
MEM-BISMILLAH-KAN KEHIDUPAN
(Tafsir Surah al-Fâtihah Ayat 1)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
Hari ini penulis, in-sya-allâh, akan membahas surah al-Fâtihah ayat 1. Yaitu firman Allah Swt:
بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang
Dalam bahasa Arab, membaca bismillâhir rahmânir rahîm disingkat penyebutannya menjadi basmalah, sedang di Indonesia langsung disebutbismillâh meski sebagian ada yang sudah menyebutnya basmalah. Penulis akan keluar dari pembahasan dalil-dalil ulama fiqih seputar apakah bismillâh termasuk ayat al-Fâtihah atau bukan. Tapi akan mencoba, dengan segala keterbatasan penulis, masuk pada makna-makna dan informasi-informasi keilmuan yang tersimpan di dalamnya. Pada pembahasn sebelumnya, penulis mengupas hubungan yang erat antara surah al-Fâtihah dengan surah al-Fath (48) sebagai Pembuka Segala Kemenangan. Dalam surah al-Fath (48) ayat 26 terdapat penggalan kalimat:
وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى
… dan (Allah) memantapkan hati mereka (orang-orang mukmin) dengan Kalimah Taqwa (QS al-Fath, 48 : 26)
Imam al-Zuhri (w. 124 H.) mengatakan, yang dimaksud “Kalimah Taqwa” pada ayat tersebut adalah bismillâhir rahmânir rahîm. Tampaknya penghubung yang kuat antara surah al-Fatihah dengan surah al-Fath adalah bismillâh. Yakni tak hanya derivasi namanya yang sama.
Mungkin banyak yang belum tahu bahwa bacaan Al-Qur’an kita, muslimin Indonesia, bahkan mayoritas muslimin di dunia, bukanlah bacaan yang —pada masa generasi awal Islam— berkembang di Madinah, melainkan bacaan yang berkembang di Kufah, sebuah kota di Iraq yang terkenal dengan kemajuan Ilmu Bacaan Al-Qur’an dan Ilmu Nahwu (Gramatika Arab Klasik). Yaitu bacaan Imam ‘Âshim bin Abu al-Najûd al-Kufi (w. 127 H.) melalui muridnya, Hafsh bin Sulaiman (w. 180 H.), yang salah satu jalur pengajarannya diterima dari Rasulullah Saw melaluisayyidina ‘Ali bin Abu Thalib (w. 40 H.) yang turun kepada muridnya, Abu Abdirrahman al-Sulami (w. 74 H.) lalu sampai ke Imam ‘Âshim (w. 127 H.). Bacaan tersebut menghitung bismillah bagian dari al-Fâtihah. Mushaf yang digunakan di Indonesia, juga di berbagai belahan dunia, —bahkan yang dicetak hingga hari ini— merujuk kepada Mushaf Kufah yang berasal dari sayyidina Ali bin Abu Thalib (w. 40 H.). Ayatnya berjumlah 6236 ayat, dan bismillah termasuk ayat dari al-Fâtihah. Oleh karenanya, tanpa mengesampingkan hadits-hadits dan pendapat-pendapat yang menyebutkan bismillah bukan dari al-Fâtihah, maka, dengan merujuk kepada bacaan dan mushaf yang dipergunakan muslimin di Indonesia dan mayoritas muslimin di dunia, semoga tepat kiranya penulis menafsirkan al-Fâtihah dimulai dari bismillah.
Ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah Saw adalah surah al-‘Alaq atau Iqra (96). Pada ayat pertamanya memerintahkan kepada beliau agar membaca dengan nama Tuhan (Rabb). Allah Swt befirman:
إِقْرَأْ بِاسِمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (QS al-‘Alaq, 96 : 1)
Dalam rangka memparaktekan dan mengaplikasikan ayat ini, setiap kali Rasulullah Saw hendak membaca ayat Al-Qur’an, tidak pernah ketinggalan menyebut nama Allah Swt dengan redaksi:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ
Dengan nama-Mu, ya Allah.
