Surat Untuk Manusia

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

SURAT UNTUK MANUSIA
(Pendahuluan Tafsîr Surah al-Nâs)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Surah al-Nâs adalah surah yang menempati posisi terakhir dalam Mushaf Al-Qur’an. Yaitu bernomor 114. Tapi menjadi dekat pula dengan surah al-Fâtihah dalam bacaannya. Karena disunnahkan setiap kali tamat membaca Al-Qur’an langsung memulai lagi dari al-Fâtihah. Ini yang disebut kullamâ halla irtahal (كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ). Bahwa Rasulullah Saw mencintai penghafal Al-Qur’an yang irtahala (memulai kembali) setiap kali halla (selesai atau tamat). Ibarat seoang musafir yang ketika menempuh sebuah  perjalanan langsung berangkat kembali setelah sampai pada tujuan akhir. Teknis mengkhatamkan Al-Qur’an yang sunnah bukanlah berakhir di surah al-Nâs tapi berakahir di surah al-Fâtihah atau al-Baqarah. Inilah mengapa meski al-Nâs menempati posisi terakhir dan al-Fâtihah menempati posisi pertama keduanya menjadi berdekatan. Mungkin sebenarnya Al-Qur’an itu seperti lingkaran di mana tempat memulai maka di situ pula tempat mengakhiri. Tafsir An-Nahl ini dengan mempertimbangkan manfaatnya berlanjut dari surah al-Fâtihah ke surah al-Nâs dan surah-surah pendek berikutnya, sebagaimana Al-Qur’an dahulu turun berangsur-angsur selama lebih kurang 23 tahun di mana ayat yang turun selalu disesuaikan dengan manfaat yang langsung dapat dirasakan ummat, tidak disesuaikan dengan urutan Mushaf.

Surah al-Nâs terdiri dari 6 Ayat. Dari urutan turunnya surah al-Nâs menempati urutan ke 21. Turun setelah surah al-Falaq yang menempati urutan ke 20 dan sebelum surah al-Ikhlâsh yang menempati urutan ke 23. Sedang dalam urutan Mushaf surah al-Nâs bernomor 114, al-Falaq bernomor 113 dan al-Ikhlâs bernomor 112. Dengan demikian surah al-Nâs dilihat dari nomor urut turunnya termasuk surah Makkiyyah, yakni turun di Makkah sebagaimana diriwayatkan dari seorang tabiin bernama Qatadah (w. 118 H.) dan seorang sahabat ahli tafsir terkemuka bernama Ibnu Abbas (w. 58 H.). Lalu ketika Rasulullah Saw disihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin A‘sham di Madinah, Allah Swt memberitahukan kepada beliau melalui dua malaikat dalam mimpi beliau agar membaca surah al-Falaqdan al-Nâs untuk melepaskan pengaruh sihir tersebut. Kisahnya akan penulis kutip in-syâ’allâh ketika menafsirkan surah al-Falaq. Sehingga banyak yang menduga bahwa surah al-Nâs turun bersamaan dengan surah al-Falaq di Madinah sehingga termasuk Madaniyyah, bukan di Makkah. Padahal yang sebenarnya terjadi di Madinah hanya merupakan salah satu pejelasan fungsi dari surah al-Falaq dan al-Nâs, bukan kisah turunnya.

Surah al-Nâs diberi nama Surah al-Nâs langsung oleh Rasulullah Saw. Tapi surah al-Nâs dan surah al-Falaq disebut pula al-Mu‘awwidzatain (Dua Surat Pemberi Perlindungan). Juga diberi nama al-Musyaqsyiqatain (Dua Mantra Penawar). Al-Zamakhsyari (w. 538 H.) dan al-Qurthubi (w. 671 H.) menyebutkan al-Muqasyqisyatain dengan pengertian sama dengan sebelumnya. Imam al-Tirmidzi (w. 279 H.) menandai surah al-Nâs dengan nama al-Mu‘awwidzatain. Imam Ibn Arfah (w. 803 H.) dalam tafsir al-Muharrar al-Wajîz menamai surah al-Nâs dengan Sûrah al-Mu‘awwidzah al-Tsâniyah (Surat Pemberi Perlindungan Kedua). Sementara Imam al-Bukhari (w. 256 H.)) dalam kitab Shahîh-nya menandai surah al-Nâs dengan nama surah Qul ’A‘ûdzu bi Rabbinnâs. Adapun yang tertulis dalam Mushaf-mushaf baik sejak dahulu sampai sekarang adalah Sûrah al-Nâs. Demikian pula yang tertulis dalam kitab-kitab tafsir.

