LAILATUL QADAR BUKAN MALAM SERIBU BULAN

LAILATUL QADAR BUKAN MALAM SERIBU BULAN

Seringkali malam Lailatul Qadar disebut malam seribu bulan. Yakni, setara seribu bulan. Padahal, tidaklah demikian. Lalu, semulia apakah sebenarnya malam Lailatul Qadar itu?

Dalam surah al-Qadr ayat 3 dinyatakan, Lailatul Qadar adalah khairun (خَيرٌ). Kata khairun di sini tidak berarti “baik,” atau “kebaikan.” Tapi, merupakan af’al tahfdhil (أَفْعَلُ لِلتَّفْضِيلِ) yang menbahkan arti “lebih.” Yaitu, lebih baik.

Asalnya, akhyaru (أَخْيَرُ), artinya lebih baik. Lalu, hamzahnya dibuang menjadi (خْيَرُ), lalu harakat fathah pada huruf ya (يَ) dipindahkan ke atas huruf kha (خَ) menjadi khair (خَيرٌ).

Yang menunjukkan khairun (خَيرٌ) di sini adalah Af’al Tafdhil adalah kata min (مِنْ) setelahnya, artinya “dari.” Kata ‘alfi syahrin (ألْفِ شَهْرٍ) yang dimasuki oleh min (مِنْ) adalah mufaddhal ‘alaih, yaitu pembanding yang terkalahkan kelebihannya.

Kata alfi (أَلْفِ), artinya seribu, tidaklah berarti angka seribu yang sebenarnya, tetapi menunjukan tak terhingga, karena dalam bahasa Arab, angka tertinggi adalah kata alfun (أَلْفٌ), di mana sebutkan untuk angka juta, milyar, triliun, dan seterusanya adalah kelipatan kata alfun (أَلْفٌ).

Penggunaan kata syahrin (شَهْرٍ) setalah kata alfi (أَلْفِ), artinya bulan, adalah tidak seperti dalam surah-surah yang lain yang menggunakan kata sanatin (سَنَةٍ) setelah kata alfi (أَلْفِ), artinya seribu tahun.

Mengapa tidak menggunakan alfi sanatin (أَلْفِ سَنَةٍ) saja yang tentu menunjukan lebih banyak sehingga lebih memuliakan malam itu?

Hal ini karena kata sanah (سَنَة) menyimpan makna tahun-tahun yang penuh kesulitan seperti peceklik dalam lain-lain. Sedang kata syahr (شَهْرٍ) menunjukan makna kemasyhuran, kualitas waktu yang tinggi, dan kemuliaan.

Berarti, ‘alfi syahrin (أَلْفِ شَهْرٍ) adalah waktu unlimited yang berkualitas tinggi, bukan hanya seribu bulan, atau seribu tahun, tapi lebih dari itu.

Jika waktu yang demikian rupa itu begitu mulia sampai gak tak ada angka pasti yang dapat menjelaskannya maka malam Lailatul Qadar bukan setara dengannya, tapi khairun (خَيرٌ).

Yakni, kemuliaan dan kebaikan Lailatul Qadar lebih baik berkali-kali lipat dibanding kemuliaan dan kebaikan waktu berkualitas tinggi yang unlimited itu.

Demikian, wallahu a’lam.

Deden M. Makhyaruddin
RS PMI Bogor, 25 Ramadhan 1442 H.

(Visited 433 times, 1 visits today)
Bagikan