JENGGOT, GAMIS, DAN ‘IMAMAH NUSANTARA
@deden_mm
Saya bukan termasuk yang sepakat dengan statmen yang dalam tanda kutip negatif tentang jenggot, gamis, imamah (sorban yang dililitkan di kepala) dari sebagian tokoh NU dalam video-video ceramahnya di media sosial. Tapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa tradisi Islam di Nusantara punya cara pandang yang khas terhadap nilai sunnah pada jenggot, gamis, dan imamah.
Jenggot, gamis, dan imamah yang sunnah itu, dalam sudut pandang ulama Nusantara, bukan hanya sebagai tradisi nabi tapi ada seperangkat nilai yang mengikatnya. Ibarat rambut cepak sebagai tradisi khas tentara (sunnah tentara). Orang tidak lantas menjadi tentara hanya dengan memotong cepak rambutnya. Dan ibarat seragam loreng tentara. Ada nilai, aturan dan syarat yang mengikatnya. Tidaklah jadi tentara orang yang mengenakannya bila nilai, aturan, dan syaratnya tidak terpenuhi.
Adalah benar memanjangkan jenggot sunnah Nabi. Demikian pula gamis dan imamah. Tapi ada seperangkat nilai, ilmu, dan akhlak yang mengikutinya. Dan di Nusantara, memanjangkan jenggot, memakai gamis dan melilitkan imamah di kepala adalah sunnah kiyai dan ulama. Karena ulama adalah pewaris para nabi dalam ilmu, amal, dan akhlak yang tercerminkan dalam pakaiannya.
Tidak lantas orang jadi ulama atau mengaku sudah menjalankan sunnah hanya dengan memanjangkan jenggot, memakai gamis, dan melilitkan imamah di kepalanya. Sama halnya dengan peci putih yang lazim disebut peci haji. Yakni, seseorang tidak bisa disebut haji hanya dengan mengganti kopiahnya dengan peci haji.
Tradisi ini terus dijaga oleh ulama dan umat Islam Nusantara dari masa ke masa. Tak lain tujuannya kecuali untuk menjaga sunnah Nabi agar tak hanya sekadar seragam luarnya tapi sunnah lahir-batin seutuhnya. Tak ada orang yang bukan ulama siap mental memanjangkan jenggot dengan gamis dan imamah. Santri atau orang biasa cukup memakai peci hitam dan kain sarung.
Mungkin sampai sekarang kebanyakan orang di Indonesia masih sering menyangka bahwa setiap yang berjenggot dengan gamis dan imamah adalah kiyai. Apalagi dengan tampilan perawakan yang meyakinkan dan umur yang matang. Lalu mereka menjadi heran ketika datang ke Mekkah dan melihat ternyata yang berpakaian seperti itu di Arab adalah juga tukang kuli bangunan dan tukang kuli panggul di pasar. Karena orang Arab berpakaian demikian bukan karena sunnah Nabi tapi karena pakaian tradisionalnya.
Dalam praktenya banyak kiyai yang bertahan dengan sarung dan peci hitamnya karena sifat tawadhu mereka yang belum merasa ulama. Ketika ada orang yang bukan ulama memanjangkan jenggot dengan gamis dan imamah lalu lewat di tengah-tengah mereka (kiyai dan santri) maka otomatis akan menjadi bahan guyonan santri-santri. Ibarat orang berperawakan kecil kerempeng memakai seragam tentara berharap menjadi terlihat gagah.
Ini barangkali yang perlu diketahui teman-teman dan saudara-sausara kita yang memilih memanjangkan jenggot, memakai gamis, dan imamah sementara bukan kalangan ulama. Silahkan lakukan itu dengan niat menjalankan sunnah. Bukan niat memakai baju tradisional Arab. InSyaAllah pahalanya besar. Bukan memakai baju Arab. Tapi jangan lantas kemudian merasa sudah mengerjakan sunnah jadi lebih utama dari yang sarungan. Melainkan jagain akhlak, tambahin ilmu, dan tambahin ibadah. Malu atuh sama jenggot, sama gamis, sama imamah. Jangan sampai kalah ikhlas dan kalah ilmu dengan yang hanya sarungan.
Sadeng, 12 Agusus 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin




