Ketika Rasulullah SAW Datang Ke Madinah Bersama Ibunya

Oleh: KH. Deden Muhammad MakhyaPruddin

بَاب مَا ظهر من الْآيَات عِنْد قدومه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم مَعَ أمه الْمَدِينَة لزيارة أَخْوَاله

أخرج ابْن سعد عَن ابْن عَبَّاس وَعَن الزُّهْرِيّ وَعَن عَاصِم بن عمر بن قَتَادَة دخل حَدِيث بَعضهم فِي بعض قَالُوا لما بلغ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم سِتّ سِنِين خرجت بِهِ أمه إِلَى أَخْوَاله بني عدي بن النجار بِالْمَدِينَةِ تزورهم وَمَعَهُ أم أَيمن فَنزلت بِهِ فِي دَار النَّابِغَة فأقامت بِهِ عِنْدهم شهرا فَكَانَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم يذكر أمورا كَانَت فِي مقَامه ذَلِك وَنظر إِلَى الدَّار فَقَالَ هَا هُنَا نزلت بِي أُمِّي وأحسنت العوم فِي بِئْر بني عدي بن النجار وَكَانَ قوم من الْيَهُود يَخْتَلِفُونَ ينظرُونَ إِلَيْهِ قَالَت أم أَيمن فَسمِعت احدهم يَقُول هُوَ نَبِي هَذِه الْأمة وَهَذِه دَار هجرته فوعيت ذَلِك كُله من كَلَامهم ثمَّ رجعت بِهِ امهِ الى مَكَّة فَلَمَّا كَانَت بالابواء توفيت

وَأخرج أَبُو نعيم من طَرِيق الْوَاقِدِيّ عَن شُيُوخه مثله وَزَاد قَالَ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فَنَظَرت إِلَى رجل من الْيَهُود يخْتَلف ينظر إِلَيّ فَقَالَ لي يَا غُلَام مَا اسْمك قلت أَحْمد وَنظر إِلَى ظَهْري فأسمعه يَقُول هَذَا نَبِي هَذِه الْأمة ثمَّ رَاح إِلَى اخوالي فَأخْبرهُم فاخبروا امي فخافت عَليّ وَخَرجْنَا من الْمَدِينَة وَكَانَت ام ايمن تحدث تَقول أَتَانِي رجلَانِ من يهود يَوْمًا نصف النَّهَار بِالْمَدِينَةِ فَقَالَا اخْرُجِي لنا احْمَد فَأَخْرَجته فَنَظَرا إِلَيْهِ وقلباه مَلِيًّا ثمَّ قَالَ احدهما لصَاحبه هَذَا نَبِي هَذِه الْأمة هَذِه دَار هجرته وسيكون بِهَذِهِ الْبَلدة من الْقَتْل والسبي أَمر عَظِيم قَالَت ام أَيمن ووعيت ذَلِك كُله من كَلَامهمَا

Terjemah

Bab Tanda-tanda Kekuasaan Allah yang Tampak pada Saat Kedatangan Rasulullah Saw ke Madinah Bersama Ibunya untuk Mengunjungi Paman-pamannya.

Ibn Sa‘d mengemukakan riwayat dari Ibn Abbas, dan dari al-Zuhri, juga dari Ashim bin ‘Umar bin Qatadah. Hadits sebagian mereka masuk kedalam hadits sebagian yang lain. Mereka berkata: Ketika usia Rasulullah Saw mencapai enam tahun, beliau dibawa ibunya untuk mengunjungi paman-pamannya dari BanI Adi bin al-Najjar di Madinah. Bersama beliau ada Ummu Aiman. Ibunya membawa beliau singgah di desa al-Nabighah dan bermukim di sana selama satu bulan. Rasulullah Saw pernah menyebutkan kejadian-kejadian yang beliau alami selama bermukim di sana seraya melihat ke arah rumah yang beliau singgahi. Beliau bersabda: “Di sini ibuku membawaku singgah dan aku bisa menyelam di sumur Bani Adi bin al-Najjar.” Ada suatu kaum dari Yahudi bergantian melihat beliau. Ummu Aiman berkata: “Aku mendengar salah seorang dari mereka berkata: Dialah nabi umat ini dan inilah tempat hijrahnya. Aku hafal semua ucapan mereka.” Lalu ibunya membawa beliau pulang ke Makkah. Ketika sampai ke suatu daerah (tempat) yang bernama al-Abwa, ibunya meninggal dunia.

