KAMI (Tafsir Surah Al-Qadr Ayat 1 Bagian 2)

KAMI
(Tafsir Surah Al-Qadr Ayat 1 Bagian 2)
Oleh: @deden_mm

Pada surah al-Qadar ayat 1 ini terdapat dua kata na (نَا). Yaitu pada kata inna (إِنَّا) dan pada kata anzalna (أَنْزَلْنَا). Dalam Ilmu Nahwu kata nahwu (نَحْنُ) atau na (نَا) menunjuk pada mutakallim ma’al ghair. Dalam istilah bahasa Indonesia disebut orang petama jamak. Artinya “kami” dan atau “kita.” Yakni menunjukan yang berbicara tidaklah sendiri.

Dalam banyak ayat Al-Quran Allah Swt sering menyebut diri-Nya dengan kata “kami.” Bukan berarti Allah banyak. Tapi disebut dalam ilmu Nahwu dengan “mu’azhim nafsah” atau “mu’azhzham nafsuh.” Yaitu mengagungkan diri. Kata “kami” yang menunjukan pengagungan dalam terjemahan bahasa Indonesia ditulis dengan huruf K besar (Kami).

Tampilnya Allah sebagai yang mengagungkan diri pada surah al-Qadar ayat 1 tak lain karena hendak menyampaikan pesan agung bahwa betapa agung objek yang diturunkan pada malam yang agung itu. Yaitu Al-Quran. Sedemikian agungnya sampai-sampai Allah ketika membicarakan proses penurunannya menyebut diri-Nya dengan kata “Kami.” Tentu, siapapun yang berinteraksi dengannya akan menjadi agung di mata Allah.

Imam Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H.) mempunyai padangan yang lebih luas tentang kata ganti “Kami” yang menunjuk pada Allah Swt dalam Al-Quran. Yaitu sebuah pandangan yang belum pernah dicetuskan ulama sebelumnya dan terus menginspirasi ulama setelahnya, termasuk di Indonesia dipopulerkan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Bahwa ketika Allah menyebut diri-Nya dalam Al-Quran dengan kata “Kami,” misalnya tentang menurunkan Al-Quran, maka selain menyimpan makna pengagungan, Allah hendak menyampaikan pesan tersirat bahwa bukan diri-Nya langsung yang menurunkannya. Melainkan melalui penugasan kepada makhluk-makhluk-Nya yang lain.

Yakni ada kebersamaan dan keterlibatan makhluk-Nya. Dan benar. Al-Quran turun kepada Rasulullah Saw bukan langsung Allah yang menyampaikannya kepada beliau. Tetapi melalui penugasan malaikat Jibril dan para malaikat Safarah Kiramin Bararah. Oleh karenanya dalam surah al-Qadar ini Allah menyebutkan “Kami.”

Allah Swt, dengan kata “Kami,” hendak meberikan pelajaran kepada yang diberikan Al-Quran agar jangan pernah mengabaikan peran selainnya walau sedikit dalam segala hal. Bahkan, meski Allah tidak membutuhkan bantuan makhluknya sedikit pun dalam segala hal, tetap Allah melakukan penugasan, dan setelah tugas itu dilaksanakan, maka Allah tak lantas melupakan peran yang melaksanakan tugas itu, melainkan tetap menertakannnya bersama diri-Nya. Lalu Allah Swt katakan: “Kami.”

Ketika Anda membaca tulisan saya ini maka dalam waktu yang bersamaan telah banyak orang lain yang terlibat dalam merealisakikan kegiatan membaca Anda. Anda tentu tidak akan dapat membaca tulisan saya kecuali pegang handphon maka Anda punya hutang jasa kepada pembuat dan penjual handphon beserta semua elemen yang terlibat di dalamnya, semua rangkaian prosesnya, dan semua rantai jaringannya.

Bayangkan berapa ribu orang terlibat dalam penyediaan handphon tersebut sampai ke tangan Anda. Belum lagi kuota internat. Lalu uangnya dari mana. Dan lain-lainnya. Baru dilacak sampai situ saja sudah terbayang jutaan tangan orang telah terlibat dalam proses mewujudkan kegiatan Anda membaca tulisan saya. Allah Swt memberikan contoh dengan kata “Kami” dalam Al-Quran bahwa jangan pernah melupakan peran mereka walau sedikit. Yakni, ketika kita sukses, jangan pernah pelit berbagi dengan mereka.

Al-Quran telah turun sejak lebih dari 1439 tahun yang lalu. Entah berapa juta tangan lintas generasi untuk kemudian Al-Quran sampai ke tangan kita dalam bentuk mushaf yang dapat kita baca dan hafalakan seperti sekarang. Kata “Kami” pun mengingatkan kebersamaan itu. Al-Quran adalah tali persatuan. Bukan alat perpecahan. Tidak ada yang paling berjasa pada Al-Quran. Karena Al-Quran tidak akan ada kecuali bersama. Dan yang jelas siapapun yang berinteraksi dengan Al-Quran dia sedang bersama Allah.

Kata ganti pertama (mutakallim) dan kata ganti kedua (mukhathab) di dalam ilmu Nahwu disebut kata ganti khudhur. Artinya hadir. Yakni, dalam hal menurunkan Al-Quran pada malam al-Qadar, Allah Swt. dan yang diberikan Al-Quran, yaitu Rasulullah Saw dan umatnya sangat dekat dengan segala keagungan dan kemewahan yang mengelilinginya. Sedekat yang berbicara dengan mitra bicaranya. Al-Quran-lah yang mendekatkannya. Semakin qurani semakin dekat.

Demikian
Masjid An-Nahl The Icon BSD City
Sabtu, 19 Mei 2018 / 3 Ramadhan 1439

(Visited 1.829 times, 1 visits today)
Bagikan