WAKTU YANG BERAYAT
(Tafsir Surah al-Qadr Ayat 1 Bagian 6)
@deden_mm
Pada bagian 6 ini penulis hanya akan membahas kata fi (فِي) dalam surah al-Qadr ayat 1. Yaitu penggalan ayat fi lailatil qadr (فِي لَيلَةِ القَدْرِ) yang secara harfiyah diterjemahkan “di malam al-Qadar.”
Pada dasarnya semua kata fi (فِي) mempunyai pengertian zharfiyyah. Yaitu menunjakan yang dimasukinya wadah sesuatu. Terjemahannya “di dalam.” Misalnya:
المَاءُ فِي الكُوبِ
Air di dalam gelas.
Gelas adalah wadah air yang ada di dalamnya. Zharfiyyah (wadah) yang menjadi makna dasar fi (فِي) ada dua. Yaitu wadah yang berupa tempat (ruang) dan wadah yang berupa waktu. Gelas yang menjadi wadah air adalah wadah tempat. Dan Lailatul Qadr yang menjadi wadah turunnya Al-Quran adalah wadah waktu.
Anggap saja misalnya Lailatul Qadar itu sebuah gelas. Lalu Al-Quran ibarat air yang dituangkan di dalamnya. Maka tentu tidak ada satu senti pun dari Lailatul Qadr kecuali terisi ayat-ayat Al-Quran. Inilah yang menyebabkan Lailatul Qadr damai total. Anginnya, udaranya, suasananya, heningnya, binatang-binatangnya, pohon-pohonnya, tanahnya, airnya, batu-batunya, dan lain-lainnya, semuanya berayat dan penuh dengan kedamaian.
Orang yang diberikan anugerah masuk kedalam Lailatul Qadr sama dengan tenggelam dalam lautan damainya. aTidak ada bagian dari tubuhnya kecuali basah dengan ayat-ayat Al-Quran. Bernafas dengan udara yang berayat. Hingga merasuk kedalam hati yang paling dalam. Larut dalam shalat, tilawah, dzikir, dan doa: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai maaf, maka maafkan aku.”
Makna zharfiyyah pada kata fi (فِي) dalam ayat ini sesuai dengan makna kata fihi (فِيهِ) dalam surah al-Baqarah ayat 185 tentang bulan Ramadhan yang di dalamnya (فِيهِ) diturunkan Al-Quran. Dari kata fihi (فِيهِ) ini penulis dalam sebuah tulisan tentang bulan Ramadhan menyimpulkan Ramadhan bulan suci dan mensucikan. Yakni bulan Ramadhan seutuhnya, dari tanggal 1 sampai tanggal 29 atau 30, punya efek membersihkan dari dosa. Karena di dalamnya ada Al-Quran. Padahal hanya satu hari saja sebenarnya yang menjadi waktu turunnya Al-Quran. Yaitu Lailatul Qadr. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya kesucian, kedamaian, keberkahan dan kemuliaan bagi diberikan anugerah meraihnya.
Kata fi (فِي) dalam ayat ini selain mengandung makna zharfiyyah juga bisa mengandung makna sababiyyah. Fi (فِي) ini diterjemahkan dengan “tentang” atau “berkenaan dengan.” Dalam Alfiyyah Ibnu Malik (w. 672 H.) dinyatakan fi (فِي) terkadang menjelaskan makna “sabab” dalam bait ke 10 bab Huruf al-Jarr sebagai berikut:
وَزِيدَ وَالظَّرْفِيَّةَ اسْتَبِنْ بِبَا # وَفِي وَقَدْ يُبَيِّنَانِ سَبَبَا
Dan [lam (ل)] ada yang zaidah. Dan makna zharfiyyah nyatakanlah dengan ba (ب) dan fi (فِي). Dan terkadang keduanya menjelaskan sabab.
Umar bin Khathab berkata pasca melakukan kekhilafan yang sebelumnya tak disadarinya: “Sungguh aku takut ada ayat Al-Quran yang turun di dalamku (فِيَّ).” Maksudnya turun “tentang aku.” Atau turun “berkenaan denganku.” Yakni perbuatan Umar menjadi sebab turunnya ayat Al-Quran. Kata fi (فِي) yang berarti sabab inilah yang kemudian para ulama menyebut peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat dengan “Sabab Nuzul.” Jamaknya “Asbabun Nuzul.”
Contoh lainnya perkataan siti Aisyah saat didera fitnah: “Demi Allah, (fitnah ini) lebih membuatku merasa hina dari pada ada ayat Al-Quran yang turun di dalamku yang dibaca di masjid-masjid (dan tempat-tempat lainnya sepanjang masa).” Yakni “turun tentangku,” atau “berkenaan denganku.”
Kata fi (فِي) dalam ayat fi lailatil qadr (فِي لَيلَةِ القَدْرِ) dapat berarti sabab. Hal ini, kata Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H.), sesuai dengan kata ganti (dhamir) pengagungan untuk Al-Quran yang tak lain untuk maksimal mengagungkan Lailatul Qadr. Yakni, terjemahan ayat ini menjadi: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran yang agung tentang Lailatul Qadr.” Oleh karenanya ayat-ayat berikutnya berisi tentang Lailatul Qadr yang tak berkaitan lagi secara langsung dengan penurunan Al-Quran.
Demikian
Wallahu A’lam
Masjid An-Nahl The Icon BSD City
20 Mei 2018 / 1439




