SANG GURU NGAJI

SANG GURU NGAJI
Oleh: @deden_mm

Dia bernama Abdullah bin Habib al-Sulami (w. 74 H.). Dipanggil Abu Abdirrahman (nama kun-yah). Jika sekarang kita mengetahui hadits “Sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya,” maka itu karena Abu Abdirrahman al-Sulami meriwayatkannya dari Utsman bin Affan dari Rasulullah Saw.

Jika kita sekarang mengetahui cara para sahabat belajar Al-Quran kepada Rasullah Saw, baik membacanya, menghafalkannya, memahaminya, dan mengamalkannya maka itu karena Abu Abdirrahman al-Sulami mewarisi cara itu dari mereka.

Dia belajar membaca, menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Quran secara bersamaan dari guru-gurunya. Yaitu Umar bin Khthab, Utsman bin Affan, Ibn Mas’ud, Ali bin Abu Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan lain-lain. Lalu gelar keilmuan tertinggi abad itu diberikan kepadanya pada saat belum ada seorang pun yang menyandangnya dari selain para sahabat yang menjadi guru-gurunya. Yaitu gelar al-Qari al-Muqri.

Imam al-Ghazali (w. 505 H.) mengatakan dalam kitab Ihya ‘Ulimiddin, sebutan untuk ulama pada masa Nabi dan sahabat adalah al-Qurra. Tapi, dengan gelar keulamaan tertinggi yang melekat padanya, pengajaran Al-Quran yang dia pilih hanya ngaji (talaqqi) Al-Quran kepada para pemula, termasuk anak-anak. Bukan pengajaran tafsir, hadits, fiqih, dan lainya yang menurut orang sekarang lebih bergengsi.

Dia mulai mengajar Al-Quran di masjid Kufah pada masa Utsman bin Affan. al-Hasan dan al-Husain, dua cucu kesayangan Rasulullah Saw belajar Al-Quran kepadanya. Pada masa Ali bin Abu Thalib seringkali ketika dia sedang mengajar Al-Quran Ali bin Abu Thalib masuk kedalam masjid. Dia bertahan mengajar ngaji Al-Quran di masjid itu selama 40 tahun sampai akhir hayatnya pada masa Hajjaj bin Yusuf.

Alasan dia bertahan mengajar ngaji (talaqqi) Al-Quran selama itu tanpa pernah menerima imbalan sedikit pun adalah hadits yang diterimanya dari gurunya, Utsman bin Affan di atas; “Khairukum,” yakni “sebaik-baik kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” Dia betapa ingin meraih “khairiyyah,” sebuah kebaikan yang nilainya paling tinggi yang tidak dapat diraih kecuali dengan cara itu.

Hasilnya sangat luar biasa. Jika sekarang kita membaca Al-Quran maka perlu diketahui bahwa bacaan kita, juga bacaan mayoritas umat Islam di seluruh dunia, adalah bacaan Rasulullah Saw yang sampai kepada kita melalui riwayat Imam Hafsh dari Imam Ashim dari Abu Abdurrahman al-Sulami dari Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’b, Zaid bi Tsabit, dan Ali bin Abu Thalib, dari Rasulullah Saw. Setiap huruf yang kita baca ada pahala yang mengalir kepadanya.

Sadeng, 11 Agustus 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 288 times, 1 visits today)
Bagikan