RAMADHAN: BULAN SUCI DAN MENSUCIKAN
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
Allah Swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ القُرْآنُ هُدًى لِلنّاسِ,,, ( البقرة: ١٨٥)
Dari 12 nama bulan dalam kalender hanya Ramadhan yang disebutkan namanya dalam Al-Qur’an. Yaitu pada surah al-Baqarah ayat 185 yang berdasarkan tarikh Nasikh-Mansukh turun sekitar tiga tahun atau lebih lama lagi setelah ayat kewajiban puasa turun. Kronologinya, kurang lebih sebagai berikut.
Sejak tahun pertama diwajibkannya puasa, Rasulullah Saw dan para sahabat sudah mulai mengerjakan puasa Ramadhan. Namun nama Ramadhan belum disebutkan dalam ayat. Tatat cara puasa pun masih belum difahami seragam. Demikian pula pada tahun kedua nama Ramadhan belum juga disebut dalam ayat. Tapi, meski belum final, tata cara puasa sudah mulai teratur. Baru, di tahun ketiga puasa, nama Ramadhan disebutkan dalam Al-Qur’an dengan turunnya surah al-Baqarah ayat 185 sekaligus menandai final-nya aturan tentang puasa seperti yang kita jalankan sekarang.
Ramadhan memang hanya sebuah nama bulan. Tapi, tentu, nama yang langsung dikukuhkan oleh ayat prihal keberadaannya, bahkan dinyatakan sebagai bulan diturunkan Al-Qur’an, nilainya melebihi nama-nama bulan yang lain. Sama halnya dengan nama Zaid (زيد) sebagai satu-satunya nama sahabat yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tepat rasanya dalam tradisi kita menyebut Ramadhan dengan Bulan Suci. Kesuciannya bahkan terlihat dari namanya. Bukankah huruf-huruf yang menyusun kata Ramadhan (رمضان) merupakan huruf-huruf yang menjadi pembuka surat Al-Qur’an kecuali huruf Dhad (ض)?
Abu Bakar al-Shiddiq mengatakan, “Setiap Kitab Suci memiliki rahasia, dan rahasia Al-Quran ada pada huruf-huruf pembuka surat.” Jika huruf-huruf pembuka surah tersebut kemudian menyusun kata Ramadhan maka rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya pun ikut tersusun pula dalam kata Ramandhan. Kehadiran Dhad (ض) di tengah-tengah kata Ramadhan, bukan Shad (ص) yang, padahal, merupakan salah satu huruf pembuka surat, menjadi semakian kuat menggambarkan kesuciannya. Karena, Dhad (ض) menggambarkan lisan Rasulullah Saw yang fasih di mana semua manusia tidak akan pernah bisa mengucapkan huruf Dhad (ض) sefasih beliau.
Ramadhan ibarat ruang yang setiap jengkal bagiannya terisi penuh dengan Al-Qur’an. Ini sebagaimana terlihat dari kata fiihi (فيه) pada penggalan ayat 185 surah Al-Baqarah (أنزل فيه القرآن). Yakni Al-Qur’an diturunkan “fiihi:” di dalam Ramadhan. Dengan kata lain, Ramadhan ibarat wadah besar berisi Al-Qur’an setelah Al-Qur’an turun ke dalamnya seperti turunnya hujan. Oleh karenanya, kosakata untuk diturunkannya Al-Qur’an sama dengan kosakata untuk diturunkannya hujan, yaitu anzla (أنزل). Hal ini, sama sekali, tidak menafikan fakta Al-Qur’an turun pula di bulan-bulan selain Ramadhan. Karena, turunnya Al-Qur’an di selain Ramadhan tidaklah “fiihi,” yakni tidak menjadikan bulan tersebut tempatnya Al-Qur’an. Oleh karenanya, kosakata yang digunakan untuk turunnya Al-Quran di selain Ramadahan bukan anzala (أنزل), tapi nazzala (نزل).
