RAHASIA YAASIIN DI MALAM NISHFU SYA’BAN

RAHASIA YAASIIN DI MALAM NISHFU SYA’BAN
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Pada malam tanggal 15 Sya’ban, atau disebut Nishfu Sya’ban, biasanya orang-orang berkumpul di suatu majlis atau masjid setelah mengerjakan shalat Maghrib untuk membaca surah Yasin secara berjamaah sebanyak tiga kali. Bacaan Yasin yang pertama diniatkan agar dipanjangkan umur dalam keadaan dijaga Iman dan Islam, berkah serta bisa ibadah. Bacaan Yasin kedua diniatkan agar dijauhkan dari segala bencana, bala, dan musibah. Bacaan Yasin yang ketiga diniatkan agar dicukupkan rizqi yang halal. Setiap selesai satu putaran Yasin, mereka membaca doa khusus yang isinya, secara umum, agar segala ketetapan buruk dihapuskan dan diganti dengan ketetapan baik.

Tak diketahui sejak kapan dimulai tradisinya. Namun sedemikian kuatnya teradisi tersebut sampai-sampai seakan sudah menjadi bagian dari Syari’at. Padahal tidak ditemukan nash-nya, baik dari Al-Qur’an maupun dari al-Hadits yang mensyari’atkannya. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih para ulama pun, nyaris tak ditemukan pembahasannya. Tak heran kalau kemudian terdapat sebagian orang yang mencelanya dengan keras. Lalu, tradisi ini semakin kehilangan sandarannya mengingat kebanyakan para pengamalnya sudah tak lagi mengetahui falsafahnya kecuali sebatas mengikuti tradisi lama (para guru) serta melihat keutamaan malam Nishfu Sya’ban secara umum. Orang yang memimpin Yasinan Nishfu pun, hanya mengatakan bahwa tradisi ini diterima dari sebagian ulama yang disebut dengan “ba’dhuhum (بَعْضُهُمْ).”

Sudah lama saya ingin membahas masalah ini. Khususnya setiap kali memasuki bulan Sya’ban. Tetapi, qadarullah, selalu terkendala. Lalu, di ambang Sya’ban tahun ini, entah kebetulan, atau apa, khususnya selama dua minggu terakhir, saya dihadapkan kepada penafsiran dua surat yang beraroma khas Ramadhah dan Sya’ban, yaitu surah al-Qadar dan surah al-Dukhan. Di dalam keduanya terdapat pembahasan satu malam yang istimewa di mana, dalam surah al-Qadar, disebut Lailatul Qadr, dan dalam surah al-Dukhan, disebut Lailah Mubarakah, yang Al-Qur’an turun di dalamnya.

Surah al-Dukhan ayat 4 menyatakan:
‎فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada (malam itu), dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Demikian terjemahan Kementrian Agama Republik Indonesia. Kata “yufraqu (يُفْرَقُ)” diterjemahkan dengan “dijelaskan.” Dan kata “hakim (حَكِيمٍ)” diterjemahkan dengan “penuh hikmah.” Sedang hal penuh hikmah yang di jelaskan pada malam itu adalah “kullu amr (كُلُّ أَمْرٍ),” yaitu segala urusan makhluk.
Dalam riwayat-riwayat tafsir yang bersanad kepada Rasulullah Saw, atau para sahabat dan tabiin, bahwa urusan yang dimaksud adalah segala ketetapan Allah Swt untuk makhluk, atau dengan kata lain, takdir makhkuk untuk satu tahun kedepan. Tidak semata-mata ada yang menimpa manusia, seperti kelahiran, kematian, mendapat rizqi, kehilangan, atau musibah dan lain-lain, kecuali sudah ditetapkan sebelumnya pada malam tersebut.