Surat demi surat turun kepada Rasulullah Saw secara bertahap. Beliau selalu mengawali bacaanya dengan menyebut nama Allah Swt dengan redaksi di atas sampai turun surat yang ke 52. Yaitu, lebih tepatnya, surah Hûd (11) yang turun setelah surah Yunus dan sebelum surah Yusuf, ayat 41. Yaitu:
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan dia (Nuh) berkata, Naiklah kamu semua ke dalamnya dengan nama Allah saat berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Maha Penyayang (QS Hud, 11 : 41)
Di situ terdapat kalimat yang dibacakan Nabi Nuh dan para pengikutnya saat naik ke dalam bahtera. Yaitu kalimat:
بسم اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا
Dengan nama Allah saat berlayar dan berlabuhnya (QS Hud, 11 : 41)
Lalu Rasulullah Saw mengganti redaksi pembuka bacaanya dengan kalimat:
بسمِ اللهِ
Dengan nama Allah
Dalam surah al-Isrâ’ (17) ayat 100 yang turun dalam urutan ke 50, yakni turun sebelum surah Yûnus (10) dan surah Hûd (11), terdapat perintah agar Rasulullah Saw memanggil Tuhan dengan nama Allâh (الله) atau nama al-Rahmân (الرحمن), maka beliau menambah redaksi bismillâhmenjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
Dengan nama Allah Maha Pengasih
Surah al-Naml (27) ayat 30 memuat isi surat Nabi Sulaiman untuk Ratu Saba (Yaman) yang bernama Balqis sebagai berikut:
إِنَّهُ مِنْ سُلَيمَانَ وإِنَّهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya (surat itu) dari Sulaiman. Dan sesungguhnya (isi surat itu): “Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang (QS al-Naml, 27 : 30)
Terinspirasi surah al-Naml (27) di atas, Rasulullah Saw menyempurnakan redaksi bismillah-nya menjadi:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Dalam urutan turunnya al-Naml (27) menempati nomor ke 48. Artinya lebih dahulu turunnya dibanding surah Hûd (11) dan surah al-Isrâ’ (17). Tapi tampaknya ayat ke 30 dari surah al-Naml (27) ini turun setelah surah Hûd (11) ayat 41 dan setelah surah al-Isrâ (17) ayat 100.
Rangkaian riwayat tentang redaksi bacaan Rasulullah Saw di atas menujukan pentingnya membaca bismillâh setiap hendak membaca ayat Al-Qur’an, termasuk ketika hendak membaca surah al-Fâtihah, sebagai pengamalan terhadap surah Iqra ayat 1, kendati bagi yang tidak memasukannya ke dalam salah satu ayat dari al-Fâtihah.
Bismillâh (بسم) diawali dengan huruf ba (بِ). Dalam Ilmu Nahwu, yaitu Ilmu Tata Bahasa Arab yang diinisiasi oleh sayyidinâ Ali bin Abu Thalib (w. 40 H.) dalam rangka kemurnian teks dan keutuhan makna ayat Al-Qur’an, huruf ba (بِ) pada kata bismi (بِسْمِ) disebut huruf Jar atau hurufKhafadh. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata “dengan.” Jadi, bismillâh (بسم الله) bila diterjemahkan akan menjadi “dengan nama Allah.” Secara gramatikal, salah satu fungsi huruf Jar atau huruf Khafadh adalah membunyikan vocal (i) yang disebut kasrah pada konsonan terakhir suatu kata. Kata yang huruf konsonan terkhirnya bervokal (i) karena faktor huruf Jar disebut Kata Berkedudukan Jar (al-Majrûr) atau Berkedudukan Khafadh (al-Makhfûdh). Bacaan kata bismi, sebelum dimasuki ba (ب), adalah ism (اسم), tanpa vocal “i” setelah huruf “m.” Yakni, huruf konsonan terakhirnya adalah mîm (م) yang belum dapat dibaca karena tidak bervokal juga tidak didahului vokal. Sama halnya dengan huruf (m) yang belum bertemu vocal sebelum atau setelahnya. Tetapi, setelah dimasuki ba (ب), maka mîm (م) dibaca mi (مِ). Faktor yang memunculkan vocal (i) adalah huruf Jar atau huruf Khafadh, yaitu ba (ب). Maaf, kalau menjadi sedikit berfikir membaca Tulisa ini. Tapi penulis berharap diingat-ingat terus, agar kedepan tidak perlu penulis urai pembahasannya lagi. Hal ini untuk kemudian dapat menyingkap makna semantik dari ba tersebut yang dipicu oleh status ke-hurufjar-an atau ke-hurufkhafadh-an-nya.
