TARAWEH HAFIZH QURAN LEBIH BAIK DI RUMAH?

TARAWEH HAFIZH QURAN LEBIH BAIK DI RUMAH?
Oleh: @deden_mm

Saya sudah mengetahui masalah tarawehnya hafizh Quran sejak pertama kali belajar menghafal Al-Quran. Tapi baru kali ini saya terdorong menuliskannya karena barangkali ada teman-teman huffazh Quran yang mempunyai keresahan yang sama dengan saya. Yaitu bangkrutnya murojaah hafalan Al-Quran di shalat malam bulan Ramadhan.

Di luar Ramadhan biasanya para hafizh Al-Quran sudah terbiasa mengerjakan Qiyamul Lail dengan bacaan 1 juz semalam atau lebih. Tapi di bulan Ramadhan bacaan Qiyamul Lail-mereka malah berkurang. Karena shalat malam yang biasanya dilakukan sendiri di rumah jadi dilakukan berjamaah di masjid. Yaitu Tarawih. Baik sebagai makmum maupun sebagai imam. Sedang bacaan Tarawih di masjid nyaris tak tembus 1 juz semalam kecuali di masjid-masjid tertentu.

Alhasil, murojaah hafizh Quran menjadi bangkrut di shalat malam bulan Ramadhan. Bukannya malah nambah juznya tapi malah berkurang. Oleh karenanya menjadi penting bagi saya untuk menuliskannya. Apa sebenarnya yang sunnah dilakukan oleh hafizh Quran dalam tarawihnya selama Ramadhan agar bacaan Qurannya tidak bangkrut tapi malah bertambah? Saya akan membahasnya dari perspektif madzhab Syafii.

Shalat Tarawih apabila Anda membaca keterangannya dari kitab-kitab fiqih madzhab Syafii adalah termasuk shalat sunnah yang pelaksanaannya sunnah diberjamaahkan. Jika bacaan kitabnya tidak naik ke kitab yang lebih besar maka siapapun tidak akan tahu kalau ada pengecualian di dalamnya. Yakni, berkesimlulan sunnahnya shalat tarawih di masjid adalah untuk semua orang. Termasuk hafizh Quran. Tapi tidaklah demikian kenyataannya.

Imam Nawawi (w. 676 H.) dalam kitab al-Majmu’ jilid 4 halaman 31 menyatakan bahwa para ulama madzhab Syafii blok Iraq dan sebagian blok Khurasan seperti al-Shaidlani dan al-Baghawi (w. 516 H.) menetapkan adanya perbedaan pendapat tentang keutamaan tarawihnya hafizh Quran. Yakni, dalam kondisi tertentu shalat tarawih para hafizh Al-Quran lebih baik di rumah dengan dua syarat:

1. Shalat tarawih sendiri di rumah lebih semangat dan lebih banyak bacaannya
2. Shalat tarawih berjamaah di masjid tetap berjalan dengan ketiadaan dirinya.

Imam Malik bin Anas (w. 179 H.) yang setiap harinya mengajar di Masjid Nabawi mengatakan: “Rabi’ah dan para ulama kami setelah shalat Isya pada bulan Ramadhan selalu pulang ke rumah masing-masing. Mereka tidak ikut shalat tarawih berjamaah di masjid. Melainkan mengerjakan shalat tarawih sendiri. Maka aku pun tidak tarawih ke masjid.”

Imam al-Syafii (w. 204 H.) setiap malam bulan Ramadhan khatam 30 juz Al-Quran. Demikian pula setiap siangnya. Khatam 30 juz juga. Sehingga dalam 1 bulan khatam sebanyak 60 kali. Tidak dapat khatam Al-Quran dalam satu kali shalat tarawih apabila dilakukan secara berjamaah bersama orang-orang di masjid. Karena bacaan imam harus selalu disesuaikan dengan kemampuan, kesanggupan, dan keridoan kebanyakan para makmum.

Imam al-Syafii (w. 204 H.) berpatokan kepada hadits dari Zaid bin Tsabit (w. 45 H.) yang kemudian diriwayatkan oleh imam Muslim (w. 261 H.) bahwa Rasulullah Saw memerintahkan kepada para sahabat agar mengerjakan shalat malam pada bulan Ramadhan di rumah. Meski, pada waktu itu, yang mereka makmumi adalah Rasulullah Saw. Mereka pun menjalankan perintah beliau Saw.

Umar bin Khatthab punya inisiatif memberjamaahkan shalat tarawih di masjid dengan seorang imam tak lain untuk memudahkan para sahabat yang tak hafal Al-Quran untuk bisa khatam Al-Quran selama Ramadhan. Bahkan hingga berkali-kali. Sebelumnya para sahabat sudah mulai memasjidkan tarawih mereka dengan bermakmum kepada yang hafalan Qurannya lebih banyak. Terjadilah berjamaah yang tidak teratur di masjid dengan kelompok berjamaah yang betebaran.

Yakni, disunnahkannya shalat tarawih secara berjamaah dilatarbelakangi keinginan para sahabat untuk mudah khatam Al-Quran selama Ramadhan. Atau, dengan kata lain, shalat tarawih adalah momentum untuk khataman Al-Qur’an. Bahkan jarang terdengar mereka melakukan khataman kecuali dalam shalat malam. Khususnya Ramadhan. Oleh karenanya, hafizh Al-Quran yang dapat mengkhatamkan Al-Quran di rumahnya lebih banyak dari pada di masjid lebih baik shalat tarawih di rumah.

Demikian. Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Sadeng, 8 Ramadhan 1439

Bagikan