Takdir manusia yang telah ditetapkan oleh Allah sejak azali, atau dalam sebuah hadits, ditulis oleh malaikat pada saat usia kandungan 4 bulan, dipilah dan dipilih kembali pada malam tersebut untuk direalisasikan secara bertahap setiap tahunnya. Ini yang disebut dengan kata “yufraqu (يُفْرَقُ)” dalam ayat di atas yang secara harfiyah berarti “dipisahkan.” Oleh karenanya, urusan yang ditetapkan pada malam tersebut disifati dengan kata “hakiim (حَكِيمٍ)” yang secara harfiyah berarti kokoh. Yakni keputusan yang telah dikukuhkan, atau “diketukpalu” oleh Allah. Dalam sebuah riwayat, misalnya, disebutkan, bahwa, pada malam tersebut, list nama orang-orang yang akan meninggal dunia selama satu tahun kedepan diserahkan kepada Malaikat Maut.

Apakah malam tersebut? Maka, para mufassir terdahulu menjawab, bahwa malam tersebut tak lain adalah Lailatul Qadar berdasarkan sebuah penafsiran dengan pendekatan yang disebut kemudian oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H.) sebagai Tafsir Al-Qur’an bi Al-Qur’an. Hal ini, sebagaimana dikatakan Imam al-Thabari (w. 310 H.), karena pada ayat 4 di atas terdapat kata “fiihaa (فِيهَا)” yang dhamir-nya kembali pada kata “lailah mubarakah (لَيلَةٍ مُبَارَكَةٍ)” yang terdapat pada ayat sebelumnya. Sedang Lailah Mubarakah (Malam yang Diberkahi) tak lain adalah Lailatul Qadar, karena malam tersebut adalah malam diturunkannya Al-Qur’an.

Allah Swt berfirman:
‎إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيلَةٍ مُبَارَكَةٍ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailah Mubarakah.”

Kalau pada surah al-Dukhan ayat 4 terdapat pernyataan ditetapkannya “kullu amrin (segala urusan),” maka pada surah al-Qadr ada pernyataan turunnya para malaikat dan ruh (malaikat Jibril) dengan idzin tuhan mereka “min kulli amrin (dari segala urusan).” Yakni, surah al-Dukhan dan al-Qadar sama-sama mengandung informasi seputar “kullu amrin.” Sehingga Lailah Mubarakah tak lain adalah Lailatul Qadar, dan Lailatul Qadar tak lain adalah Lailah Mubarakah. Tapi, ketika membandingkan kedua surah tersebut dengan hadits-hadits tentang Lailatul Qadar dan malam Nishfu Sya’ban, maka tampak dengan jelas bahwa malam ditetapkannya segala urusan makhluk, lebih mirip dengan malam Nishfu Sya’ban, bukan Lailatul Qadar. Oleh karenanya, terdapat seorang ulama kalangan tabiin, yaitu salah seorang murid sayidina Ibnu Abbas (H. 68 H.), bernama Imam Ikrimah (w. 105 H.), menafsirkan Lailah Mubarakah dengan malam Nishfu Sya’ban secara tegas.

Pada mulanya, yakni pada masa mufassir generasi awwal, seperti Imam al-Thabari (w. 310 H.), penafsiran Imam Ikrimah (W. 105 H.) tidak dianggap kuat. Imam al-Thabari sendiri, kendati tetap mengutipnya, tidak mengangkatnya sebagai penafsiran yang kuat, bukan karena sanadnya lemah, tapi karena terkesan bertentangan dengan ayat yang lain, yaitu surah al-Qadar. Tapi, seiring dengan terseleksinya hadits-hadits tentang malam Nishfu Sya’ban, penafsiran Imam Ikrimah kembali dipandang oleh para ulama generasi akhir, atau disebut ulama muta’akhkhirin, sebagai penafsiran yang kuat.

Hadits-hadits tentang Nishfu Sya’ban, selain, misalnya, berisi tentang ditetapkannya segala urusan makhluk, juga berisi tentang pergantian buku catatan amal manusia. Yakni, buku amal manusia setahun kebelakang diangkat kepada Allah, dan buku catatan amal yang baru untuk satu tahun kedepan diturunkan. Dengan kata lain, pada malam Nishfu Sya’ban itu, daftar segala urusan makhluk satu tahun kedepan yang meliputi umur, ajal, rizqi, bahagia dan celaka ditetapkan dan dicatat, bahkan, menurut bahasa manusianya, “ditandatangani” dan “distempel” oleh Allah, lalu diserahkan kepada para malaikat untuk direalisasikan dalam perbuatan manusia secara adil bersama ikhtiar. Tapi, di malam yang sama, daftar segala urusan satu tahun kebelakang diserahkan kepada Allah Swt oleh para malaikat untuk dievaluasi apakah teraelisasi atau tidak, kemudian diberikan penilaian nantinya.