Dalam Jâmi‘ al-Bayân ‘an Ta’wîl ’Ây al-Qur’ân karya Ima Abu Ja‘far bin Jarir al-Thabari (w. 310 H.) dan semisalnya, yakni kitab-kitab tafsir yang ditulis antara abad ke dua dan abad keempat Hijrah, huruf ba, sebagai huruf Jar atau huruf Khafadh harus berhubungan dengan suatu aktivitas. Misalnya, kalimat berikut:
كَتَبْتُ بِالقَلَمِ
Saya menulis dengan pena
Di situ ada kata “dengan pena,” terjemahan dari “bi al-qalami (بِالقَلَمِ).” Kata ba (ب) atau kata “dengan” berhubungan dengan aktivitas. Yakni, ada aktivitas atau kegiatan yang dikerjakan dengan menggunakan pena tersebut, yaitu aktivitas menulis. Lalu, ketika dikatakan “dengan nama Allah,” maka tentu di situ ada aktivitas yang dikerjakan dengan menggunakan nama Allah. Dalam surah Iqra ayat 1, yaitu:
إِقْرَأْ بِاسِمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (QS al-‘Alaq, 96 : 1)
Pada ayat tersebut sangat jelas bahwa aktivitas yang dikerjakan dengan menggunakan nama Tuhan, adalah membaca. Tetapi, di dalambismillâh, aktivitasnya tidak disebutkan. Hal ini menunjukan, bahwa aktivitas yang harus berbismillah, atau dilakukan dengan bismillâh, adalah semua aktivitas dalam kehidupan ini. Tentu yang dimaksud adalah aktivitas-aktivitas yang positif.
Penulis bandingkan dengan Iqra ayat 1 bahwa aktivitas yang disebutkan di dalamnya adalah membaca. Tetapi juga tidak disebutkan apa yang dibaca. Hal itu menujukan bahwa yang dibaca adalah segala hal, termasuk alam semesta dan fenomen sosial. Yakni, di sini Allah Swt. tidak menyebutkan hal-hal yang harus dibaca, selain karena yang dibaca itu sangat banyak, juga tampaknya yang penting dalam membaca adalah bukan apa yang dibaca tapi dengan apa membaca-nya. Yakni, meski bacaannya sederhana tetapi jika dilakukan dengan nama Tuhan (bismirabbik), maka hasilnya menjadi tidak sederhana. Sebaliknya meski bacaannya besar, tetapi dilakukan tidak dengan nama Tuhan (bismirabbik), maka tidak akan menghasilkan apa-apa. Lalu, dalam bismillâh, yang tidak disebutkan oleh Allah bukan hanya objek dari aktivitas, tapi juga berikut aktivitasnya. Hal ini, menunjukan, pentingnya nama Allah dalam segela aspek kehidupan yang dinyatakan dalam sebuah aktivitas, baik aktivitas lahir maupun aktivitas batin. Yakni, kalau suatu aktivitas itu penting, maka yang lebih penting dari itu adalahbismillâh-nya. Karenanya penting didahulukan.
Bismillâh adalah lambang keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Aktivitas tanpa bismillah ibarat jasad tanpa ruh, dan bismillah tanpa aktivitas ibarat ruh tanpa jasad. Hal ini sudah lazim. Karena ba yang bersatus huruf Jar mesti harus ada aktivitas di belakangnya. Tak ada pekerjaan atau aktivitas yang tak selesai bila dilakukan dengan bismillah. Karena seakan-akan ia bekerja bersama Allah. Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H.) mengatakan, bismillah adalah kekhusyukan hati seorang hamba menghadap kebesaran Allah. Oleh karenanya, sebelum masuk kedalam bismillah, Rasulullah Saw, terlebih dahulu membaca ta‘awwudz, yaitu membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Hal ini, karena dengan ta‘awwudz, hati sudah terbebas dari hal-hal yang menggangu fokusnya ke Allah. Hingga, ketika seorang hamba mengatakan bismillah maka tak ada yang mengganggunya lagi dari Allah.
