AL-QUR’AN BUKAN ARAB? (Sisi Lain Islam Nusantara dan Kalimat Membumikan Al-Qur’an)

AL-QUR’AN BUKAN ARAB?
(Sisi Lain Islam Nusantara dan Kalimat Membumikan Al-Qur’an)
Oleh: @deden_mm

Setelah Langgam Nusantara, kini ramai Islam Nusantara. Perlu kiranya dibahas sekelumit tentang kearaban Al-Qur’an dengan pendekatan yang menyeluruh. Karena sepintas, Al-Qur’an yang turun dalam bahasa Arab mestinya hanya untuk orang Arab, tidak untuk semua manusia. Apakah bahasa Al-Qur’an sebenarnya hingga bisa untuk seluruh manusia?

Studi filologi menyimpulkan bahasa tertua di dunia adalah bahasa Indo-Eropa. Menurunkan bahasa Sangsakerta kemudian bahasa Smit. Dan bahasa Arab termasuk rumpun Smit bersama bahasa Ibrani dan lainnya. Riset ini bersandar pada temuan tulisan-tulisan purbakala karena memang sebuah riset hanya dapat dikatakan ilmiah apabila disandarkan pada fakta-fakta itu.

Tapi riset bahasa tak bisa sama sekali bersandar pada tulisan. Karena bahasa adalah lisan, bukan tulisan. Dan seringkali perkembangan lisan tak sejalan dengan perkembangan tulisan. Apalagi bahasa Arab yang bahkan huruf-hurufnya baru sempurna setelah Al-Qur’an turun memperkenalkan nama-nama huruf di pembuka surah. Bagaimana bisa umur bahasa Arab diukur dari umur tulisannya?

Para ulama ahli bahasa dari kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, misalnya Abu Ali al-Farisi (w. 377 H.), mengatakan bahasa adalah tauqifi. Yakni diajarkan Allah melalui wahyu. Semua bahasa yang dituturkan manusia di bumi telah diwahyukan sebelumnya kepada Nabi Adam. Hal ini berdasarkan surah al-Baqarah ayat 31. Tidak semata-mata ada bahasa yang dituturkan manusia di belahan bumi, termasuk misalnya Jawa dan Sunda, kecuali telah diketahui Nabi Adam sebelumnya.

Teori Tauqifi Abu Ali al-Farisi (w. 377 H.) di atas ditentang habis-habisan oleh para ulama rasionalis yang dimotori para filosof dan para ulama kalam aliran mu’tazilah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Jinni. Menurut mereka bahasa adalah istilahi. Yaitu ciptaan manusia, bukan wahyu. Berawal dari bahasa isyarat, kemudian menjadi bunyi-bunyi sederhana hasil menirukan suara-suara di sekitarnya, hingga menjadi bahasa yang utuh setelah rentang waktu yang lama.

Ibnu Jinni (w. 392 H.), sebagai pakar bahasa yang disebut-sebut paling rasionalis, kemudian ragu dengan teori Istilahi yang selama ini dibangunnya. Dalam pendahuluan salah satu karyanya, al-Khasha’ish, sebuah buku tentang Filsafat Bahasa (Fiqhul Lughah), ia mengungkap argumen-argumen kuat tentang Teori Istilahi dalam menetapkan asal mula bahasa. Tapi di bagian penutup bukunya, ia merasa heran dengan bahasa Arab yang ketika dilacak ke belakang, semakin sempurna. Mestinya, berdasarkan Teori Istilahi yang dikukuhkannya, kalau bahasa itu ciptaan manusia, maka semakin mundur kebelakang harus semakin tidak sempurna. Karena mana mungkin manusia primitif bisa menciptakan bahasa yang sempurna melebihi manusia sekarang. Ia mengatakan: “Kalau begini, sangat mungkin Teori Tauqifi yang benar.”

Ibnu Jinni sebenarnya tak perlu heran. Karena bahasa di dunia bukan hanya Arab saja. Tapi banyak. Yakni benar bahasa itu Tauqifi, tapi hanya Arab saja. Adapun bahasa yang lain tercipta secara istilahi. Dengan kata lain, Allah hanya mewahyukan satu bahasa saja, yaitu Arab. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, dari bahasa Arab itu, manusia menciptakan bahasa baru sebagai salah satu produk budaya mereka. Oleh karenanya, kalau bahasa Arab adalah bahasa pertama manusia dan merupakan wahyu maka tentunya bahasa Arab bukanlah milik etnis tertentu. Bukan milik orang Arab saja, tapi milik semua manusia.

Apakah Arab itu etnis? Maka jelas, kata Al-Qur’an, Arab bukan etnis, tapi lisan. Saya pernah mendengar langsung pernyataan seorang ulama dari Yordania, Prof. Dr. Zaidah Al-‘Aqrabawi, bahwa Arab bukan etnis, tapi lisan. Karena pengertian kata al-‘arab (العرب) adalah lisan yang jelas. Lawan katanya al-‘ajam (العجم). Yaitu lisan yang tidak jelas. Lisan yang jelas ini adalah ekspresi yang diajarkan Allah kepada manusia, yaitu bayan (QS Ar-Rahman: 4). Disebut Arab bukan karena etnis tapi karena jelas pengucapannya dan jelas penunjukan maknanya.