Ini karena bersama ketetapan yang tercatat tersebut, Allah memberikan ketetapan yang lain pada manusia, yaitu ikhtiar dan memilih yang baik. Allah Swt. pun, sebelum menguncimati buku tersebut, membukakan pintu ampunannya lebar-lebar pada malam Nashfu Sya’ban untuk yang beristighfar kepada-Nya. Bahkan dilukiskan secara hiperbola dalam beberapa hadits, bahwa Allah Swt. turun ke langit dunia. Peristiwa melaporkan buku amal hanya ditemukan haditsnya dalam pembahasan tentang malam Nishfu Sya’ban. Tidak dalam Lailatul Qadar.

Kalau Lailah Mubarakah adalah malam Nishfu Sya’ban, bukan Lailatul Qadar, maka apakah yang dimaksud dengan diturunkannya Al-Qur’an pada malam itu? Maka, jawabannya sangat jelas, bahwa urusan yang ditetapkan pada malam Nishfu Sya’ban adalah termasuk masalah penurunan Al-Qur’an. Yakni, kalau Malaikat Maut diberikan daftar nama-nama orang yang akan meninggal dunia setahun kedepan, maka malaikat Jibril diberikan daftar nama-nama surah dan ayat yang akan turun dalam satu tahun kedepan. Ini yang dimaksud turunnya Al-Qur’an pada malam Nishfu Sya’ban, berbeda dengan turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadar, yaitu turun sekaligus ke Langit Dunia di suatu tempat yang disebut Baitul Izzah. Oleh karenanya, surah al-Isra ayat 106 dan al-Mursalat ayat 4, ketika menyatakan turunnya Al-Qur’an secara bertahap, kosa kata yang digunakan adalah derivasi kata “farq (فَرْق),” karena setiap ayat yang turun merupakan bagian dari “kullu amrin hakim” yang di-yufraqu pada malam Nishfu Sya’ban.