Abu Nu‘aim mengemukakan riwayat semisal riwayat Ibn Sa‘ad di atas melalui jalur al-Waqidi dari guru-gurunya. Hanya saja Abu Nu‘aim menambahkan: Rasulullah Saw bersabda: “Aku melihat seorang Yahudi bulak-balik melihatku. Dia berkata kepadaku: “Wahai anak manis, siapa namamu? Aku menjawab: Ahmad. Dia melihat punggungku dan aku mendengar dia berujar: Inilah nabi umat ini. Kemudian dia menemui paman-pamanku seraya menyampaikan kepada mereka apa yang dilihatnya dariku. Lalu mereka memberitahukannya kepada ibuku. Ibuku menjadi takut terjadi sesuatu padaku. Dan kami pun keluar dari Madinah.” Ummu Aiman pernah bercerita seraya berkata: “Pada suatu hari dua orang Yahudi mendatangiku selama setengah hari di Madinah. Mereka bekata: Perlihatkan Ahmad kepada kami. Lalu aku mengeluarkan beliau. Lalu mereka melihat ke beliau dan membulak-baliknya beberapa saat. Salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: Inilah nabi umat ini dan inilah tanah hijrahnya. Di negeri ini akan terjadi pembunuhan dan penangkapan tawawan yang besar.” Ummu Aiman berkata: “Aku hafal semua ucapan mereka.”

Penjelasan

Narasi hadits yang dikemukakan Ibn Sa‘d (w. 230 H.) dan Abu Nu‘aim (w. 430 H.) di atas tampak bercampur antara satu sama lain sebagaimana diakui oleh pengarang kitab al-Khashâ’ish al-Kubra ini, Imam al-Suyuthi (w. 911 H.). Intinya tanda kenabian beliau sudah diketahui oleh Yahudi di Madinah semenjak usia beliau 6 tahun. Sekaligus menjadi diketahui oleh beliau sendiri, juga oleh Ummu Aiman, ibunya, dan paman-pamanya dari ucapan Yahudi yang bulak-balik melihat beliau. Hal ini tak lain kedatangan beliau ke Madinah pada usia 6 tahun itu untuk suatu tujuan yang besar dari Allah di kemudian hari.

Dua riwayat yang dikutip Imam al-Suyuthi (w. 911 H.) sekaligus mengungkap sejumlah fakta, yaitu:

Sosok Ummu Aiman
Siapakah Ummu Aiman yang menjadi saksi bakal kenabian Rasulullah Saw di kemudian hari yang dia hafal betul dari ucapan Yahudi di Madinah? Ummu Aiman adalah wanita hebat. Dia adalah saksi hidup perjuangan Rasulullah Saw., semenjak beliau masih dalam kandungan sampai beliau wafat. Nama aslinya Barkah. Dia berasal dari Habasyah (Etiopia). Dalam kitab Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughah, Imam Nawawi (w. 676 H.) mengutip pernyataan Qadhi Iyadh (w. 544 H.), bahwa tidak ada ulama yang menyebut Ummu Aiman berkulit hitam meski berasal dari Habasyah kecuali Ahmad bin Sa‘id al-Shadafi. Ummu Aiman jatuh ke tangan kakek Rasulullah Saw, Abdul Muthalib sebagai budak dari tangan pasukan Gajah dari Habasyah yang dipimpin Abrahah pada tahun kelahiran Rasulullah Saw., atau disebut Tahun Gajah. Kemudian Ummu Aiman diberikan kepada ayah Rasulullah Saw, Abdullah bin Abdul Muthalib bersama lima ekor unta. Lalu menjadi pelayan ibunda Rasulullah Saw setelah ayah beliau wafat saat beliau dalam kandungan. Ummu Aiman kemudian tampil menjadi wanita yang membantu persalinan Siti Aminah, dan terus berlanjut penjadi pengasuh Rasulullah Saw sampai dewasa. Termasuk ketika menemani perjalanan Siti Aminah ke Madinah bersama Rasulullah Saw saat usia 6 tahun.

Tidak diketahui tahun berapa Ummu Aiman lahir. Juga tidak diketahui umur berapa saat Ummu Aiman menjadi budak Abdul Muthalib dan ketika mengasuh Rasulullah Saw. Namun, tampaknya Ummu Aiman belum punya anak, bahkan belum menikah sampai Rasulullah Saw berusia 25 tahun, yaitu ketika beliau menikah dengan Siti Khadijah. Jadi saat itu namanya bukan Ummu Aiman (Ibu Aiman) karena belum punya anak yang bernama Aiman. Ummu Aiman menikah dengan Ubaid bin Zaid dari Bani al-Harits setelah dibebaskan oleh Rasulullah Saw dari kebudakannya pada saat beliau menikah dengan Siti Khadijah. Dari pernikahannya itu lahir seorang anak laki-laki bernama Aiman yang kemudian menjadi teman Rasulullah Saw dalam berdakwah sebelum akhirnya syahid dalam perang Hunain tahun depalan Hijrah.

