didirikan seorang hafizh Al-Quran, Syaikh Hasanuddin, atau Syaikh Qurratul Ain, atau dikenal dengan nama Syaikh Quro pada tahun 1418. Bukan karena mempunyai nama lain Qurratul Ain tapi karena kefasihan dan kemerduan suaranya dalam melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan langgam. Dalam bahasa Sunda, bacaan Al-Quran dengan langgam disebut “Kuro.”
 
Dakwah penghafal Al-Quran adalah dakwah akhlak dan kasih sayang sehingga diterima dengan baik oleh masyarakat. Karena di level kasih sayang ajaran semua agama sama. Bahkan tanpa orasi, tanpa mengajak, dan tanpa penjelasan, apalagi paksaan, hati bergetar hanya karena mendengarkan lantunan ayat-ayat suci. Dari Syaikh Quro, Islam masuk ke Nusa Kalapa (Jakarta) melalui murid-muridnya. Juga menjadi penghubung dengan Islam di Jawa bagian Tengah dan Timur yang berpusat di Cirebon dan Demak. 
 
Di antara murid Syaikh Quro yang dikenal bersuara merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran adalah seorang perempuan bernama Subang Larang. Suaranya memikat seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Raden Pamanah Rasa, atau dikenal kemudian dengan Prabu Siliwangi yang berujung pada pernikahan antara keduanya dengan disaksikan langsung oleh Syaikh Quro. Dari pernikahannya lahir Raden Kiyan Santang beserta yang lain. Merekalah para pembawa Islam dengan kasih sayang meski tak jarang menemui kendala dari penguasa-penguasa yang tak lagi kasih sayang.
 
Ketika Portugis yang bermarkas di Malaka mengirimkan pasukan untuk menjalin persahabat dengan Kerajaan Sunda (Pajajaran) tahun 1522 yang juga merupakan masa awal penjajahan bangsa Eropa di wilayah yang sekarang disebut Indonesia maka keberadaan Islam peninggalan Syaikh Quro memuluskan pasukan Cirebon dan Demak pimpinan Fatahillah menaklukan Sunda Kelapa dari Kerajaan Sunda dan Portugis. Yakni, dengan kata lain, yang membawa Islam ke Sunda Kelapa bukan Fatahillah, tapi jauh sebelumnya Syaikh Quro yang dilanjutkan murid-muridnya dari Kerajaan Sunda secara kasih sayang, bukan perang. Bahkan sebelum ajaran Syaikh Quro masuk ke Sunda Kelapa, upaya Demak dan Cirebon menguasainya selalu gagal.
 
Setelah era Fatahillah di mana Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta, tampaknya arus dakwah beralih dari tradisi menghafal Al-Quran syaikh Quro menjadi ekspansi yang tak lama kemudian disibukan dengan perlawanan terhadap Belanda, yaitu setelah tahun 1619 M. Kerajaan Demak, Cirebon, bahkan Banten tak dapat mempertahankan Jayakarta. Yang giat melakukan perlawanan terhadap Penjajah kemudian tak lagi kerajaan tapi ulama, kiyai, santri, masyarakat, dan pangeran-pangeran yang mayoritas kerajaannya diusik Belanda. Misalnya Pangeran Jayakarta. Pasang surut penjajahan Belanda dan perlawanan rakyat terus bergulir sampai lebih kurang 300 tahun, yaitu ketika tradisi menghafal Al-Quran kembali kuat.
 
Menjelang tahun sembilan puluhan-an banyak putra Indonesia yang berhasil lolos belajar ke Makkah dan berkesempatan menghafal Al-Quran. Tak diketahui berapa banyak yang hafal Al-Quran menjelang kemerdekaan. Namun dari para penghafal Al-Quran yang banyak itu terdapat empat ulama yang paling besar perannya dalam mentradisikan kembali menghafal Al-Quran di Indonesia, yaitu KH Munawwir Krapyak, KH Ahmad Badawi Kaliwungu, KH Dimyati Tremas, dan KH Muhammad As’ad Makassar. Meraka adalah para hafizh Quran yang berada di belakang para ulama yang berjuang dengan membuat organisi seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Di antara yang sering datang ke Krapyak ada yang dari Cirebon, yaitu KH Abbas, Buntet yang disebut Singa Jawa Barat oleh KH Hasyim Asy’ari. Pantas kemudian Allah Swt anugerahkan kemerdekaan dengan kasih sayang kepada Indonesia setelah ratusan tahun berjuang. Di antara tim sembilan perumus Pancasila yang hafizh Al-Quran adalah KH Wahid Hasyim.
 
Jumlah ulama yang hafal Al-Quran di pusaran kemerdekaan tak diketahui pasti. Karena banyak penghafal Al-Quran yang tak mau diketahui kehafizhannya. Mereka menyembunyikan kehafizhan mereka dari mata manusia. Karena bagi ulama dahulu, yang terpenting adalah bagaimana memberikan manfaat yang besar untuk umat, untuk sesama makhluk Allah, dari hafalannya. Di sekitar makam KH Ahmad Badawi Kaliwungu saja terdapat 50 makam hafizh Al-Quran yang wafat lebih dahulu dari KH Ahmad Badawi. Kehafizhan mereka baru diketahui orang-orang umum (bukan ulama) ketika dilakukan pemugaran yang ternyata kain kafan mereka masih utuh. 
 
KH Ahmad Badawi Kaliwungu adalah termasuk yang menyembunyikan kehafizhannya dari orang banyak. Ketika beliau berkhidmat kepada KH Hasyim Asy’ari mengajar Al-Quran di Jombang selama 7 tahun, beliau bekerja suka rela kepada kiyai Hasyim sebagai pengambil rumput. Lalu malam harinya mengajar santri. Ketika di Kaliwungu, menurut cerita yang saya dengar, KH Ahmad Badawi menutupi kehafizhannya dengan menjadi kusir delman. Yang tahu kehafizhannya hanya para ulama dan santri-santri. Kini Indonesia tengah merindukan kembali kehadiran para penghafal Al-Quran yang seperti KH Munawwir, KH Ahmad Badawi dan lainnya dengan murojaah dan doa bersama untuk Indonesia lebih kasih sayang.
 
Sadeng, 11 Juli 2017
 
#Indonesia_LebihKasihSayang

Bagikan