Para mufassir lebih jauh lagi mengamati kandungan surah al-Dukhan dan surah al-Qadar. Hal ini karena dalam surah al-Qadar pun terdapat ayat yang menunjukan adanya urusan yang ditetapkan pada Lailatul Qadar. Imam Al-Razi (w. 606 H.), misalnya,  menyimpulkan bahwa konteks kedua surat tersebut berbeda. Surah al-Dukhan yang di dalamnya terdapat Lailah Mubarakah dengan pengertian Sya’ban mempunyai konteks bala, musibah, dan bencana yang telah diberikan kepada orang-orang terdahulu, juga yang akan diturunkan sepanjang sejarah kehidupan manusia setiap tahunnya berdasarkan sebuah ketetapan dari-Nya. Sifat-sifat Allah yang muncul dalam surah al-Dukhan pun melukiskan “qahr” dan “jalal-Nya.” Karena, sekali lagi, konteksnya bencana, seperti kelaparan yang menimpa orang-orang Musyrik Makah sampai seakan-akan mereka melihat asap menutupi langit, serta kekalahan mereka di Badar, yang pada saat surah ini turun bencana tersebut belum terjadi. Tapi pasti akan terjadi, seperti tenggelamnya Fir’aun, serta penindasan yang dilakukan Fir’aun terhadap kaum Nabi Musa, dan seterusnya. Semua bencana telah ditetapkan sebelum terjadinya pada malam Nishfu Sya’ban. Ayat-ayat yang ditetapkan akan turun di malam Nishfu Sya’ban termasuk ayat-ayat adzab. Allah berikan ayat kepada Bani Israi’l yang di dalamnya terdapat bala. Yakni, dengan kata lain, ketetapan Allah yang ditetapkan untuk manusia pada malam Nishfu Sya’ban, kendati memang tidak berarti buruk dan tidak semuanya bencana, lebih mengarah kepada ketetapan bencana, seperti kematian, kehilangan, penyakit, kerugian, kesempitan rizqi, kecelakaan, dan lain-lain sebagaimana dipaparkan contohnya di dalam surah al-Dukhan. Ini karena urusan takdir yang ditetapkan pada malam Nishfu Sya’ban adalah mencakup semua urusan. Tanpa memilah yang baik dan yang buruk. Sehingga, ketika bertemu yang baik dan yang buruk, maka yang tampak adalah yang buruk.
Berbeda dengan surah al-Qadar yang konteksnya kebaikan, kedamaian, dan anugerah. Di dalamnya disebutkan kata khair yang nilai semalamnya melebihi seribu bulan, dan durasi salam-nya (kesejahteraan dan kedamaiannya) penuh sampai akhir fajar. Jika memang kalimat “min kulli amrin” yang terdapat pada ayat keempat surah al-Qadar menunjuk pada ketetapan Allah, maka ketetapan yang dimaksud adalah hanya ketetapan baik. Tidak ada ketetapan yang buruk seperti pada malam Nishfu Sya’ban. Ini tampaknya semacam pujian dari Allah untuk ketetapan-Nya sendiri yang baik sebagai anugerah tabsyir (kabar gembira) kepada orang-orang tertentu. Yakni ketetapan ini telah dikukuhkan pula pada malam Nishfu Sya’ban, tetapi kemudian pada Lailatul Qadar diumumkan lagi sebagai bukti rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, serta mendahului dan mengalahkan murka-Nya. Oleh karenanya, kosakata yang digunakan tak lagi “yufraqu (يُفْرَقُ),” karena memang proses yufraqu-nya sudah dilakukan pada malam Nishfu Sya’ban. Melainkan yang digunakan adalah “tanazzalul malaikat (تَنَزَّلُ المَلآئِكَةُ),” karena lebih bersifat mengumumkan segala urusan baik tersebut oleh para malaikat dan malaikat Jibril dengan cara turun ke bumi. Seakan-akan menyatakan bahwa ketetapan baik tidak akan pernah bisa berubah menjadi buruk, sedang ketetapan buruk masih terus terbuka untuk berubah menjadi baik. Sekali lagi, ini hanya seakan-akan.

Tampak jelas, bahwa malam Nishfu Sya’ban, terlepas dari unsur rahmat dan maghfirah Allah di dalamnya, menjadi malam yang sangat mencekam karena ketetapan buruk tengah diatur untuk setahun kedepan, juga sangat menegangkan karena buku catatan amal setahun ke kebelakang tengah diangkat kepada Allah Swt. untuk dikoreksi dan dinilai, sementara kita tidak tahu apakah akan lulus dengan pujian atau tidak lulus sama sekali. Menunggu hasil UN saja degdegannya setengah mati, apalagi ini. Oleh karenanya, terdapat riwayat yang sahih dari sebagian ulama salaf, misalnya Imam Mujahid bin Jabar (w. 104 H.), murid paling berpengaruh dari sayidina Ibnu Abbas (w. 68 H.) dalam bidang tafsir, yang berdoa kepada Allah di malam tersebut, sebagaimana ditulis Imam al-Thabari (w. 310 H.), dengan doa yang terjemahannya sebagai berikut:

“Ya Allah, jika telah Kautulis namaku dalam daftar orang-orang yang bahagia, maka kukuhkanlah. Dan jika telah Kautulis namaku dalam daftar orang-orang yang celaka, maka hapuslah, dan tulislah kembali dalam daftar orang-orang yang bahagia.”

Yang dilakukan Imam Mujahid (w. 104 H.) dengan doa di atas terdapat contohnya dari Rasulullah Saw. Dalam hal ini, misalnya, beliau berdoa:

‎وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيتَ
“…dan lindungi aku dari takdirmu yang buruk..