Dalam Al-Qur’an, diturunkannya Al-Qur’an tidak dihubungkan dengan tempat, tapi dengan waktu, yakni Ramadhan. Terlebih konteksnya anzala (أنزل), bukan nazzala (نزل). Hal ini, karena waktu tidak dibatasi tempat. Kalau turunnya Al-Qur’an dihubungkan dengan tempat, bukan waktu, maka Indoensia, misalnya, tidak akan kebagian kehormatan diturunkannya Al-Qur’an. Tapi, karena turunnya Al-Qur’an dihubungkan dengan waktu, yaitu Ramadhan, maka setiap tempat di belahan bumi ini yang dilewati Ramadhan, akan kebagian berkah dan kemuliaan turunnnya Al-Qur’an. Ini, karena, Ramadhan yang melintasi Mekkah dan Madinah dahulu sama dengan Ramadhan yang melintasi Bogor dan Jakarta sekarang, misalnya. Bulan yang dilihat di Saudi Arabia sama dengan bulan yang dilihat di Indoensia.
Keberadaan Al-Qur’an di dalam Ramadhan menyebabkan Ramadhan semakin suci. Karena Al-Qur’an yang berada di dalamnya suci, serta tidak disentuh kecuali oleh makhluk-makhluk yang disucikan. Malamnya, siangnya, bulannya, mataharinya, udaranya, oksigennya, anginnya, tanahnya, dan lain-lainnya, yakni segala yang dilintasinya, semuanya suci, karena semuanya menjadi ber-ayat dengan kebaradaan Al-Quran di dalamnya. Udara yang dihirup seseorang pada bulan Ramadhan adalah udara ayat. Oksigen Al-Qur’an. Angin yang membelai lembut adalah angin ayat. Ibadah yang dilakukan di bulan Ramdhan dua kali lipat pahalanya. Otak yang biasanya dipakai menghafal Al-Qur’an, maka, pada bulan Ramadhan, kecerdasannya meningkat dua kali lipat.
Dengan demikian, sebagaimana air, Ramadhan pun, selain suci, juga mensucikan. Umrah di bulan Ramadhan setara dengan berhaji bersama Rasulullah Saw. Umrah dapat menghapus dosa. Haji pun dapat menghapus, bahkan lebih menghapus lagi. Bisa di bayangkan, bagaimana kalau hajinya dilakukan bersama Rasulullah Saw. Sudah pasti dosa terkikis sampai ke akar-akarnya. Shalat malam, jika lakukan di bulan Ramadhan, atau disebut Tarawih, akan menghapus segala dosa yang telah lalu. Bahkan, kata Ibnu Hajar, termasuk dosa besar. Demikian pula puasa di bulan Ramadhan, selain mempunyai pahala wajib, juga menghapus segala dosa yang telah lalu. Belum lagi pahala membaca Al-Qur’an, istighfar, sedekah, dan doa. Ramadhan benar-benar bulan yang thahir muthahhir, suci dan mensucikan.
Ibadah inti di bulan Ramadhan adalah puasa. Hal ini, karena, Ramadhan adalah rahasia sebagaimana terlihat dari huruf-huruf yang menyusunnya, dan puasa pun rahasia. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Puasa hanya untuk-Ku.” Berbeda dengan ibadah yang lain. Sangat tepat, ibadah yang pahalanya rahasia dilakukan di bulan yang menyimpan banyak rahasia. Di antara rahasia yang disimpan Ramadhan, selain makna batin dari Al-Qur’an, adalah Lailatul Qadar. Sangat rahasia. Lalu, rahasia Ramadhan, Lailatul Qadar, juga Al-Qur’an, bisa tersingkap bagi orang yang puasanya telah dikatakan oleh Allah kepadanya: fa innahu lii (فإنه لي). Ini tingkat kesucian yang paling tinggi.
Dinyatakan pada ayat 183, bahwa puasa diwajibkan untuk mencapai la’allakum tattaqun (لعلكم تتقون). Ini sangat tepat bila diwajibkan pada bulan Ramadhan, karena Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sedang Al-Qur’an, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 2 surah al-Baqarah, adalah hudan lil muttaqin (هدى للمتقين), petunjuk bagi orang-orang yang muttaqin. Yakni, bertemu antara Puasa dan Ramadhan dalam hal sama-sama mencetak muttaqin. Oleh karenanya, dalam ayat 185 tentang Ramadhan, Al-Quran disebut hudan li al-nas (هدى للناس), bukan hudan lil muttaqin (هدى للمتقين). Ini, karena, menusia biasa, di bulan Ramadhan, dapat menyerap hidayah Al-Qur’an, karena puasa tengah membentuknya menjadi muttaqin.
Marhaban Ya Ramadhan
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Demikian
Wallahu A’lam
Sadeng, 31 Mei 2016