Salah seorang sahabat senior ahli Al-Qur’an, yaitu Ibn Mas‘ud (w. 32 H.), sempat diriwayatkan tidak memasukan surah al-Falaq dan al-Nâs kedalam bagian dari surat-surat Al-Qur’an. Banyak orang yang kemudian salah faham dengan riwayat tersebut. Mereka menyatakan bahwa Ibn Mas‘ud (w. 32 H.) tidak memasukan al-Falaq dan al-Nâs kedalam Al-Qur’an. Karena menurutnya, al-Falaq dan al-Nâs hanya kalimat pelindungan yang dibaca dari Rasulullah Saw bukan bagian dari Al-Qur’an. Menurut riwayat yang lain, surah al-Falaq dan al-Nâs tidak terdapat di dalam Mushaf Ibn Mas‘ud. Padahal tidak demikian kenyataannya. Bacaan Al-Qur’an yang kita baca hari ini adalah dari Ibn Mas‘ud (w. 32 H.) pula. Karena Imam Ashim (w. 127 H.) selain mengambil bacaan Al-Qur’an dari Abu Abdirrahman al-Sulami dari Ali bin Abu Thalib, Ubay bin Ka‘ab, Zaid bin Tsabit dan Utsman bin Affan, juga mengambil bacaan Al-Qur’an dari Dzir bin Hubaisy dari Ibn Mas‘ud. Dan, ternyata, riwayat-riwayat tersebut sampai kepada kita berikut Mushaf-nya secara mutawatir dengan al-Falaq dan al-Nâs bagian dari Al-Qur’an.

Al-Nâs (الناس) secara harfiyah berarti manusia. Surah al-Nâs adalah Surat Manusia. Dalam al-Qur’an manusia diungkapkan dengan al-Insân (الإنسان), al-Ins (الإنس), al-Basyar (البشر), Unâs (أناس), Insiy (إنسيّ), dan Anâsiya (أناسيّ). Kosakata terakhir (anâsiya) ejaannya mirip dengan ejaan kata “manusia” dalam bahasa Indonesia. Bedanya al-Nâs dengan kosakata-kosakata Al-Qur’an untuk manusia lainnya adalah maknanya yang jamak. Yakni al-Nâs tidak menunjuk kepada seorang manusia tapi kepada kelompok manusia. Dengan kata lain manusia tidak disebut al-Nâs kecuali sudah membentuk kelompok sosial atau sudah bermasyarakat. Menurut Imam Sibawaih (w. 180 H.), kata al-Nâs berasal dari kata al-Unâs, jamak dari kata al-Ins. Tapi pendapatnya tidak didukung bukti yang kuat sehingga para ulama menetapkan bahwa kata al-Nâs yang didukung bukti yang kuat berasal dari kata al-naus (النَّوس), artinya bergerak. Tampkanya al-Nâs menunjuk kepada manusia sebagai makhluk sosial yang bergerak membangun peradaban. Surah al-Nâs ini adalah Surat Manusia-manusia Pembangun Peradaban. Al-Nâs yang menjadi nama surat di sini adalah al-Nâs yang sama yang terdapat dalam seluruh Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an terdapat panggilan-panggilan universal untuk seluruh manusia tanpa dibedakan ras, suku dan agama untuk membangun peradaban. Redaksi panggilan yang digunakan adalah yâ ayyuhannâs (يا أيها الناس). Al-Nâs yang dimaksud adalah al-Nâs yang dilukiskan dalam surah ini. Dalam kitab-kitab ‘Ulûm al-Qur’ân disebutkan bahwa setiap surah yang di dalamnya terdapat ya ‘ayyuhannâs adalah Makkiyyah. Yakni diturukan di Makkah. Oleh karenanya para ulama lazim menafsirkan al-Nâs dengan orang-orang Makkah yang bukan muslim. Tapi tidaklah demikian. Panggilan yang menggunakan yâ ayyuhannâs terdapat pula di dalam surah-surah Madaniyyah. Misalnya surah al-Baqarah, al-Nisâ’ dan al-Hujurât. Bahkan surah al-Nisâ dibuka dengan ya ‘ayyuhannâs. Demikian pula surah al-Hujurât ayat 13 yang turun setelah Fathu Makkah dibuka dengan panggilan ya ‘ayyuhannâs. Jika diamati dengan saksama ayat-ayat Madaniyah yang dibuka dengan ya ayuuhannâs maka terlihat bahwa ayat tersebut sedang mengajak bersatu merajut persaudaraan yang universal dalam rangka membangun peradaban kemanusiaan (manusia) yang maju. Dalam hal ini, surah al-Baqarah ayat 185 menegaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan adalah hudan li al-nâs, petunjuk untuk al-Nâs yang tak lain adalah al-Nâs yang dimaksud dalam surah al-Nâs ini dan dalam surah-surah yang lain. Yakni Al-Qur’an adalah untuk semua manusia tanpa dikotak-kotakan dengan ras, suku, dan Agama. Ini tidak seperti biasanya yang menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini karena ayat-ayat tersebut sedang melebarkan persaudaraan yang universal setelah bangunan persaudaraan tersebut kokoh antara sesama mukmin.

