EVI EFENDI USTAD TEU NANAON NGAN NANAONAN

EVI EFENDI USTAD TEU NANAON NGAN NANAONAN
@deden_mm

Sedikitnya ada tiga hal yang berbahaya dalam konten ceramah Evi Efendi (EE) yang viral tentang surah al-Dhuha ayat 7:

1. Menafsirkan kata dhallan (ضَالًّا) dengan pengertian “sesat.”

2. Menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw pada mulanya pernah sesat dengan disandarkan kepada ayat ini.

3. Membuat statmen bahwa memperingati maulid Nabi adalah memperingati kesesatan Muhammad.

Teu nanaon, sih, Tad. Ngan nanaonan. Dalam kitab tafsir manapun, termasuk Tafsir Ibnu Katsir yang dinilai kitab tafsir paling baik, tafsir dari kata dhallan dalam ayat ini tidak terlepas dari tiga:

1. Dhallan (ضَالًّا) maksudnya khaliyan ‘an al-syari’ah (خَالِيًا عَنِ الشَّرِيعَةِ). Belum diberikan syariat. Bukan belum bertauhid dan bukan belum berakhlak mulia. Bahkan beliau dikenal dengan sebutan al-Amin sebelum beliau menjadi Nabi.

2. Saat Rasulullah Saw masih kecil terjebak di jalan bukit. Beliau tidak tahu jalan pulang. Lalu Allah tunjukan.

3. Dalam perjalanan malam untuk berdagang ke Syam bersama Sang Paman, unta yang dikendarai Rasulullah Saw dibelokkan oleh Iblis ke arah Habasyah. Lalu malaikat Jibril mengarahkannya lagi ke Syam atas perintah Allah.

Terjemahan dari Kementrian Agama untuk kata dhallan (ضَالًّا) adalah “dalam keadaan bingung.” Yakni bingung arah dalam suatu perjalanan. Tidak ada yang menterjemahkan dan menafsirkannya dengan kata “sesat” kecuali memang terjemahan atau tafsir tersebut keliru.

Disengaja atau tidak, dan walau tujuannya bukan menghina, maka tetap tidak dapat dibenarkan. Dan jika alasan EE sedang capek, nya teu nanaon sih ngan nanaonan. Rek kitu wae?

Dilihat dari konen-konten ceramahanya, tampaknya EE lebih tepat disebut motivator dibanding ustadz. Dan semua tahu karakter kata-kata motivasi itu bombastis. Saya pun tahu maksud EE dengan kalimatnya tentang tafsir kata “dhallan” yang aneh itu bukannya hendak menghina Rasulullah Saw tapi sedang memotovasi jamaah akan perlunya hijrah dengan ungkapan yang bombastis sampai mengatakan apa yang dikatakannya.

Teu nanaon, sih. Ngan nanaonan. Rek kitu wae?

Deden Muhammad Makhyaruddin
Ketua Umum Dewan Ulama Tahfizh dan Tafsir Indonesia

(Visited 314 times, 1 visits today)
Bagikan