Selanjutnya Ummu Aiman menikah dengan Zaid bin Haritsah, putra angkat Rasulullah Saw. yang sangat beliau cintai. Lalu lahir seorang sahabat Rasulullah Saw yang sangat hebat bernama Usamah bin Zaid. Ummu Aiman sangat dekat dengan Rasulullah Saw sampai beliau memanggilnya “Ibu.” Beliau pernah bersabda: “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.” Ummu Aiman pun betul-betul mengetahui Rasulullah Saw dari kecilnya, sampai kesehariannya. Ummu Aiman termasuk yang langsung beriman kepada Rasulullah Saw. Bagaimana tidak bahkan Ummu Aimah telah mengetahui tanda bakal kenabian Rasulullah Saw dari kecil. Ia pernah ikut hijrah ke Habsyah lalu ke Madinah. Dikisahkan Ummu Aiman hijrah dalam keadaan puasa dan kehausan. Lalu diberikan seember air lalu meminumnya. Setelah itu, kata Ummu Aiman: “Saya tidak pernah haus lagi.” Ummu Aiman pun hadir di peperangan bersama Rasulullah Saw termasuk di Uhud dan Khaibar. Ummu Aiman berumur panjang sampai menyaksikan Rasulullah Saw wafat. Tangis Ummu Aiman tak dapat dibendung mendapatkan kenyataan putra terbaik manusia yang diasuhnya dari kecil telah tiada untuk selamanya: “Aku menagis bukan karena kematiannya, tapi karena terputusnya wahyu.” Ummu Aiman wafat 5 bulan setelah Rasulullah Saw wafat. Ada yang mengatakan wafat pada masa awal pemerintahan Utsman bin Affan. Tapi tidak shahih.

Dalam kitab al-Thabaqât al-Kubrâ jilid 8 halaman 181, Ibn Sa‘d (w. 230 H.) meriwayatkan bahwa Hasan bin Usamah, cucu Ummu Aiman dimusuhi oleh Ibnu Abi al-Furat, mantan budak Usamah bin Zaid. Ibn Abi al-Furat berkata: “Hai anak Barkah.” Hasan lalu melaporkan Ibn Abu al-Furat ke hakim Madinah saat itu, Abu Bakar bin Muhammad, atas ucapannya. Lalu Abu Bakar bin Muhammad berkata kepada Ibn Abi al-Furat di persidangan: “Apa maksudmu dengan kalimat “anak Barkah?” Ibn Abi al-Furat berkata: “Aku menyebut neneknya Hasan dengan nama aslinya.” Lalu Abu Bakar bin Muhammad berkata” “Tidak. Tapi maksudmu adalah menghinakannya. Kita tahu neneknya Hasan punya posisi dan kedudukan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah memanggilnya dengan panggilan hai Ummu Aiman, hai Ibu. Tapi kamu berani memanggilnya dengan menyebut namanya.” Lalu Abu Bakar bin Muhammad memberikan hukuman 70 cambuk kepada Ibn Abi al-Furat. Kisah ini terjadi pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Rasulullah Saw punya kerabat di Madinah.
Kita semua sudah mengetahui bahwa Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Tapi, berdasarkan riwayat ini, kedatangan beliau ke Madinah saat hijrah bukanlah kedatangan beliau yang pertama. Karena jauh sebelumnya beliau pernah ke kesana bersama ibundanya. Hubungan Rasulullah Saw dengan Madinah terjalin sejak kecil karena di sana ada kerabat beliau. Yaitu kabilah Bani ‘Adi bin al-Najjar al-Khazraji. Meraka adalah keturunan al-Najjar. Nama aslinya, sebagaimana dalam kitab Tâj al-‘Arûs jilid 14 halaman 181 dan 182, adalah Tsa‘labah bin ‘Amr bin al-Khzraj. Disebut al-Najjar yang secara harfiyah berarti penembang kayu karena Tsa‘lah pernah memukul wajah seseorang bernama al-‘Atr dengan sebuah kapak besar untuk menebang kayu sampai mati. Kekerabatan Rasulullah Saw dengan mereka adalah hubungan paman dari ibu. Disebut khâl (خَال). Jamaknya akhwâl (أَخْوَال). Tapi paman dari ibu yang dimaksud bukan dari Siti Aminah. Tapi dari kekek beliau, Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ibu Abdul Muthalib, atau istri Hasyim bin Abdi Manaf adalah seorang perempuan dari Bani Adi bin al-Najjar. Yaitu bernama Salma binti ‘Amr bin Zaid bin Labid bin Khidasy bin Haram bin Jundab bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin al-Najjar.

