
JENDERAL GATOT BENAR, ULAMA DISEJAJARKAN DENGAN MALAIKAT
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
Dalam beberapa pidatonya tentang keutamaan ulama, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sering mengungkapkan “para ulama disejajarkan dengan para malaikat” yang disandarkan kepada surah Ali Imron ayat 18. Seperti apakah sebenarnya surah Ali Imron ayat 18? Dan dari mana Sang Jenderal itu mendapatkan kesimpulannya?
Berikut kutipan ayatnya
شَهِدَ اللّهُ أنَّهُ لاَ إلَهَ إِلاَّهُوَ، وَالمَلآئِكَةُ وَأُولُو العِلْمِ قَائِمًا بِالقِسْطِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّهُوَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Di atas adalah terjemahan surah Ali Imran ayat 18 dari Kementrian Agama. Yang diterjemahkan dengan “menyatakan” adalah kata syahida (شَهِدَ). Kata Imam al-Mawardi (w. 450 H.) dalam al-Nukat wa al-‘Uyun, makna syahida pada ayat ini ada tiga. Yaitu menetapkan, menyatakan, dan bersaksi. Dan yang dipilih oleh Tim Penerjemah Al-Quran Kementrian Agama RI adalah pendapat yang kedua. Yaitu “menyatakan.” Tapi tampaknya, jika diberikan uraian, ketiga-tiganya tepat dan saling menguatkan. Yaitu tentang kesaksian La Ilaha Ilallah. Sebut saja “Syahadah Tauhid.”
Santri yang lulus di sebuah pondok pesantren biasanya diberikan Syahadah yang menyatakan kelulusannya. Di sekolah umum disebut Ijazah. Bobotnya ditentukan siapa yang mengeluarkan dan siapa yang menandatanganinya. Semakin yang mengeluarkannya punya kualitas dan otoritas maka semakin berbobot Syahadah-nya. Bukan hanya kelulusan, bahkan apapun bisa disyadahkan. Namun secara umum menunjukan bahwa yang disyahadahkan adalah sesuatu yang besar, penting dan istimewa.
Bagaimana bila yang mengeluarkan syahadah itu Allah, dan Allah sendiri yang “menulis” nama-Nya di syahadah itu? Tentu tidak ada lagi yang melebihinya. Surah Ali Imron ayat 18 ini menjelaskan bahwa ada pernyataan yang langsung Allah sendiri yang mensyahadahkannya. Tidak ada yang lain. Dan hanya satu pernyataan. Yaitu kalimat (pernyataan) la ilaha illallaah. Tiada tuhan selain Allah. Menunjukan betapa besar kalimat itu dan benar-benar nyata kebenarannya. Allah tidak pernah mensyahadahkan selainnya. Dan tidak berhak selain Allah mensyahadahkannya kecuali siapa yang Allah beri hak karena kapasitasnya.
Dalam penggalan berikutnya dari ayat 18 surah Ali Imron, Allah menyatakan: “Dan para malaikat dan ulul ilmi.” Yakni bahwa tidak ada yang berkapasitas mensyahadahkan pernyataan besar tersebut kecuali para malaikat dan ulul ilmi. Ulu artinya para pemilik, dan al-ilmi artinya ilmu. Yakni para ulama yang bertanggungjawab pada ilmunya. Tidak disebut pemilik kecuali benar-benar menguasainya. Dari sinilah muncul pernyataan dari Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa para ulama disejajarkan dengan para malaikat dalam Ali Imron ayat 18.
Bahkan, sebagaimana telah penulis uraikan, ulama disejajarkan dengan para malaikat dalam hal yang paling besar di mana tidak ada selain mereka yang diberikan hak. Yaitu Syahadah Tauhid.
Dalam kitab al-Fawaid al-Makkiyyah halaman 3 karya Syaikh Alawi bin Ahmad bin Abdurrahman tentang keutamaan ulama, yaitu pada pembahasan Al-Muqaddimah (Pendahuluan) baris ke 5 sampai ke 7, bahwa dari sekian banyak ayat dan hadits tentang keutamaan ulama, surah Ali Imran ayat 18 adalah yang pertama kali disebutkan. Seakan tidak perlu ayat lain untuk mengetahui keutamaan ulama. Cukup satu ayat ini saja. Syaikh Alawi mengatakan: “Cukuplah kemuliaan bagi ulama ketika Allah memulai dengan diri-Nya, lalu para malaikat, lalu para ulama dalam Syahadah Tauhid.
Penyandingan ulama dengan malaikat diungkapkan menggunakan huruf athaf (kata sambung) “wawu” yang dalam bahasa Indonesia artinya “dan.” Bukan menggunakan huruf athaf yang menunjukan pengurutan seperti fa. Keadaan ini menunjukan yang disebutkan pertama kali, yaitu malaikat, tidak berarti lebih dahulu dari yang disebutkan belakangan, yaitu ulul ilmi. Yakni, penyandingan ini adalah penyandingan kesejajaran dan kesetaraan.
Dalam hal ini Sang Jenderal sering mengatakan “para ulama disejajarkan dengan para malaikat.” Adakalanya mengatakan: “… disetarakan dengan para malaikat.” Bahkan, secara hiperbola, kadang mengatakan: “… sama dengan malaikat.” Atau “disamakan dengan malaikat.” Bisa jadi orang yang belum membaca uraian saya ini malah menjadi salah faham. Tapi Jenderal benar, ulama disejajarkan dengan para malaikat dalam surah Ali Imron ayat 18. Hapirbola hanya ta’zhim beliau yang juga hiperbola kepasa para ulama.
Wallaahu A’lam
Lirboyo, 15 Maret 2018
(Visited 228 times, 1 visits today)




