MENGQALBUKAN AL-QURAN (Tafsir Surah al-Qadar Ayat 1 Bagian 3)

MENGQALBUKAN AL-QURAN
(Tafsir Surah al-Qadar Ayat 1 Bagian 3)
@deden_mm

Al-Quran dalam surah al-Qadar tidak disebutkan secara langsung. Melainkan dengan kata ganti atau disebut dhamir. Lalu muncul pertanyaan mengapa menampilkan kata ganti (dhamir) sementara sebelumnya tidak disebutkan kata yang digantikannya. Para mufassir melihat kata ganti untuk Al-Quran tidak mesti didahului kata Al-Quran sebelumnya karena Al-Quran sudah sedemikian nyatanya di hati para pengiman dan pengamalnya.

Imam Abu Mansur al-Maturidi (W. 333 H) dalam tafsir Ta’wilat Ahl al-Sunnah melihat adanya kemungkinan dhamir pada kata anzalnahu (أَنْزَلْنَاهُ) tidak kembali kepada Al-Quran tetapi kepada “kedamaian” yang ditunjukan oleh kata salamun (سَلاَمٌ) yang terdapat pada ayat 5 surah al-Qadar. Yakni, dengan kemungkinan ini, yang diturunkan pada Lailatul Qadar bukan Al-Quran tetapi kedamaian dan kesejahteraan sampai terbit fajar.

Kemungkinan kembalinya dhamir anzalnahu (أنْزَلْنَاهُ) kepada kedamaian dalam persfektif Abu Mansur al-Maturidi tidak spontan menghapus konteks Al-Quran di dalamnya karena Al-Quran pun salam, kedamaian dan kesejahteraanseluruhnya dalam wujudnya yang paling sempurna. Mengembalikan dhamir kepada Al-Quran dalam kata anzalnahu (أَنْزَلْنَاهُ) selain alasan maklum juga karena surah al-Qadar diletakkan persis setelah surah al-Alaq. Letak ini tauqifi (wahyu) dari Allah. Yakni ayat-ayat Allah yang dimulai dari “iqra” sampai seterusnya diturunkan pada malam al-Qadar.

Penutup surah al-Alaq tampil dalam perintah sujud dan mendekat kepada Sang Penurun Iqra melalui pengamalan “iqra.” Sujud berarti mendekatnya hamba kepada Allah melalui rangkaian ayat-ayat-Nya. Dan pada malam al-Qadar Allah turun mendekat kepada hamba-hamba-Nya dengan membawa ayat-ayat-Nya. Terlihat korelasi antara pembuka surah al-Qadar dengan penutup surah al-Alaq. Al-Quran adalah media mendekatnya hamba kepada Allah dalam sujud (shalat) sekaligus alasan mendekatnya Allah kepada hamba-Nya.

Dalam ilmu Balaghah terdapat beberapa alasan sesuatu diungkapkan dengan kata ganti. Yaitu untuk mengagungkan. Tampilnya Al-Quran di balik kata ganti hu (هُ) dalam surah al-Qadar ayat 1 tak lain untuk mengagungkannya. Sesuai dengan konteks surah ini tentang keagungan Al-Quran ditinjau dari aspek Yang Menurukannya, proses penurunannya, dan waktunya. Kata ganti hu (هُ) menyimpan segala keagungan Al-Quran yang tidak dapat ditampilkan kata aslinya.

Kata ganti dalam ilmu Nahwu sebagaimana disinggung di atas dinamakan dhamir yanh secara harfiyyah berarti yang tersembunyi. Hati disebut dhamir karena sangat tersembunyi, bathin, dan rahasia. Apalagi isinya. Ayat ini hendak memberikan isyarat bahwa Al-Quran yang agung itu, yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, yang melailatulqadarkan malam turunnya, adalah Al-Quran yang tersimpan di dalam dhamir bukan tersimpan di tempat yang lain. Bukan di kertas, dan bukan di aplikasi android atau i-os.

Tempat Al-Quran yang sebenarnya adalah hati. Dalam Surah as-Syuara ayat 194 dinyatakan Al-Quran dibawa turun oleh Ruh yang Amanah (Malaikat Jibril) ke dalam hati Rasulullah Saw.. Menghafal Al-Quran adalah proses mengkalbukan ayat, menghatikan Al-Quran. Hatipun berlailatulqadar setiap malamnya dan berramadhan setiap harinya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, dalam tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baik seluruh tubuh dan apabila rusak maka rusak seluruh tubuh. Yaiitu tak lain adalah hati. Hati yang baik adalah hati yang berayat yang darinya peradaban besar lahir. Sebaliknya hati yang tak berayat tak dapat melakukan apa-apa kecuali kerusakan. Rasulullah Saw. pernah mengumpamakan hati yang kosong dari ayat seperti rumah yang rusak. Mari hatikan Al-Quran untuk lailatulqadarkan malam-malamnya.

Wallahu A’lam
Masjid An-Nahl The Icon BSD City
19 Mei 2018 / 3 Ramadhan 1439

(Visited 100 times, 1 visits today)
Bagikan