Lalu, seiring dengan berakhirnya generasi salaf, kaum muslimin mengalami masa fitnah yang tak mudah. Mereka ditimpa banyak bencana. Mulai dari penindasan pemimpin yang zalim, pembantaian oleh penguasa non muslim, seperti bangsa Mongol di Timur dan kaum Keristen di Barat, sehingga kekhalifahan muslimin pada akhirnya jatuh. Tapi, apa hendak dikata, itu sudah ketetapan Allah bagi mereka. Pahitnya harus terasa manis dengan menerimanya dan berdoa dijauhkan dari keburukannya. Meski tertatih, mereka harus tetap bangun. Lalu mereka menempa diri mereka dengan sebuah mujahadah khusus dalam kerangka tazkitun nafs (pembersihan jiwa) yang panjang untuk menjadi lebih dekat dengan Allah. Rupanya ikhtiar mereka membuahkan hasil, lebih cepat dari yang diperkirakan. Doa mereka didengar Allah dalam sebuah tangga pencapaian spritual yang mereka sebut Kasyaf, sehingga babak baru Islam dimulai dengan corak yang berbeda. Islam pun maju di Nusantara. Karamah yang pada generasi Salaf sangat rahasia, diungkap rahasianya oleh para ulama mereka melalui sebuah  ilmu yang disebut Tasawuf. Yakni menjadi sesuatu yang dapat dipelajari dengan cara mengaktifkan istiqamah dalam mengamalkan Al-Qur’an dan al-Hadits secara total, lahir dan batin. Pada puncaknya, mereka dapat mendekati rahasia takdir pada malam Nishfu Sya’ban melalui Surah Yasin.

Nishfu Sya’ban identik dengan pengukuhan semua ketetapan (takdir) yang akan direalisasi dalam satu tahun kedepan tanpa dipilah antara yang buruk dan yang baik. Hal ini sebagaimana dilukiskan contohnya dalam surah al-Dukhan yang salah satu ayatnya menceritakan pengukuhan tersebut. Isinya sangat mencekam ditambah dengan penampakan sifat-sifat “jalaliyyah” Allah. Berbeda terbalik dengan surah al-Qadar yang menggembirakan dan menampakan “jamaliyyah” Allah. Kalau surah al-Dukhan identik dengan ketetapan bencana, dan al-Qadar identik dengan ketetapan nikmat, maka surah Yasin adalah surah penolak bencana, dan pengubah bencana menjadi nikmat. Posisi Yasin berada di tengah antara al-Dukhan dan al-Qadar. Inilah mengapa surah al-Dukhan dan surah Yasin dijadikan oleh Rasulullah Saw sebagai surah yang harus dibaca dalam shalat menjaga hafalan Al-Qur’an bersama al-Mulk dan al-Sajdah. Yakni, karena shalat tersebut hendak mengubah bencana menjadi nikmat yang, dalam hal ini, menjadikan ayat yang sering lupa menjadi selalu ingat. Dengan kata lain, membawa hafalan Al-Qur’an dari pase al-Dukhan ke pase al-Qadar. Inilah salah satu rahasia mengapa surah Yasin terdiri dari 83 ayat. Yakni, karena angka 83 adalah jumlah tahun Lailatul Qadar. Karena seribu bulan tak lain setara dengan sekitar 83 tahun.

Dalam surah al-Dukhan terdapat kata “mubin (مُبِين)” sebanyak 5 kali, sedang dalam surah Yasin sebanyak 7 kali. Kata “mubin” yang disebut pertama kali dalam al-Dukhan merupakan sifat dari al-Kitab (Al-Qur’an), sedang kata “mubin” yang disebut pertama kali dalam surah Yasin merupakan sifat dari kata Imam yang secara umum menunjuk kepada Lauh Mahfuzh, tempat di mana segala urusan yang telah ditetapkan ditulis dengan terperinci. Hal ini sebaliknya kata “al-hakim (الحَكِيم).” Yakni, dalam surah al-Dukhan dijadikan sifat untuk urusan yang dikukuhkan pada malam Nishfu Sya’ban. Sedang, dalam surah Yasin, dijadikan sifat untuk Al-Qur’an. Ini di antara hubungan yang paling nyata antara al-Dukhan dengan Yasin, atau secara khusus, antara Nishfu Sya’ban dengan Yasin. Yaitu lebih dari sekadar hubungan antara penyakit dengan obatnya.

