Berlindung Kepada Tuhan-Nya Manusia

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

BERLINDUNG KEPADA TUHAN-NYA MANUSIA
(Tafsir Surah al-Nâs Ayat 1)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Allah Swt. berfirman:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakan aku berlindung kepada Tuhannya manusia

Surah sebelumnya, yakni surah al-Falaq, datang memberi perintah kepada Rasulullah Saw, juga kepada seluruh umatnya, agar meminta perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan makhluk, baik fisik maupun non fisik yang terjadi di setiap tempat dan waktu. Lalu Allah Swt mengkhususkan kejahatan makhluk tertentu, yaitu penyihir dan pendengki. Karena kejahatannya kembali kepada menzalimi pihak lain dan diri sendiri. Al-Falaq ditutup dengan bahaya kejahatan dengki. Hal ini menunjukan bahwa dengki merupakan bencana dan kejahatan yang paling besar dalam kemanusiaan. Dengki yang terdapat pada orang lain saja membahayakan kita apalagi dengki yang terdapat pada diri kita sendiri. Tentu lebih bahaya dan lebih membahayakan. Permusuhan yang terjadi antara manusia dan jin (setan atau Iblis) dipicu perasaan dengki. Oleh karenanya datang surah al-Nâs memerintahkan kepada Rasulullah Saw dan umatnya agar meminta perlindungan kepada Allah Swt dari bisikan setan (al-Khannâs) yang tak lain merupakan buah dari kedengkian Iblis yang mengakar kepada manusia.

Surah ini dimulai dengan kata qul (قُلْ) yang secara harfiyah berarti “katakan.” Banyak sekali dalam Al-Qur’an kata qul (قُلْ). Hal ini membuktikan Rasulullah Saw menyampaikan wahyu persis sesuai dengan redaksi yang diterima beliau dari Allah Swt melalui malaikat Jibril. Tidak ada yang diubah. Misalnya, penulis mengatakan kepada Anda: “Katakan kepada ketua DKM Masjid An-Nahl saya tidak bisa hadir.” Jika metode penyampaian Anda mengikuti pola penyampaian wahyu oleh Rasulullah Saw maka Anda akan mengatakan kepada Ketua DKM An-Nahl dengan menirukan kata-kata penulis. Tidak diubah. Juga tidak ditambah dan dikurangi. Anda akan mengatakan kepada Ketua DKM: “Katakan kepada ketua DKM An-Nahl saya tidak bisa hadir.” Terkait surah al-Nâs ini Rasulullah Saw pernah ditanya tentang redaksi ayatnya. Beliau memerintahkan agar para sahabat menirukan sesuai dengan yang beliau sampaikan termasuk kata qul-nya. Jika kita membaca surah al-Nâs tanpa qul maka yang kita baca bukan surah al-Nâs, tapi kita sedang meminta perlindungan kepada Allah dengan kalimat yang bukan Al-Qur’an melainkan diambil dari Al-Qur’an. Dengan kata lain, kata qul dalam Al-Qur’an adalah bukti bahwa tak satu huruf pun wahyu yang tak tersampaikan oleh Rasulullah Saw.

