GEMPA (3) MESTINYA MATA MELIHATNYA

GEMPA (3)
Mestinya Mata Melihatnya
Oleh: @deden_mm

Tulisan ini adalah tentang yang saya tafsirkan Selasa pagi di Durrunnafis. Saya tulis karena kemungkinan ini kajian tafsir terakhir saya di Durrunnafis. Maaf, saya tidak bilang-bilang. Setelah pengajian, saya minta idzin ke Ustadz Firman untuk resign. Insyaallah, ini lebih baik untuk Durrunnafis, juga untuk semuanya.

Mohon maaf juga atas segala kesalahan dan kekurangan saya selama menafsir di Durrunnafis. Mungkin banyak yang tak cocok. Saya pun menyadari hal itu. Kajian saya menukik ke dalam yang ditafsirkan, bukan melebar ke luar ayat yang tidak ditafsirkan. Bukan pula pembahasan yang memuasan hati, tapi sekadar berusaha menyampaikan tafsir. Kendati, misalnya, meleset, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dan semuanya. Dan, terlepas dari itu semua, mungkin baru segitu kemampuan saya.

BAIK. Sepekan atau dua pekan terakhir, tak berhenti saya disuguhi informasi dari media sosial seputar perang opini tragedi Mina yang berpotensi membentuk karakter pembenci pada tubuh Umat Islam. Saya bingung menyebutnya apa. Karena, yang saya kemukakan ini pun bisa jadi termasuk opini yang mengindikasikan kebencian saya pada pembuat opini-opini tersebut. Tapi in-sya’allah tidak demikian. Bermula dari tuduhan terhadap iring-iringan Pangeran Kerajaan Arab Saudi sebagai pemicu tragedi. Terlampir bersama sebuah rekaman gambar yang nyaris mirip dengan tragedi tersebut. Kemudian muncul sanggahan yang menyerang balik sang penuduh. Bahwa penyebab tragedi Mina yang sesungguhnya adalah kelompok yang menuduh Pangeran Saudi. Yaitu Syi’ah Iran. Padahal, saya rasa, menyanggah tanpa disertai menuduh balik adalah lebih baik. Ada yang sedikit dilupakan, jihad bukan untuk mengalahkan musuh, tapi untuk menangnya kebenaran dan tegaknya keadilan.

Dari tragedi Mina, pemberitaan berlanjut ke perang ideologi, Syi’ah versus Sunnah. Kalimat-kalimat para penolak Syi’ah nyaris membuat hati saya berdebar kencang. Saya malah curiga kalimat-kaimat tersebut justru bukan dari para penolak Syi’ah. Tapi Wallahu A’lam, saya tidak tahu dan tak perlu bersuudzon. Syi’ah tak mau kalah dalam permainan ini. Ia memasang tirai taqiyah-nya dengan mendatangkan tokoh Syi’ah Australia untuk acara Hari Raya Ghadir di Puncak dengan cara membuat berita penolakan. Perang berita makin memanas, dan komentar anti Syi’ah pun mulai tampak aneh, meski masih didominasi kalimat “subhanallah.” Konflik mengarah pada tokoh-tokoh terkemuka yang terindikasi Syi’ah. Saya membaca judul-judul berita di sejumlah koran online memang sejak lama bernada propokasi. Belum lagi BC semacam potongan rekaman yang menggambarkan ketidaksukaan pem-BC-nya pada orang dan atau kelompok tertentu. Mulai dari “kisruh muktamar” hingga “jenggot goblok.” Pernyataan saya sendiri pernah dua kali dipotong oleh salah satu koran online. Di antaranya terkait penolakan saya terhadap Langgam Nusantara. Saya heran, judulnya jadi provokatif begitu.

Berita tentang perang ideologi Sunnah-Syi’ah dikaitkan dengan konflik di Suriah dan Yaman. Kelompok yang setuju dengan kebijakan Saudi melihat peperangan di Suriah sebagai perang melawan Syi’ah. Posisi Turki disebut-sebut sebagai pembela Sunnah searah dengan Saudi. Sementara pihak yang setuju dengan Iran menganggap perang tersebut menyelamatkan muslimin dari kekejaman Wahabi, ISIS, dan Yahudi (Amerika). Ini yang menjadikan Rusia dan Korea Utara terlibat di dalamnya. Masjid Sunni dibom, langsung tersangkanya Syi’ah. Dan masjid Syi’ah dibom, langsung tersangkanya Sunni. Siapa sebenarnya yang ngebom. Apakah betul ada pengeboman atau hanya berita tentang pengeboman. Tak berhenti di situ, masalah Syi’ah dikaitkan dengan kelambanan respon pemerintah. Terhubung pulalah dengan asap di Sumatra dan Kalimantan, meroketnya dolar, hutang ke Cina, dan geliat PKI. Allaahu akbar.

Fenomena ini terbalik ketika merespon berita perkembangan Islam di Eropa. Misalnya, Putin meresmikan masjid terbesar di Eropa. Jerman akan menjadi negara yang berpenduduk muslim terbanyak di Eropa. Shalat Shubuh di negara ini ramainya seperti shalat Id. Ditemukan naskah Al-Qur’an tertua di Amerika Latin. Dan lain lain. Sunnah dan Syi’ah kompak memberitakannya. Tidak ada politisasi di dalamnya. Juga tidak mempertanyakan Islam apa yang berkembang di sana. Padahal mereka penuh warna. Demikian pula, kita senang menceritakan kehebatan para ulama dahulu dalam bidang ilmu pengetahuan. Misalnya, Ibnu Firnas, Ibnu Haitsam, dan Jabir bin Hayyan. Tak pernak ada yang berkepentingan mempersoalkan aliran teologi mereka. Mengapa hal ini tidak dilakukan dalam menyikapi berita-berita yang bernada benci. Itu hanya berita. Belum tentu sesuai dengan yang sebenarnya. Mengapa kesucian hati harus ternoda gara-gara sebuah berita.