Makna semantik dari ba sangat banyak. Tapi Imam Sibawaih (w. 180 H.), ulama Nahwu terbesar dari Bashrah, Iraq memilih bahwa makna bayang paling tepat pada bismillah adalah lil al-ilshâq yang secara harfiyah berarti melekat. Contohnya:
أمْسَكْتُ الثَّوبَ بِاليدِ
Saya menggenggam baju dengan tangan
Pengertian li al-ilshâq adalah tangan melekat pada baju. Bahkan, seandainya terlepas, maka tak lagi disebut menggenggam. Kata bismillah,dengan (ba) li al-ilshâq, adalah orang yang melakukan suatu aktivitas berarti melekat dengan Allah selama berada dalam aktivitasnya tersebut. Bahkan, jika terlepas dari Allah, maka tidak disebut beraktivitas. Ini puncak pencapaian dalam kehidupan. Oleh karenanya, meski terdengar hiperbola, terdapat keterangan dari sebagian ulama, bahwa kandungan semua kitab Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul tersimpan di dalam kitab yang empat yaitu Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua kadungan empat kitab tersebut tersimpan dalam Al-Qur’an. Kandungan Al-Qur’an tersimpan dalam al-Fâtihah. Kandungan al-Fâtihah tersimpan dalam bismillâh, dan kandungan bismillâhtersimpan dalam ba-nya. Karena, pada dasarnya, inti kandungan semua kitab Allah adalah agar manusia ilshâq (melekat) dengan Allah dalam segala aktivitasnya, sementara makna ilshâq dengan Allah ada dalam ba-nya bismillâh, tidak dalam ba yang lain.
Imam al-Syafii (w. 204 H.) yang dikenal sebagai ulama yang kuat pemahamannya pada Al-Qur’an melebihi ulama di zamannya sebagaimana diakui misalnya oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.), dalam pandangan fiqih-nya, memasukkan bismillah kedalam salah satu ayat al-Fâtihah. Pandangan ini berbeda dengan pandangan para ulama pada umumnya, khususnya di zaman beliau. Tampaknya trobosan yang dilakukan imam Syafii (w. 204 H.) melahirkan perbedaan pendapat yang sangat fatal, karena melahirkan kesimpulan memabaca al-Fâtihahtanpa bismillah dalam shalat menyebabkan shalat tersebut tidak sah. Yakni, sama saja dengan tidak mengerjakan shalat. Padahal yang tidak membaca bismillah dalam al-Fâtihah tak lain salah seorang guru besarnya di Madinah, yaitu Imam Malik (w. 179 H.). Apakah dengan pandangan tersebut Imam al-Syafii (w. 204 H.) berarti seolah-oleh menganggap shalat guru-nya atau shalat muslimin yang tidak membacabismillah dalam al-Fâtihah tidak sah? Tidak demikian.
Faktor yang mendorong Imam al-Syafii (w. 204 H.) berkesimpulan demikian, selain karena melihat faktor hadits-hadits shahih yang ditemukan dan dikutipnya dalam kitab al-Umm dan latar belakang bacaan Al-Qur’an-nya yang berunsur Makkah dan Kufah yang menghitung bismillahbagian dari al-Fâtihah, tampaknya adalah karena adanya makna ilshâq di dalamnya. Yang sudah ilshâq dengan Allah dalam segala aktivitasnya tidak akan mampu melihat aib pada pendapat orang lain. Yakni, dalam hal ini, Imam al-Syafii (w. 204 H.) tidak mensahkan shalat yang tidak berbismillah hanya untuk dirinya dan untuk yang setuju dengannya, bukan untuk yang lain. Demikian pula Imam Malik (w. 179 H.) tidak menyerang balik Imam al-Syafii (w. 204 H.), malah menghargainya, bahkan memujinya. Jika bismillah Imam al-Syafii ini diteladani sampai ke tingkat ilshâq olah muslimin di Indonesia maka keragaman pendapat, meski sudah level pertentangan tingkat tinggi, tidak akan sampai pada saling menyalahkan atau menjelekkan pihak lain.