Yang diperintah dengan kata qul adalah satu orang. Dalam hal ini yang satu orang tersebut adalah Rasulullah Saw. Padahal yang dimaksud adalah termasuk umatnya. Redaksi ini mampu menghadirkan kebersamaan dengan Rasulullah Saw saat membaca Al-Qur’an. Ketika mengatakan qul sementara menyimpan perintah kepada Rasulullah Saw maka hati merasakan kehadiran beliau di depan mata. Terasa pula seakan-akan beliau sedang mendiktekan ayat. Al-Qur’an tidak berubah semenjak pertama kali diturunkan. Surah al-Nâs yang sekarang kita baca adalah surah al-Nâs yang sama dengan yang dibaca Rasulullah Saw dan para sahabat dahulu. Sama pula dengan yang dibawa malaikat Jibril dan yang tertulis di Lauh Mahfuzh. Dahulu surah al-Nâs berhasil mencerdaskan mental para pembacanya. Bersih dari bisikan-bisikan negatif para pembisik yang menyelinap masuk ke alam bawah sadar dari kalangan jin dan manusia. Membaca Al-Qur’an ibarat sedang mengobrol dengan Allah Swt. di dekat Rasulullah Saw dan malaikat. Silahkan mau meminta apa. Muhammad bin Ka‘ab al-Qurazhi (w. 108 H.), seorang tabiin keturunan Yahudi Bani Quraizhah yang dikenal pada zaman Rasulullah Saw kental dengan mitos dan sihir mengatakan saat menafsirkan surah al-An‘âm (6) ayat 19: “Barangsiapa yang Al-Qur’an sampai kepadanya maka seakan melihat Nabi Saw.”

Kata qul (قُلْ) adalah Fi‘il Amar (Kata Perintah) dari kata qâla (قَالَ) yang secara harfiyah berarti “berkata.” Tapi, ketika bersanding dengan jumlah (kalimat) maka mengandung unsur hati antara “berat sangka” dan “yakin.” Dalam Alfiyah sebagai kitab induk tentang Gramatika Arab (Nahwu) di Pesantren Tradisonal di Nusantara terdapat pandangan ulama Nahwu bahwa derivasi kata yang tersusun dari qâf (قَ) alif (ا) dan lâm (لَ), atau disebut mâddah qaul bisa difungsikan secara gramatikal seperti kata zhanna (ظَنَّ), artinya berkisar antara “berat sangka” atau “yakin.” Ia mempunyai dua objek yang berupa rangkaian kalimat yang disebut Jumlah Ismiyah. Objek pertama berupa Mubtada (Subjek) dan objek kedua berupa Khabar Mubtada (Predikat). Contohnya:

زَيدٌ كَاتِبٌ

Zaid adalah penulis.

Zaid (زَيدٌ) disebut Mutbtada (Subjek) dan Kâtibun (كَاتِبٌ) disebut Khabar Mubtada (Predikat). Ketika ditambakan kata zhanna (ظَنَّ) di pembukanya maka kedudukan gramatikal kedua kata tersebut berubah menjadi dua objek dzanna (ظَنَّ). Vokal terakhir keduanya pun berubah dari dhammah (bunyi u atau un) menjadi fathah(bunyi a ata an). Kalimatnya menjadi sebagai berikut:

ظَنَنْتُ زَيدَا كَاتبَا

Aku yakin Zaid adalah penulis.

Mâddah Qaul mempunyai fungsi gramatikal serupa dengan zhanna (ظَنَّ). Tapi mayoritas ulama mensyaratkan bahwa hanya derivasi a-taqûlu (أَتَقُولُ) saja yang mempunya fungsi seperti zhannan (ظَنَّ), yaitu derivasi mudhâri‘ (kata kerja dari mâddah qaul yang menunjuk waktu sekarang dan akan datang) yang didahului kata tanya a (أَ) langsung tanpa pemisah yang bersubjek orang kedua. Artinya: “Apakah kamu berkata.” Jika difungsikan seperti zhanna (ظَنّ) maka redaksinya akan seperti contoh berikut:

أَتَقُولُ زَيدَا كَاتِبًا

Apakah kamu yakin Zaid adalah penulis?