Orang Arab tak dinamakan Arab kecuali karena kefasihan bahasanya. Riwayat yang menyebutkan Arab adalah bangsa keturunan Ya’rub bin Qahthan telah dibuktikan keliru, karena nyatanya sebelum Qahthan pun, sebutan Arab sudah ada. Al-Qur’an mensifati dirinya dengan arab yang mubiin. Yakni menjelaskan, atau jelas penunjukan maknanya untuk menunjukan kebayaniyahannya bagi seluruh manusia. Bukankah Ibnu Sina tidak bisa memahami karya Aristoteles setelah membacanya 40 kali sampai kemudian menemukan versi Arabnya karya al-Farabi?

Nabi Adam berbicara dengan bahasa Arab. Tapi, generasi berikutnya, ketika populasi manusia sudah banyak dan menyebar ke berbagai penjuru bumi dengan lingkup kebutuhan dan kebudayaan yang mereka ciptakan, lisan mereka berubah cepat melahirkan bahasa baru. Dan terus seperti itu, hingga menjadi ribuan, bahkan jutaan bahasa, lalu bahasa Arab pun punah. Mereka cepat mengubah bahasa wahyu secepat mengubah ajarannya. Lalu Allah wahyukan bahasa Arab ke Nabi Nuh. Kemudian punah lagi setelah anak-cucunya menyebar pasca banjir. Saat itu manusia sudah bersuku-suku dengan budaya dan bahasa yang lebih beragam. Wahyu pun mulai turun dengan bahasa mereka masing-masing.

Penutur bahasa Arab, setelah itu, hanya kabilah keturunan Nabi Nuh yang mendiami gurun, yaitu kaum Ad. Bahasa Arab terjaga entah berapa lama bersama mereka. Lalu perilaku mereka menjadi menyimpang setelah berhasil membangun peradaban besar yang sangat maju. Mereka sombong dan menentang Allah. Lalu Nabi Hud datang kepada mereka dengan membawa risalah Allah, namun ditolak dan didustakan, yang, pada akhirnya, menyebabkan mereka dimusnahkan secara total. Maka, bahasa mereka pun ikut musnah, kecuali yang tersisa pada lisan Nabi Hud dan beberapa orang kaumnya yang beriman.

Selama beberapa abad, bahasa Arab terjaga di tengah-tengah mereka. Tetapi ketika kemudian peradaban mereka maju kembali pada masa Tsamud, mereka kembali melakukan dosa. Bahasa mereka terkontaminasi peradaban syirik. Allah mengutus Nabi Shaleh namun mereka menolaknya, hingga kemudian mereka pun dibinasakan, dan lenyap pula bahasa Arab kecuali yang melekat pada Nabi Shalih, anak keturunan, juga kaumnya yang tersisa.

Peradaban penutur bahasa Arab hancur dan tak pernah bangkit lagi setelah Tsamud. Tapi, tanpa peradaban, bahasa Arab justru lebih terjaga bersama kaum penutur yang tersisa. Abad demi abad berganti, bahkan milenium, para penutur Arab tampil sebagai suku-suku yang mendiami Yaman dan sekitarnya dengan segala dinamikanya. Bahkan mulai mengenal peradaban luar. Mereka disebut Qahthaniyyah. Tak ada riwayat yang menyinggung adanya nabi yang diutus kepada mereka untuk memperbaharui ajaran dan bahasa mereka. Lalu tampil dari mereka satu kabilah yang menjadi sebab perubahan besar bagi mereka. Yaitu Jurhum II.

Di luar wilayah para penutur bahasa Arab (Jazirah Arab), selama masa proses pembentukan kabilah-kabilah di Yaman, peradaban manusia terus bergulir, dan nabi-nabi telah diutus kepada mereka dengan bahasa mereka masing-masing. Yang termaju saat itu adalah peradaban di Syam dengan pemimpinnya yang hebat asal Babilonia bernama Nabi Ibrahim yang dikaruniai anak laki-laki bernama Isma’il.

Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menempatkan Isma’il dan ibunya di dekat Ka’bah, tempat yang biasa dilewati kabilah Jurhum. Untuk memberikan kemuliaan kepada keluarga Ibrahim. Salah satunya dengan menjadi penjaga bahasa Arab. Isma’il pun tumbuh kembang di tengah komunitas para penutur Arab. Isma’il sendiri berbicara dengan bahasa Arab. Dan anehnya lebih fasih dibanding penutur aslinya (HR Bukhari). Setelah dewasa, Allah mewahyukan bahasa Arab kepada Nabi Isma’il hingga bahasa Arab menjadi fasih kembali seperti pertama kali diwahyukan kepada Nabi Adam sempai kemudian lahir generasi penutur Arab paling fasih yang disebut dengan Arab Musta’ribah atau Adnaniyah.

