MEMAHAMI NAMA LAILATUL QADR
(Tafsir Surah al-Qadr Ayat 1 Bagian 5)
Oleh: @deden_mm
Kata Lailatul Qadr (لَيلَةُ القَدْرِ) dalam surah al-Qadr yang pendek ini diulang sampai tiga kali. Yaitu pada ayat 1, ayat 2, dan ayat 3. Pengulangan ini menunjukan keagungan dan kemuliaannya sebagaimana ditunjukan segenap kata dan kalimatnya. Lailatul Qadr terdiri dari dua kata. Yaitu kata lailah (لَيلَةٌ) dan kata al-qadr (القَدْرِ).
Lailah (لَيلَةٌ) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan malam. Padahal tak sepenuhnya tepat. Karena lailah (لَيلَةٌ) dengan huruf ta (ة) di belakang berbeda dengan lail (لَيلٌ) tanpa huruf ta (ة). Yang sebenarnya malam adalah terjemahan dari kata lail (لَيلٌ). Lawannya nahar (نَهَارٌ). Artinya siang. Sedang lailah (لَيلَةٌ) adalah lawan dari yaum (يَومٌ). Artinya hari. Bukan siang. Karena hari mencakup siang dan malam. Kita sering mendengar kata “siang hari” dan “malam hari.” Demikian juga lailah (لَيلَةٌ). Dia tidak hanya malam saja tapi juga mencakup siangnya.
Penanggalan dalam Islam, berdasarkan ayat-ayat Al-Quran, menggunakan lailah (لَيلَةٌ). Bukan yaum (يَومٌ). Karena hari baru dimulai dari terbenamnya matahari bukan dari terbitnya fajar. Kemudian berubah menjadi yaum (يَومٌ) setelah Islam berasimilasi dengan budaya para pemeluknya. Dalam kitab al-Jami’ li Ahkam al-Quran al-Qurthubi (w. 671 H.) mengemukakan riwayat dari para sahabat bahwa mereka berpuasa lima (lailah) bersama Rasulullah Saw tapi orang-orang non Arab berbeda. Mereka menggantinya dengan yaum (يَومٌ). Karena kalender mereka matahari.
Dalam Al-Quran masa pertemuan yang dijanjikan antara Nabi Musa dengan Allah tiga pulah lailah. Lalu disempurnakan 10 lagi sehingga menjadi sempurna 40 lailah (QS al-A’raf: 142). Yang dimaksud lailah bukan hanya malamnya saja, tapi siangnya juga. Yaitu 24 jam. Demikian pula yang dimaksud Lailatul Qadr sebenarnya bukan hanya malamnya saja, tapi juga siangnya. Hanya saja malamnya punya kelebihan sebagaimana akan penulis bahas saat menafsirkan “hingga terbit fajar.” Yaitu penggalan surah al-Qadr ayat 5.
Dalam kalimat metafora adakalanya yaum dimaksudkan nahar (siang) dan lailah dimaksudkan lail (malam). Dalam kitab-kitab Fiqih ditemukan kata “yaumun wa lailatun (يَومٌ وَلَيلَةٌ).” Yaitu sehari semalam atau 24 jam. Yakni siang berikut malamnya dan malam berikut siangnya. Tapi dalam surah al-Qadar ayat 1 tentang Lailatul Qadr, juga tentang lailah di ayat-ayat yang lain, tidak sedang dimaksudkan metafora. Tapi lailah yang sebenarnya.
Huruf ta (ة) pada kata lailah (لَيلَةٌ) menunjukan satu. Yakni Lailatu Qadr hanya terjadi satu malam (hari). Bukan 30 hari. Tapi al-Razi (w. 606 H.) dalam Mafatih al-Ghaib tidak demikian. Kata lailah, menurutnya tidak berarti menunjukan satu malam (hari), tapi bisa pula menunjuk seluruh hari-hari Ramadhan. Yaitu 29 hari atau 30 hari. Demikian arti kata lailah. Berikutnya akan penulis bahas arti al-Qadr.
Dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H.) diuraikan lengkap arti kata al-Qadr dalam Lailatul Qadr sesuai pandangan para mufassir dari kalangan sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabiin sebagai berikut:
1. al-Qadr artinya ketetapan Allah. Disabut Lailatul Qadr karena pada malam (hari) itu ditetapkan ajal-ajal makhluk, rizqi-rizqi, dan segala yang akan terjadi di alam semesta satu tahun ke depan dan diserahkan draf-nya ke malaikat untuk mulai direalisasikan. Ini kata Ibn Abbas (w. 68 H.) dan Qatadah (w. 118 H.)
2. al-Qadr artinya kadar atau bobot yang sempurna. Ibarat emas itu 24 karat. Disebut Lailatul Qadr karena malam (hari) itu punya kadar kemuliaan, keagungan, dan kedudukan yang maksimal dan sempurna. Ini kata al-Zuhri (w. 124 H.)
3. Abu Bakar al-Warraq (w. 240 H.) mengatakan, dinamakan Lailatul Qadr karena malam (hari) itu memberikan kepada yang mengisinya dengan aktivitas ibadah kadar keagungan yang belum pernah dimiliknya lalu mengembalikannya kepada Allah dalam keadaan berkadaragung pula.
4. Dinamakan Lailatul Qadr karena amal ibadah yang dilakukan di dalamnya mempunyai kadar yang agung.
5. Dinamakan Lailatul Qadr karena “ditetapkan”pada malam (hari) itu rahmat (kasih sayang) kepada orang-orang mukmin.
6. Dinamakan Lailatul Qadr karena pada malam (hari) itu diturunkan Kitab yang punya kadar, kepada rasul yang punya kadar, untuk umat yang punya kadar.
7. Dinamakan Lailatul Qadr karena pada malam (hari) itu turun para malaikat yang punya kadar.
8. Imam al-Khalil (w. 170 H.) mengatakan, al-Qadr artinya sempit. Orang yang disempitkan rizqinya dalam Al-Quran disebut qadr. Dinamakan Lailatul Qadr karena pada malam (hari) itu bumi sempit oleh para malaikat yang turun.
Demikian arti dari nama Lailatul Qadr. Wallahu A’lam
Masjid An-Nahl The Icon BSD City
20 Mei 2018 / 4 Ramadhan 1439