Mâddah Qul tak lagi berarti “berkata,” tapi “yakin” atau “berat sangka.” Kemudian menurut Bani Sulaim sebgaimana diriwayatkan oleh Imam Sibawaih (w. 180 H.)mâddah qaul dapat difungsikan seperti zhanna (ظَنَّ) secara mutlak tanpa syarat. Seluruh derivasinya dapat difungsikan seperti zhannâ. Termasuk kata qul (قُلْ). Dalam hal ini Imam Ibn Malik (w. 672 H.) memberi contoh dengan kalimat:

قُلْ ذَا مُشْفِقًا

Yakinlah orang ini adalah penyayang

Ketika mâddah qaul  difungsikan gramatikalnya seperti zhannâ (ظَنَّ) maka terjemahannya pun berubah dari “berkata” menjadi “yakin.” Unsur pekerjaan hati, yakni yakin, dalam mâddah qaul sangat kuat kendati tidak difungsikan seperti zhanna (ظَنَّ) dalam gramatikalnya. Oleh karenanya, dalam Al-Qur’an, ketika Allah Swt menggunakan derivasi mâddah qaul, misalnya qul (قُلْ) dan qâla (قَالَ), maka bukan sekadar perkataan, melainkan perkataan yang dilandasi keyakinan. Misalnya firman Allah Swt. dalam surah al-Mâ’idah ayat 17:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sungguh telah kufur orang yang berkata sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam (QS al-Mâ’idah, 5 : 17)

Yang dimaksud “berkata” pada ayat di atas bukan sekadar berkata tapi meyakini. Karena kalau sekadar berkata maka tidak kufur. Demikian pula ketika Allah mengatakan qul (قُلْ) maka bukan sekadar perintah mengatakan, tapi juga perintah meyakini. Agar tiada kata kecuali keluar dari sebuah keyakinan yang mantap, hingga membuahkan tindakan yang berkeyakinan. Optimis. Tidak mengambang. Dalam surah al-Shaff ayat 2 dan 3, Allah menegur dengan keras kepada orang-orang mukmin yang mengatakan hal yang tidak dilakukan. Dinyatakan di sana bahwa murka Allah Swt sangat besar terhadap yang mengatakan hal yang tidak dilakukan. Termasuk kata qul (قُلْ) di pembuka surah al-Nâs ini. Artinya tak sekadar perintah mengatakan tapi juga meyakini. Yakni berlindung kepada Allah mesti dilafalkan dengan penuh keyakinan. Jika ini dilakukan maka tak akan ada kekuatan negatif yang dapat mengganggu manusia termasuk bisikan al-khannâs(setan), sihir, dan kedengkian pendengki. Perjalanan hidupnya mulus karena dilindungi Allah.

Kata ’a‘ûdzu (أَعُوذُ) yang secara harfiah berarti “aku berlindung” menunjukan waktu sekarang dan akan datang. Dalam hal ini manusia selama hidupnya punya ikatan perlindungan dengan Allah Swt. Manusia membutuhkan Allah untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Kata ’a‘ûdzu adalah ikrar seorang manusia akan kelemahannya tanpa perlindungan Allah Swt. Keadaan ini menggambarkan fitrah manusia yang sebenarnya. Unta yang baru melahirkan disebut al-‘â’idz (العاَئِذ) sampai hari ketujuh dari kelahiran anaknya. Karena selama tujuh hari pertama kelahiran tersebut keadaan anaknya sangat lemah. Induk unta melindungi anaknya yang berlindung kepadanya. Manusia hidup di alam raya dalam keadaan lemah seperti anak unta yang baru lahir. Ia membutuhkan perlindungan Allah seperti anak unta membutuhkan perlindungan induknya. Dalam hal ini, yakni ketika manusia berlindung kepada-Nya, Allah menampilkan diri-Nya sebagai Rabb al-Nâs (رَبِّ النَّاسِ), Tuhan manusia yang menciptakan dan mengurusnya. Lihat kembali pengertian kata rabb (رَبّ) yang beranekaragam dalam tafsir surah al-Fâtihah ayat 2. Makhluk Allah bukan hanya manusia. Tapi seluruh alam raya ini. Allah adalah rabb al-‘âlamîn, Tuhan semesta alam. Manusia di tengah alam raya hanya makhluk kecil yang tak ada apa-apanya. Manusia, dengan segala keterbatsannya, harus bersaing dengan makhluk-makhluk Allah lain yang lebih besar darinya. Manusia pun punya musuh. Yaitu nafsu dan setan. Sementara makhluk lain tak punya musuh. Sehingga, bagi manusia, hidup tak ubahnya perjuangan yang melelahkan. Tapi ketika manusia berlindung kepada Allah Swt dengan ikrar perlindungan yang berkeyakinan maka Allah menyatakan diri-Nya sebagai Rabb al-Nâs, Tuhan-nya manusia, seakan-akan makhluk Allah itu hanya manusia saja. Ini membuktikan dekatnya perlindungan Allah kepada manusia yang berlindung kepada-Nya.