Dalam surah Yasin terdapat sembilan huruf “fa (ف),” yaitu pada kata “fahum (فَهُمْ)” yang, dalam tradisi Tasawuf, sering disebut Huruf Virus (Bala). Namun orang-orang muslim yang digambarkan perjalanannya dalam surah Yasin dari awal hingga akhir selalu selamat, bahkan ketika sudah terpasung di tiang penyiksaan, Habib al-Najjar masih bisa tersenyum. Sebaliknya, virus tersebut, atau bala dan musibah yang pada awalnya akan dijatuhkan kepada mukminin, berbalik menjadi adzab bagi para munkirin.

Di antara nama Rasulullah Saw adalah al-Syafi’ (الشَّفِيع), pemberi syafaat, baik di akhirat maupun di dunia. Dalam surah al-Anfal ayat 33, misalnya, dijelaskan, bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka (kaum Quraisy) selama Rasulullah Saw berada di tengah-tengah mereka. Yakni, kedudukan beliau sebagai al-Syafii’ dapat menolak adzab atau bala yang akan menimpa suatu kaum. Bukankah Rasulullah Saw selalu hadir sampai-sampai setiap orang yang shalat harus mengucapkan dalam tahiyat; “assalaamu ‘alaika” yang menunjukan beliau hadir di depan mata, bukan “‘alaihi” yang menunjukan ghaib (tidak hadir). Sementara Yasin adalah kata yang menunjukan nama Rasulullah Saw sebagai sosok yang selalu hadir di setiap zaman dan rahasia Allah di alam sebagai penyelamat. Hal ini, kata para sufi, sebagaimana terlihat dari karakter para nabi yang di antara huruf-huruf yang menyusun namanya terdapat huruf ya dan sin, seperi Isa (عيسى), Idris (إدريس), dan Ilyasa (اليسع). Membaca Yasin di tengah bala sama dengan menghadirkan Rasulullah di sana. Ini menyebabkan bala spontan tertolak.

Dalam surah al-Taubah ayat 128 dan 129, Rasulullah Saw disifati dengan tiga sifat Allah, yatiu ‘aziz (عزيز), ra’uf (رؤوف), dan rahim (رحيم). Kata al-Aziz dan al-Rahim kemudin tampil pula dalam surah Yasin ayat ke-5 sebagai dua nama Allah Swt. Yakni, ada munasabah yang kuat antar surah al-Taubah dan surah Yasin. Lalu di mana kata “ra’uf?” Ia tak lain adalah kata Yasin. Ini karena, kata Yasin pun, selain nama bagi Rasulullah Saw, adakalanya dijadikan nama Allah, sebagaimana “ra’uf” adakalanya dijadikan sifat Rasulullah Saw. Kalau Yasin adalah ra’uf, tentu disamping menunjukan kehadiran Raslullah Saw sebagai penyelamat, maka sangat tepat dibaca sebelum berdoa di malam Nishfu Sya’ban, bertawassul dengan surah Yasin, karena secara harfiyah “ra’uf” bersal dari kata “ra’fah” yang berarti “daf’u al-syarr,” menolak keburukan.

Demikian yang menyebabkan Yasin sangat berhubungan erat dengan Nishfu Sya’ban. Bahkan, dalam prakteknya, agar lebih kuat, Yasin dibaca tiga kali untuk tiga hajat sesuai ketegori umum ketepatan Allah pada malam Nishfu Sya’ban. Tampaknya, di malam Nishfu Sya’ban tahun ini, saya, kita, dan Indoensia sangat membutuhkan Yasin untuk ganti presiden 2019 dan bangkit sebagaimana dahulu pernah bangkit setelah mempertemukan surah Yasin dengan malam Nishfu Sya’ban. Bahkan mungkin bukan hanya 3 kali Yasin, tapi 3 juta Yasin.

Wallaahu A’lam

Sadeng, 18 Mei 2016 M.

Bagikan