Ketika ayah Rasulullah Saw, Abdullah bin Abdul Muthalib pulang berdagang dari Syam bersama romobongan dagang Quraisy, tiba-tiba sakit lalu singgah di paman-paman-nya dari Bani Adi bin al-Najjar di Madinah untuk dirawat sementara rombongan terus melanjutkan perjalan pulang ke Mekkah. Sesampainya di Mekah mereka menyampaikan kepada Abdul Muthalib bahwa Abdullah sakit lalu dirawat di Bani Adi bin al-Najjar dan tidak bisa ikut pulang bersama rombongan. Abdul Muthalib lalu berangkat menjenguknya tapi sesampainya di sana Abdullah sudah meninggal dan dikebumikan di sebuah rumah kecil malik salah seorang dari Bani Adi bin al-Najjar yang bernama al-Nabighah. Ke tempat inilah tujuan Rasulullah Saw dibawa oleh ibunya bersama Ummu Aiman saat beliau berusia enam tahun. Beliau dibawa oleh ibunya singgah di rumah al-Nabighah karena merupakan tempat pusara ayahnya. Beliau menetap di Bani Adi bin al-Najjar selama 1 bulan. Bahkan layaknya anak-anak pada umumnya, beliau bermain bersama anak-anak Bani Adi bin al-Najjar. Belau belajar beranang dan menyelam sampai mahir di sumur Bani Adi bin al-Najjar. Berarti sumur mereka pun besar seperti kolam dan melimpah airnya, bukan kecil dan dalam seperti di kita.

Keceriaan Rasulullah Saw di Bani Adi bin al-Najjar hanya berlangsung 1 bulan. Dari riwayat ini, tampaknya Siti Aminah tidak berniat cepat-cepat pulang ke Mekkah. Tapi setelah Yahudi Madinah terlihat menyelidiki dan mengawasi Rasululah Saw, Siti Aminah merasa keberadaan Rasulullah Saw bersamanya di Madinah tidak aman lagi sehingga mendorong untuk segera pulang. Di tambah lagi dengan ramalan bahwa Rasulullah Saw, kendati dibawa pulang ke Mekah, pada akhirnya nanti akan datang lagi ke Madinah sebagai seorang nabi yang besar yang dinantikan kehadirannya, lalu betemu lagi dengan paman-pamannya. Dalam perjalanan pulang, ketika sampai di suatu tempat yang bernama al-Abwa, Siti Aminah jatuh sakit lalu meninggal dunia dan dikebumikan di sana. Tinggalah Rasulullah Saw yatim-piatu bersama Ummu Aiman. Al-Abwa adalah suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Jaraknya dari Madinah sekitar 170 km dan jaraknya dari Mekah sekitar 200 km. Termasuk wilayah Rabeg. Sejak dahulu di sana sudah ada perkampungan. Di kampung tersebut dikebumikan ibunda Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw hijrah ke Madinah, Bani Adi bin al-Najjar termasuk dari kabilah al-Khazraj yang beriman dan bahu membahu menolong beliau bersama suku-suku dan kabilah-kabilah Arab di Madinah yang lain. Disebut shahabat Anshor. Beliau pun berkunjung ke perkampungan Bani Adi bin al-Najjar. Beliau masih ingat tempat-tempat yang dahulu disinggahi bersama ibundanya. Khususnya rumah al-Nabighah yang di dalamnya terdapat pusara ayah beliau dan sumur tempat beliau berenang dan menyelam. Persis di dua tempat tersebut kemudian dibangun masjid. Disebut Masjid Dar al-Nabighah dan Masjid Bani Adi. Dalam sebuah riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Syabah (w. 262 H.) dalam Târikh al-Madînah jilid 1 halaman 64 dan 65 saat menjelaskan situs-situs masjid di Madinah, bahwa Rasulullah Saw shalat di Masjid Dar al-Nabighah dan mandi dan shalat di Masjid Bani Adi.

Keberadaan Yahudi di Madinah
Pada tahun kemunculan Rasulullah Saw sebagai nabi, di Madinah banyak Yahudi. Khususnya Yahudi keturunan Nabi Harun. Yang mendorong mereka berimigrasi dari negeri-negeri mereka, yaitu Syam dan sekitarnya, ke wilayah Madinah tak lain karena mereka mengetahui dari kitab suci mereka bahwa Nabi yang akan menyelamatkan mereka dari penindasan bangsa-bangsa penindas akan muncul di wilayah itu. Mereka sudah menunggu di situ sejak lebih kurang dari 500 tahun sebelum Masehi. Sedang Rasulullah Saw lahir pada tahun 571 Masehi. Yakni, sampai Rasulullah Saw datang ke Madinah bersama ibunya, mereka sudah menunggu di situ lebih dari seribu tahun dan telah melewati generasi demi generasi. Karenanya mereka tidak membuang kesempatan untuk melihat dan mengamati tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah Saw yang sebelumnya hanya mendengar berita tentang kelahirannya di Makkah.

Wallâhu A‘lam

Bagikan