Surah al-Nâs memberikan petunjuk bahwa manusia yang berperadaban adalah manusia yang bersaudara antara sesama manusia sebagai manusia yang hal tersebut tidak dapat dicapai kecuali setelah bebas dari bisikan negatif tentang kepentingan individu yang terus menyelinap ke alam batinnya. Menjadi orang baik atau disebut shalih mungkin mudah tapi menjadi orang baik yang mengajak kebaikan kepada sesama manusia agar bersama-sama dalam kebaikan perlu perjuangan yang lebih gigih lagi. Dalam sebuah hadaits riwayat al-Thabarani: “Sebaik-baik manusia adalah semanfaat-manfaat manusia untuk manusia lainnya.” Rasulullah Saw sampai usianya 40 tahun tampil sebagai pribadi yang baik, membangun keluarga yang harmonis ditambah dengan perniagaan yang sukses. Orang-orang Quraisy, baik saudara maupun bukan saudara, semuanya memuji keshalihan beliau. Beliau diberi julukan al-Amîn, yang terpercaya (amanah). Namun ketika beliau meningkatkan kebaikannya dari shâlih (baik) menjadi mushlih (mengajak orang lain kepada kebaikan) untuk mebangun masyarakat yang berperadaban maka orang-orang yang sebelumnya memuji berubah menjadi para pencela beliau. Sebutan al-Amîn pun berubah menjadi al-Majnûn (gila). Ini karena ketika manusia bergerak dari pribadi yang shalih menuju al-Nâs yang shalih maka akan banyak menemukan benturan kepentingan, egoisme, perbedaan pendapat. Hanya manusia-manusia yang berjiwa besar dan bebas dari kepentingan-kepentingan pribadinya saja yang dapat menjadi al-Nâs seutuhnya. Surah al-Nâs ini dari ayat 1 sampai 6 langsung menukik kepada praktek bagaimana manusia menjadi merdeka dari kepentingan-kepentingan pribadi yang menguasai jiwanya. Disebut dalam surah ini dengan al-waswâs al-khannâs.

Surah al-Nâs pun dimulai dengan bismillâh seperti surah-surah yang lain pada umumnya. Hal ini tak lain karena melihat kedamaian universal Al-Qur’an untuk al-Nâs. Lebih mengehentak lagi. Kalau Rahmân dan Rahîm-nya Allah dalam surah al-Fâtihah dinyatakan untuk segenap al-‘âlamîn (alam semesta) maka pada surah ini Rahmân dan Rahîm-nya dinyatakan khusus untuk al-Nâs, sebagai makhluk yang di tangannya tergenggam amanah Allah untuk membangun peradaban dalamal-‘âlamîn. Jika di dalam al-Fâtihah ada rabbil ‘âlamîn, mâliki yaumiddîn, dan iyyakâ na‘budu (hanya kepada-Mu menyembah) maka pada surah ini adalah rabbin nâs, malikin nâs, dan ilâhinnâs (Yang Disembah Manusia). Tampak hubungan yang sangat erat antara surah pertama Al-Qur’an dengan surah terakhir Al-Qur’an. Bahkan seakan-akan memberikan pesan bahwa Al-Qur’an yang dibuka dengan al-Fâtihah dan ditutup dengan al-Nâs seluruh isinya adalah untuk peradaban manusia sebagai al-Nâs yang bahagia dan sejahtera sampai akhirat dalam rububiyah (rabb), mulkiyyah (malik), dan uluhiyah (ilâh) Allah sebagaimana akan penulis uraikan secara terperinci saat mulai menafsirkan ayat-ayat dari surah al-Nâs ini kedepan. In-syâ’allâh.

(Visited 81 times, 1 visits today)