Saya tidak sedang mengkritisi para pembuat berita dan opini tersebut juga para penyebarnya, tapi sedang mengkritisi para pembacanya. Termasuk saya sendiri. Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan melontarkan sebuah pertanyaan, hanya sebagai contoh saja. Apakah Syi’ah sesat? Maka jawabannya tentu, ya. Tapi ada yang tidak sesat juga. Sebagaimana ada pula pengaku Sunni yang sesat. Saling serang, ini sesat, ini tidak sesat adalah wilayah para “kesatria.” Bukan konsumsi orang biasa (awam). Kisruh ulama tak semestinya dibocorkan ke public. Pengunjung sebuah restoran hanya perlu tahu bahwa makanan yang disajikan enak, sehat, dan higienis. Tak perlu tahu mengetahui proses panjang penyajiannya. Kalau semua orang merasa bisa masak, maka silahkan masak sendiri, dan jangan mengatakan masakan orang lain yang ahli tidak enak.

Maaf, masalah “jenggot goblok,” misalnya, tak semestinya disebarkan. Jika sudah tersebar, maka, penyebarnya pun sama gobloknya. Yang percaya pada beritanya juga tak kalah goblok. Yang menggoblok-goblokkan penyebar dan pemercayanya adalah goblok juga. Mau ikut goblok, silahkan goblok-goblokkan saya. Keep smile. Yakni, kalau sebuah berita yang mestinya hanya diketahui orang-orang dapur sampai ke public, maka, tak perang pun, buruknya sudah sama dengan perang. Sedangkan perdebatan dan peperangan, selama terjadi di kalangan para kesatria, akan indah. Ini khasha’ish para ulama. Karena, orang biasa, kendati disuguhkan tentang kesesatan Syi’ah, yang mereka tanggapi dan komentari, sebenarnya bukan kesesatan Syi’ah, tapi berita, opini, atau rekaman tentang kesesatan Syi’ah. Ini tentu akan menimbulkan fitnah. Yakni yang mereka cerna hanya berita, bukan substansinya. Ini tentu beda.

Ketika kita sedang membaca sebuah informasi tentang keburukan atau kekurangan orang lain, maka kita biasanya tidak sedang melihat orang tersebut, tapi sedang mengadilinya. Bukan satu orang yang kita adili, tapi banyak orang. Misalnya, kita membaca tulisan seorang wartawan di sebuah koran online yang dishare oleh seorang teman. Sang wartawan mengutip hasil wawancaranya dengan seorang narasumber tentang aib seseorang. Maka kita langsung menghakimi seseorang tersebut dengan keburukan. Padahal apa yang disampaikan narasumber belum tentu benar. Dan apa yang disampaikan wartawan belum tentu sesuai dengan yang disampaikan narasumber. Juga apa yang kita fahami belum tentu sama dengan pemahaman sang wartawan atau teman kita. Tapi tak perlu pula kita bersuudzon kepada narasumber, wartawan, atau teman kita yang membagikan. Jaga hati kita dengan baik hingga mata kita tak dapat melihat keburukan kecuali pada diri kita, dan tidak dapat melihat kebaikan kecuali pada orang lain. Kita wajib menyembunyikan aib dan keburukan kita, bukan untuk jadi berani melakukannya lagi, juga bukan untuk pencitraan atau menjadikan kita tetap dihormati, tapi untuk tak terlalu sulit taubatnya. Adalah salah orang yang takut aibnya diketahui orang tapi tak takut diketahui Allah. Demikian pula aib orang lain. Tidak mengetahuinya adalah kebaikan, dan menutupinya adalah kemuliaan. Bentuk karakternya dengan berhusnuzhon kepada orang lain dan yakin bahwa keburukan hanya menyelubungi diri sendiri.

Di akhirat kelak, tak ada manusia yang merasa perlu melihat perbuatan orang lain, apalagi membaca gosipnya. Semua manusia sibuk dengan amal masing-masing. Pada zaman Rasulullah saw, ada seorang Yahudi meninggal dunia. Beliau sangat bersedih. Para sahabat bertanya: “Mengapa engkau bersedih?” Beliau menjawab: “Aku bersedih karena aku belum sempat memgislamkannya.” Ini berbeda dengan kebanyakan orang sekarang. Mendengar seorang Yahudi atau Syi’ah meninggal dunia, langsung merasa puas seraya mengatakan alhamdulillah. Berbeda dengan Rasulullah saw. Maka, akhirnya saya katakan:

“Maka, barangsiapa mengerjakan seberat atom kebaikan, maka akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan seberat atom keburukan maka akan melihatnya.”

Abu Bakar sedang makan. Lalu mendengar ayat ini. Dia tak bisa melanjutkan makan. Ia tak sanggup kalau nanti akan melihat keburukan seberat atom yang pernah dikerjakannya. Tapi, kata Rasulullah saw, segala musibah yang diberikan kepada seorang muslim adalah buah yang terlihat dari keburukannya. Dengan cara itu, di akhirat, dia tidak akan melihat lagi keburukannya.

Demikian
Wallahu A’lam
Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 18 times, 1 visits today)
Bagikan