Sepeninggal Isma’il, Allah membiarkan keturunan Nabi Isma’il tanpa peradaban, juga dihindarkan dari percaturan peradaban dunia, mungkin untuk menjaga bahasa Arab, hingga tak ada nabi yang diutus di kalangan mereka, karena nabi mempunyai misi peradaban, dan karekter peradaban sering kali mencipta bahasa yang merubah bahasa wahyu. Di luar mereka, para nabi non Arab ikut menjaga mereka. Diriwayatkan, Nabi Musa pernah menghindar dari peperangan yang melibatkan Adnan. Juga, ketika pengaruh Nebo sampai ke Hijaz, maka nabi Armia datang menjaga mereka dari pengaruh peradaban Babilonia.

Mengapa Allah swt menjaga bahasa Arab sedemikian rupa? Jawabannya jelas. Bahasa Arab adalah bahasa seluruh manusia, bukan bahasa etnis tertentu. Allah hendak menutup risalah-Nya dengan mengutus nabi yang risalahnya untuk seluruh manusia. Tentu bahasa kitab sucinya pun harus bahasa seluruh manusia. Kalau bahasa Arab punah, maka tidak akan ada yang bisa memahaminya, karena lidah manusia sudah jauh berubah.

Pada saat Al-Qur’an turun, banyak bahasa Arab yang sudah disusupi non Arab. Tak sedikit pula orang Arab yang tak faham Al-Qur’an, tapi hati mereka tetap tersentuh keindahan bahasanya. Yakni, dengan kata lain, yang benar-benar asli bahasa manusia adalah bahasa Al-Qur’an, bukan sekadar Arab. Imam Asy-Syafii membantah ulama-ulama yang menyangka ada kosa kata non Arab dalam Al-Qur’an. Menurutnya, kosakata yang dianggap non Arab adalah bahasa Arab yang sudah lama dilupakan penuturnya. Berarti, kondisi “ghair munsharif” pada semisal nama-nama nabi bukan karena menyandang setatus nama ajam, tapi karena nama tarkib mazji.

Kalau bahasa Al-Qur’an adalah bahasa asli manusia, maka apakah perlu dibahasanusantarakan. Tentu tidak. Yang perlu dilakukan justru mengalqurankan Nusantara. Tak perlu juga membuat istilah membumikan Al-Qur’an, karena yang seharusnya dilakukan adalah mengalqurankan bumi. Karena berarti memanusiakan.

Yang disebut Islam Nusantara pada prakteknya lebih Arab dari pada Islam Arab. Tapi Arab yang dimaksud adalah Arab sebagai bahasa Al-Quran, bahasa manusia. Bukan sebagai etnis. Karena jika Arab adalah etnis maka Al-Quran bukan Arab. Apalagi sekarang banyak orang Arab yang tak lagi fasih berbahasa Arab. Tak mengerti i’rab. Juatru Islam Nusantara menjadi penjaga keaslian Al-Quran. Bahasa daerah pun ditulis dengan huruf Arab. Khuthbah Jum’at disampaikan dengan bahasa Arab tanpa terjemah.

Boleh saja penampilannya sarungan dan bertuturkata tidak dengan bahasa Arab, tapi kalau sedang baca Al-Quran maka sangat fasih. Dan ketika baca kitab gundul tak satu pun i’rab-nya yang keliru. Santri-santri di pondok pesantren tradisional khas Nusantara menguasai ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, ilmu Balaghah, dan Kitab Kuning sebagai ilmu penjaga keaslian Al-Quran melebih rata-rata orang Arab. Jumlah anak-anak yang hafal Alfiyyah di Nusantara lebih banyak dari anak-anak di Arab.

Orang Nusantara memang tak begitu saja jadi mengerti bahasa Al-Qur’an, bahkan kadang orang Arab sendiri sebagaimana di atas, tapi ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an, maka hati mereka, apapun bahasa mereka, akan tersentuh padahal tak tahu artinya. Karena sebenarnya apa yang didengar itu adalah bahasa dirinya, bahasa fitrahnya. Ini juga mungkin mengapa membaca Al-Qur’an itu tetap berpahala meskipun pembaca tidak memahami artinya.

Selanjutnya silahkan rujuk: al-Risalah (Imam al-Syafii), al-Huruf (al-Farabi), Asbab Huduts al-Huruf (Ibnu Sina), al-Shahibi (Abu Ali Al-Farisi), al-Khasha’ish (Ibnu Jinni), Jami’ al-Bayan (al-Thabari), al-Mahshul (al-Razi), Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam), al-Khasha’ish al-Kubra (al-Suyuthi), Tajul al-Arus (Al-Fairuzabadi), al-Mufashshal (Jawad Ali), Sab’ah Kutub Mufidah, dan Tijan (Syeikh Nawawi al-Banteni).

Wallahu A’lam
Deden Muhammad Makhyaruddin
28 Juni 2015

(Visited 271 times, 1 visits today)
Bagikan