ADAKALANYA TAK BERJAMAAH LEBIH BANYAK PAHALANYA

ADAKALANYA TAK BERJAMAAH LEBIH BANYAK PAHALANYA

Oleh: @deden_mm

Pada tahun 17 H., atau dalam riwayat lain, 18 H., wabah mematikan menimpa rombongan pasukan muslimin di kawasan Emaus (‘Amwâs / عمواس). Mereka di bawah pimpinan seorang sahabat yang agung lagi shalih, Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah. Korban berjatuhan. Kawasan Emaus pun lockdown sampai khalifah Umar bin Khathtbab urung niat untuk masuk kedalamnya.

Abu Ubaidah, atas perintah khalifah Umar bin Khaththab melalui sepucuk surat, memindahkan pusat kerumunan pasukan dari dataran yang rendah ke dataran yang tinggi untuk mengurangi percepatan penularan wabah. Tapi, Abu ‘Ubaidah tidak memberlakukan social distancing melainkan tetap berkerumun.

Abu ‘Ubaidah bahkan mengajak seluruh pasukan untuk tetap berkumpul dan berjamaah sembari terus bersabar menghadapi wabah. Beliau kemudian menyampaikan khuthbah:

“Wahai manusia, wabah ini adalah rahmat untukmu, doa nabimu, dan kematian orang-orang shalih sebelum kamu.”

Dalam khuthbahnya, Abu Ubaidah meminta kepada Allah agar mendapatkan bagian kesyahidan dari wabah tersebut. Dan, sebelum Abu ‘Ubaidah menyelesaikan khuthbahnya, virus aktif pada dirinya lalu beliau jatuh menemui taqdir syahidnya.

Kempemimpinan berlanjut kepada sahabat agung yang lain, yaitu Mu’adz bin Jabal. Dalam khuthbahnya, Mu’adz bin Jabal mengucapkan hal yang sama dengan yang diucapkan Abu ‘Ubaidah. Beliau pun meminta kepada Allah agar keluarga Mu’adz diberikan kesyahidan seperi diberikan kepada Abu ‘Ubaidah. Tiba-tiba Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal jatuh lalu syahid.

Mu’adz bin Jabal mengurus jenazah putranya. Dan, tidak bangkit dari proses pemakaman kecuali beliau pun jatuh dan menemui taqdir syahidnya. Lalu, Amr bin Ash tamlil mengambil alih kempemimpin. Dan, Amr yang tak tega melihat orang-orang shalih jatuh bergelimpangan, dia segara membuat kebijakan yang berbeda.

Dalam khuthbahnya, Amr bin Ash berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya wabah ini apabila terjadi, dia menyala seperti nyalanya api. Maka, berlindungkan kalian darinya dengan berpencar ke gunung-gunung.”

Tindakan Amr bin Ash ini, kendati mendapatkan protes keras dari sahabat senior, nyatanya berhasil menghambat penularan wabah setelah sebelumnya merenggut tak kurang dari 25 ribu mujahidin tanpa social distancing. Dan, jumlah tersebut adalah setengah dari jumlah keseluruhan pasukan. Yakni, dengan kata lain, melalui wasilah social distancing, setengah dari jumlah pasukan dapat terselematkan.

Ketika tindakan Amr bib Ash sampai kepada Umar bin Khaththab maka Umar merespon positif tanpa sedikit pum mengecilkan peran pemimpin pasukan sebelumnya yang memilih syahid dalam wabah.

Di tengah Covid-19 yang mewabah di berbagai belahan bumi hari ini, mungkin ada yang memilih tetap berkumpul di masjid-masjid dalam shalat berjamaah dan shalat Jumuat, maka berarti mengambil jalannya Abu Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal. Dan, ada juga yang memilih isolasi diri, maka berarti memilih jalannya sahabat agung, Amr bin Ash. Dan, inilah yang dipilih para ulama.

Bogor, 19 Maret 2020
Deden Muhammad Makhyaruddin
Indonesia Murojaah

(Visited 70 times, 1 visits today)
Bagikan