GEMPA (2)
Akhir Cerita Bumi
@deden_mm
Berhubung hari ini saya tidak ke Durrunnafis, saya tuliskan lanjutan tafsir surah al-Zalzalah yang kemarin baru sampai ayat 5. Satu ayat saja yang akan saya tafsirkan. Yaitu ayat 6. Saya beri judul: “Akhir Cerita Bumi.” Semoga bermanfaat.
Seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah saw membacakan ayat kepadanya untuk dihafal. Beliau tawarkan surah-surah dzawatirra (yang dibuka dengan alif lam ra), tapi dia menolak karena merasa tak mampu menghafalkannya. Beliau tawarkan surah-surat haamiim, dia pun tak sanggup. Beliau tawarkan surah-surah tasbih, dia juga keberatan. Lalu beliau membaca surah al-Zalzalah (Gempa). Batin laki-laki tersebut terguncang hebat seraya mengatakan: “Cukup, cukup, cukup.” Rasulullah saw bersabda: “Iman telah masuk ke relung hatinya.”
Iman yang membuat hati laki-laki itu terguncang dengan ayat-ayat Gempa (al-Zalzalah). Lalu apakah namanya yang membuat hati kita tak terguncang. Sebaliknya, justru hati terguncang ketika dihadapkan pada masalah-masalah dunia. Bahkan hal-hal kecil. Hanya karena putus cinta, misalnya, hati pemuda muslim terguncang seakan-akan tak ada lagi Allah, gak bisa tidur, gak enak makan, gak enak minum. Sekiranya ada iman, niscaya guncangan hati akan habis untuk ayat-ayat semisal surah al-Zalzalah.
Imam Abu Hanifah, yang menurut beberapa riwayat sering mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an dalam satu rakaat sepanjang malam, pernah terlihat shalat setelah Isya, lalu membaca al-Zalzalah. Tiba-tiba tubuhnya terguncang. Isak tangis terdengar lirih darinya. Ia berdiri kaku mengulang-ulang ayat sampai terbit fajar (shubuh). Ini karena iman.
Pantas Rasulullah saw menyebutkan, kalau al-ikhlash setara sepertiga Al-Qur’an dan al-Kafirun seperempat Al-Qur’an, maka al-Zalzalah setara dengan separoh Al-Qur’an. Pernah beliau membaca al-Zalzalah dalam dua rakaat shalat shubuh. Berarti beliau sama dengan khatam seluruh Al-Qur’an.
Ada hentakan hebat di ayat 6 surah al-Zalzalah. Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa bumi punya cerita tentang manusia yang pernah berpijak di punggungnya. Ia merekam semua perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk. Ketika bumi gempa, maka dengan gempa itu, bumi sedang membeberkan kejahatan tangan manusia. Itu di dunia. Di akhirat, bumi diberi lidah. Di tempat ini fulan berzina. Di tempat ini fulan berjihad. Misalnya. Abu Umayyah, ketika sedang shalat di Masjidil Haram, terlihat pindah-pindah tempat. Mengapa? Abu Umayyah menjawab dengan membaca surah al-Zalzalah. Yakni semakin banyak permukaan bumi yang dijadikan tempat shalat, semakin banyak pula saksi kebaikannya. Ayat ini adalah akhir dari cerita bumi. Yaitu, agar manusia, seluruhnya, melihat amal-amal mereka.
Imam al-Thabari, ketika menafsirkan ayat 6 ini, menyatakan, di sini ada taqdim dan ta’khir, karena kalimat liyurau a’maalahum (ليروا أعمالهم) berhubungan dengan kalimat tuhadditsu akhbaraha (تحدث اخبارها)… liyurau (ليروا)… Yakni, bumi bercerita tentang kisah-kisahnya bersama manusia, agar sang manusia melihat amal-amal mereka. Pada hari itu manusia keluar berkelompok-kelompok, berdasarkan amal-amal yang dilihatnya. Tidak ada yang protes. Takkan ada lagi manusia yang mengatakan “maa lahaa (ما لها).” Setiap sudut bumi adalah CCTV.
Amal yang mereka lihat. Bukan balasannya. Yakni, ketika kemudian mereka melihat balasannya, maka mereka merasa pantas mendapatkannya. Bahkan tampak sekali kemahaadilan Allah. Tak satu pun pahala amal baik yang dikurangi. Malah ditambah. Tak satu pun balasan amal buruk yang ditambah. Malah dikurangi. Ini akan diperjelas oleh dua ayat berikutnya.
Katika membicarakan manusia yang protes pada bumi, Allah menyebut manusia dengan kata “al-Insan (الإنسان),” yang mufrad. Lihat ayat 3. Sedang ketika membicarakan pertanggungjawaban manusia, Allah menyebutnya “al-nas (الناس),” yang bermakna jamak. Ini karena manusia yang protes sangat egois dengan kepintarannya. Mementingkan diri sendiri. Ia, dengan ilmunya, berusaha menaklukan bumi. Ketika dia telah merasa berhasil menaklukannya, maka yang terjadi adalah sebagaimana pepatah, senjata makan tuan. Justru dia yang ditaklukan bumi. Bumi yang takluk tak memberikan mudarat. Tapi bumi tak takluk pada manusia yang sombong kepada Allah. Ia hanya takluk pada Allah, atau hamba yang tunduk pada Allah. Karenanya ada mufassir yang menafsirkan manusia pada ayat 3 dengan kafir.
Kemudian egoisme dan perasaan paling hebat hilang total saat mereka melihat amal-amal mereka. Tak ada professor, tak ada presiden, tak ada orang kaya, dan tak ada rakyat jelata. Semuanya sama. Butuh pada rahmat Allah. Bahkan orang yang banyak amal baiknya pun merasa kurang. Tapi mereka tak bisa disatukan. Orang mukmin tak bisa menyatu dengan seorang kafir. Ahli maksiat tak berkumpul bersama ahli taat. “Semua bentuk pertalian diputus secara paksa oleh Allah, kecuali orang-orang yang muttaqin.” Bahkan derajat muttaqin pun tak sama. Mereka menjadi “asytata (اشتاتا),” sesuai amal mereka. Ini karena amal, cara pandang, dan jalan hidup mereka selama di dunia pun “syatta (شتى).”
Bagaimanakah kita saat itu? Jawabannya, bagaimanakah kita saat ini.
Demikian
Wallahu A’lam
Deden Muhammad Makhyaruddin




