Kembali Bersaudara Setelah Pilkada

KEMBALI BERSAUDARA SETELAH PILKADA
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Saya menulis ini dalam perjalanan dari Dubai ke Madinah. Dalam keadaan hati menahan rindu kepada sosok mulia yang mengajarkan dan mencontohkan menyambung ikatan persaudaraan bahkan dengan orang yang memutuskan hubungan persaudaraan dengannya, Rasulullah Saw, di tengah terkoyaknya hubungan persaudaraan karena berbeda pilihan dalam Pilkada. Hubungan sesama muslim bahkan satu kekuarga menjadi renggang. Khususnya terkait Pilkada DKI Jakarta yang salah satu paslonya non muslim yang tengah duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa kasus penodaan Agama. Pemilih muslim yang memilihnya dimusuhi tanpa sedikit pun didengar pembelaannya.
 
Apakah nama dari permusuhan ini? Kalau saya katakan ini adalah permusuhan politik maka tampaknya pihak yang meyakini dia menista Agama tidak akan setuju. Karena bagi mereka memusuhinya adalah wajib dan selamanya. Saya pun memahami perasaan hati mereka. Pasti terluka karena merasakan agamanya sedang dinodai. Tapi pihak yang mendukungnya tentu melihat persoalan ini hanya sebagai masalah politik yang akan usai setelah Pilkada. Siapapun yang menjadi pemenangnya. Lalu apakah jalinan persaudaraan antara mereka dapat terajut kembali? Hati ini benar-benar rindu akan sosok beliau, nabi yang agung, shallaahu ‘alaihi wa sallam.
 
Saya merenung mengingat-ingat perjalanan hidup Rasulullah Saw sambil bershalawat. Ingin rasanya bertanya kepada beliau. Tiba-tiba saya teringat beberapa kisah beliau tentang bagaimana menjadi hubungan persudaraan. Jika benar Pilkada DKI adalah masalah Agama maka perjalana hidup Rasulullah Saw membuktikan bahwa loyalitas dan keberpihakan kepada pemimpin muslim serta menolak keberpihakan kepada non muslim (al-wala wa al-bara) tak berarti memutuskan shilaturrahim. al-Wala wa al-Bara tak lain adalah politik. Rasulullah Saw tak pernah memutuskan silaturrahim dengan siapapun yang pernah memberikan kebaikan kepada beliau walaupun orang tersebut non muslim. Abu al-Bakhtari adalah tokoh musyrik yang memusuhi beliau. Tapi ketika Perang Badar tiba dan Abu al-Bakhtari berdiri di pasukan musuh, Rasulullah Saw berpesan kepada pasukan muslimin agar jangan melukai Abu al-Bakhtari. Hal ini beliau lakukan karena Abu al-Bakhtari pernah memberikan idzin kepada beliau bersembunyi di kebunnya saat pulang dari Thaif. Yakni perang dengan Abu al-Bakhtari harus terjadi tapi perang tak memutuskan kebaikannya.
 
Banyak orang musyrik yang menjadi tahanan muslimin pasca Perang Badar. Di antaranya adalah Abu al-Ash, menantu Rasulullah Saw dari putri beliau yang bernama Zainab. Beliau memang menangkap Abu al-Ash tapi tetap menganggapnya menantu. Beliau tidak melepaskan Abu al-Ash kecuali dengan tebusan. Tapi beliau tak dapat menahan perasaan ketika ternyata Zainab, putri beliau mengirimkan tebusan dari Makkah untuk kebebasan suaminya, Abu al-Ash, berupa perhiasan kalung warisan ibunya, Khadijah yang tak lain adalah istri tercinta beliau yang sudah tiada. Beliau pun membebaskan Abu al-Ash dan mengembalikan kalung milik putrinya. Allah, hati hati ini semakin rindu kepada beliau.
 
Tidak ada kepentingan yang diidzinkan memutus shilaturrahim walaupun saat perang melawan kekufuran. Dalam Al-Qur’an terdapat dua panggilan. Yaitu “wahai manusia” dan “wahai orang-orang yang beriman.” Tahukah Anda panggilan mana yang Allah gunakan untuk menjaga shilaturrahim? Maka ketahuilah panggilan yang digunakan adalah “wahai manusia,” meski ayatnya turun di Madinah yang notabene bercirikhas panggilan “wahai orang-orang yang beriman.” Di antaranya surah al-Nisa ayat 1. Turun di Madinah tapi menggunakan panggilan “wahai manusia” karena konteksnya shilaturrahim. Sebelum Fahtu Makkah, ayat-ayat turun di Madinah dengan panggilan “wahai orang-orang yang beriman” untuk membangun al-wala wa al-bara. Tapi kemudian setelah Fahtu Makkah ketika ayat persaudaraan (al-Hujurat 13) turun maka panggilannya berubah menjadi “wahai manusia” agar yang tampil sebagai pemenang tak menjadi zhalim dan yang kalah tak merasa dizhalimi.
 
Barangkali Pilkada ini telah melukai persaudaraan. Maka sekarang tak ada alasan lagi untuk tak kembali bersaudara.
 
Pesawat Emirate Dubai Madinah
12 Februari 2017
 
Oleh. KH, DEDEN MUHAMMAD MAHYARUDDIN
(Visited 49 times, 1 visits today)
Bagikan