PENGERTIAN DOSA BESAR DAN DOSA KECIL
Istilah dosa besar dan dosa kecil sudah ada dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Dosa besar disebut al-kaba’ir (الكَبَائِرُ), jamak dari kata kabirah (الكَبِيرَةُ), artinya besar. Sedang dosa kecil adalah dosa yang tidak termasuk kaba’ir yang kemudian disebut shagha’ir (الصَّغَائِرُ), jamak dari shaghirah (الصَّغِيرَةُ), artinya kecil.
Di antaranya dalam surah al-Nisa ayat 31, Allah SWT berfirman:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَونَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ،،،
Jika kamu menjauhi yang besar-besar dari apa yang dilarang niscaya Kamu tutupi darimu keburukan-keburukanmu (yang kecil)…
Dalam sebuah hadis:
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالجُمْعَةُ إِلَى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتْ الكَبَائِرُ
Shalat yang lima waktu, shalat Jumat ke shalat Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan mengkifarati dosa-dosa antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.
Tapi, ada sebagian ulama yang menolak menamai sebuah perbuatan maksiat dengan sebutan “kecil,” karena melihat kebesaran Allah yang didurhakai dan melihat besarnya adzab yang dijanjikan. Hanya ukuran besarnya berbeda-beda.
Di antara mereka adalah Ibn Faurak, Abu Ishaq al-Syirazi, Ibn al-Qusyairi, al-Juwaini, Ibn al-Subki, dan al-Qadhi Abdul Wahhab.
Ulama yang membagi dosa menjadi dosa besar dan dosa kecil mempunyai dua metode untuk mengetahui apa suatu dosa masuk ketegori dosa besar atau dosa kecil.
Pertama, diketahui dengan salah satu ciri dari ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dosa yang mewajibkan adanya hukuman had. Yaitu, hukuman-hukuman khusus yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, atau Rasulullah Saw terapkan, seperti dicambuk, dirajam, dan dipotong bagian anggota tubuh.
2. Dosa yang pelakunya mendapatkan ancaman adzab yang keras.
3. Dosa yang menunjukan pelakukannya kurang peduli kepada Agama dan lemah dalam beragama.
4. Dosa yang keharamannya ditetapkan dalam Al-Qur’an dengan teks yang jelas
5. Dosa yang dilakukan dalam keadaan hati menganggap enteng pada dosa itu.
Dan, dalam hal ini, kemudian, tidak ada dosa yang kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa yang besar jika disertai permohonan ampun (istighfar).
Juga, tidak ada dosa kecil jika melihat adzab Allah untuknya. Tapi, juga tidak ada dosa besar jika melihat ampunan Allah.
Kata al-Wahidi, dosa besar tidak dapat diketahui dengan definisi dan ciri, melainkan dirahasiakan oleh Allah, agar semua dosa ditinggalkan.
Kedua, diketahui dengan menghitungnya dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis.
Ada ulama yang menghitung bahwa dosa besar itu ada tujuh. Ada yang menghitung 14. Dan, ada yang menghitung sampai 70 lebih. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat besarnya berbeda-beda.
Juga, satu dosa yang sama yang dilakukan oleh dua orang yang berbeda atau waktu dan tempatny yang berbeda, besarnya bisa tak sama.
Ghibah, misalnya, yang dilakukan oleh yang menganggap enteng dosanya lebih besar dari ghibah yang dilakukan oleh orang yang menganggap besar dosanya.
Demikian pula, ghibah yang dilakukan pada bulan suci Ramadhan atau di dalam masjid lebih besar dosanya dibandingkan yang dilakukan di bulan selain Ramadha atau di luar masjid. Kalau Masjidil Haram maka ghibah di dalamnya lebih besar lagie dosanya.
Deden M. Makhyaruddin