Antara ba (ب) dan kata ism (اسم) dalam kalimat bismi (بسم) ada alif yang tidak ditampakkan. Karena bismi (بِسْمِ) mestinya ditulis بِاسْمِ dengan menyisipkan huruf alif (ا) , bukan ditulis بِسْمِ, tanpa alif. Para ulama pakar Nahwu membahas alasan-alasannya. Alasan yang paling tepat adalah karena penulisan Al-Qur’an diatur sedemikian rupa oleh Rasulullah Saw berdasarkan wahyu (disebut tauqîfi) yang kemudian disebutRasm Utsmani, berbeda dengan tulisan Arab biasa. Lalu, karena redaksi bismillah ini baru dikenal oleh orang Arab setelah ayat-nya turun, maka penulisan Arab mengikuti pola penulisan Al-Qur’an, bukan Al-Qur’an yang mengikuti pola penulisan Arab. Ini pun tampaknya menekan pada makna ilshâq dalam ba. Yakni, begitu kuatnya daya lekat pada ba sampai-sampai melenyapkan alif antara ba (ب) dengan kata ism (اسم). Melekat-nya seorang hamba dengan Allah Swt dalam semua aktivitasnya memang harus sedemikian kuatnya sampai melebur segala sekat yang ada. Namun harus disadari pula bahwa melekatnya tersebut bukan melebur menjadi satu dengan Allah. Oleh karenanya ba tidak masuk ke lafazh Allâh (الله), yakni bukan billâh (باللهِ), tapi masuk ke ism-Nya, yakni bismillâhi (بسم الله).
Penulis tidak masuk kepada perbedaan pendapat ulama tentang pengertian ism (اسم) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “nama.” Tapi merujuk kepada penafsiran Imam al-Thabari (w. 310 H.), bahwa yang dimaksud ism adalah aktivitas menyebut nama Allah yang tak lagi dikaitkan dengan waktu, atau, dengan kata lain, menujukan setiap waktu. Yakni, aktivitas di atas aktivitas. Misalnya, membaca ayat Al-Qur’an adalah aktivitas, maka aktivitas membaca ayat tersebut harus dilakukan dengan bismillah. Melibatkan bismillah dalam aktivitas pun adalah aktivitas pula. Bismillah-nya harus diucapkan. Oleh karenanya, hamba yang dekat dengan Allah, apalagi sampai melekat, akan semakin aktif dan produktif hidupnya sesuai untunan Allah, ibadahnya terus meningkat dalam istiqamah, bahkan menjadi kesenangan, bukan malah sebaliknya.
Kita mengenal akhiran ism atau isme yang menandakan suatu faham, ajaran, atau kepercyaan seperti Kapitalisme, Sosialisme, dan isme-isme lainnya. Mungkin akhiran tersebut berasal dari kata dalam Al-Qur’an, yaitu ism (اسم). Bismillah artinya dengan isme Allah. Atau, maaf, kalau boleh penulis menulis, Allah-isme. Dalam surah al-’A‘râf ayat 71, surah Yusuf ayat 40 dan surah al-Najm ayat 23, misalnya, sembahan-sembahan, pemahaman, ajaran, dan kepercayaan selain Allah disebut dengan asmâ, jamak dari ism (اسم), yakni isme-isme yang kosong.Bismillah adalah identitas mukmin, lahir dan batin. Tak heran kalau banyak hadits yang menjelaskan keutamaan-keutamaan membacabismillah.
Demikian penjelasan bismillah. Baru penulis bahas sampai kata bismi (بسم) saja. Pembahasan lafazh Allah (الله), in-sya-allâh akan dikupas pada penafsiran ayat 2, dan pembahasan al-Rahmân (الرحمن) dan al-Rahîm (الرحيم) pada ayat 3. In-syâ’allâh.
Wallâhu A‘lam.