Huruf ba (بِ) yang masuk kedalam kata rabb (رَبِّ) sehingga menjadi bi rabb (بِرَبِّ) mempunyai makna ilshâq dan isti‘ânah. Diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “dengan.” Dalam terjemahan Al-Qur’an Kementrian Agama, (بِ) pada ayat ini diterjemahkan dengan “kepada.” Sehingga ’a‘ûdzu bi rabbinnâsterjemahannya menjadi “aku berlindung kepada Tuhannya manusia.” Tampaknya terjemahan tersebut merupakan sebuah penyesuaian terhadap kata “berlindung” tanpa melepaskan makna ilshâq dan isti‘ânah dari ba (بِ). Ilshâq (الإِلْصَاق) sebagaimana telah penulis paparkan pada penafsiran surah al-Fâtihah ayat 1 mempunyai arti “melekat.” Seperti melekatnya tangan pada baju dalam kalimat amsaktu al-tsauba bi al-yadi (أَمْسَكْتُ الثَّوبَ بِاليَدِ). Artinya saya menggenggam baju dengan tangan.” Sedang al-Isti‘ânah (الإِسْتِعَانَة) mempunyai arti “meminta pertolongan.” Dalam hal ini, berlindung kepada Allah Swt dengan redaksi ’â‘ûdzu bi rabbinnâs melukiskan kedekatan manusia dengan Allah Swt ketika meminta pertolongan. Ibarat manusia yang dalam keadaan lemah dan hendak terjatuh lalu Allah Swt menggenggam tangannya. Orang yang tangannya dalam genggaman Allah Swt bagaimana mungkin bisa celaka atau jatuh.

Redaksi Rabb al-Nâs (رَبِّ النَّاسِ) di mana kata rabb (رَبّ) bersanding dengan kata al-nâs (النَّاس) disebut Idhâfah al-Tasyrîf. Yaitu Penyandingan Memuliakan yang lebih menunjukan kedekatan manusia yang berlindung kepada Allah setelah ditunjukan oleh (بِ) sebelumnya. Tidak ada cara lain bagi manusia menjadi mulia kecuali dengan mendekat kepada Allah dengan mengatakan qul ’a‘ûdzu bi rabbinnâs (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ). Karenanya surah al-Nâs jika dibacakan mempunyai kekuatan melebihi mantra. Sihir, gangguan jiwa, hati yang tak tenang, kegamangan hidup, bahkan penyakit bisa dihilangkan dengan membacanya sesuai dengan kadar kedekatan hati pembacanya dengan Allah sebagaimana terlukis di balik makna qul ’a‘ûdzu bi rabbinnâs. Dalam banyak momen, di Indonesia, khususnya momen meminta kepada Allah, surah al-Nâs menjadi bacaan yang tidak dapat ditinggalkan. Gangguan kemanusia global di suatu negeri, termasuk di Indonesia, dapat diatasi oleh tangan-tangan manusia yang dilindungi Allah Swt dengan perlindungan seperti yang dikandung dalam ayat pertama surah al-Nâs. Bersama manusia-manusia yang berlindung kepada Tuhannya Manusia potret Kemanusia yang Adil dan Beradab menjadi nyata di negeri ini. Wallâhu A‘lam.

(Visited 374 times, 1 visits today)