MANUSIA SETENGAH HEWAN
(Ringkasan Khuthbah Idul Adha Tanggal 22 Agustus 2018)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
Rentetan takbir teriring puji dan shalawat pecah di seluruh penjuru dunia yang tersentuh matahari pagi 10 Dzul Hijjah. Hari ini. Ia mengantar pesan perdamaian sampai ke ujung semesta. Hari raya yang besar tengah berlangsung. Idul Adha. Tak ada yang dapat menahan manusia dari mengeksprikan rasa bahagia dan rasa syukurnya hari ini walau dalam gempa.
Id (عِيدُ) artinya hari raya. Dan al-Adha (الأَضْحٰى) jamak dari kata adhah (أَضْحَاةٌ). Artinya hewan qurban. Idul Adha adalah hari raya hewan-hewan qurban. Disebut juga dengan udhhiyah (أُضْحِيَّةٌ) dan idhhiyah (إِضْحِيّةٌ) yang dijamakkan kepada kata al-adhahi (الأَضَاحِي) dan al-adhahi (الأَضَاحِيّ). Juga disebut dhahiyyah (ضَحِيَّةٌ) yang jamaknya dhahaya (ضَحَايَا).
Asal kata dari al-dhuha (الضُّحٰى). Yaitu waktu saat sinar matahari pagi naik sepenggalahan. Dialah sinar matahari terbaik di bumi yang menyinari segala isinya. Sampai-sampai Allah Swt membuat sumpah dengannya: “Wa al-Dhuha; Demi waktu dhuha.” Untuk menenangkan hati Nabi pilihan-Nya agar tak merasa ditinggalkan.
Qurban tak disebut udhhiyah (أُضْحِيَّة) kecuali karena mempunyai hubungan makna yang erat dengan kata al-dhuha. Yaitu pertama, waktu terbaik untuk menyembelih hewan qurban adalah waktu dhuha. Bahkan dalam Fiqih, kendati boleh menyembelih di malam hari, tapi hukumnya makruh. Kedua, bukanlah tujuan dari qurban itu adalah kematian hewan, tapi hidupnya kemanusiaan yang cerah dan indah seperti matahari dhuha.
Hari ini, ketika milyaran tetes darah hewan tertumpah, maka:
PERTAMA, pastikan dan yakinkan bahwa yang diqurbankan itu hewan seutuhnya. Benar-benar hewan. Bukan manusia. Bahkan justru sebaliknya, qurban sebabkan milyaran jiwa manusia terhidupkan. Cukup darah merah hewan saja yang tertumpah. Yaitu darah yang mampu membunuh sifat hewan manusia dan menghapus korupsi. Bukan darah manusia.
Surah al-Maidah ayat 32, setelah Allah mengisahkan qurbannya dua orang putra Nabi Adam, Qabil dan Habil, Allah menerima qurban Habil dan menolak qurban Qabil, lalu Qabil membunuh Habil karena dengki, menegaskan sifat hidup pada qurban untuk kemanusiaan:
أنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيرِ نَفْسٍ أَو فَسَادٍ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
Bahwa barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa (disebabkan sebumnya jiwa tersebut membunuh) jiwa yang lain atau berbuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa maka seakan-akan menghidupkan manusia seluruhnya.
Dalam surah al-Shaffat ayat 107, hewan qurban disebut dengan dzibhin ‘azhim (ذِبْحٍ عَظِيمٍ). Yakni bukan sembarang sembelihan. Tapi sembelihan yang agung. Bagaimana tidak sedang dia yang menebus nyawa Ismail yang suci dan menjadi alasan hidupnya manusia dan kemanusiaan sepanjang masa.
KEDUA, pastikan dan yakinkan bahwa kita yang sedang beriduladha, yang berkumpul di sini, shalat Id bersama, bertakbir dan bertasbih, baik sebagai yang berqurban maupun sebagai penikmat daging qurban, adalah manusia seutuhnya. Yakni benar-benar manusia. Karena dalam Al-Quran ada yang disebut manusia setengah hewan. Yaitu surah al-A’raf ayat 179:
أُولٓئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
Mereka itu seperti hewan. Bahkan mereka lebih sesat. (QS al-A’raf: 179)
Tampilan fisiknya memang manusia. Bahkan mungkin tidak terima pula jika diserupakan dengan hewan. Tapi prilakunya mirip hewan. Yang diperjuangkannya hanya syahwat perut dan bawah perutnya. Seburuk-buruk prilaku hewan tidak ada hewan yang korupsi, tidak ada yang merugikan negara, tidak ada yang berambisi untuk berkuasa dengan menghalalkan segala cara, dan tidak ada yang menzalimi sesamanya.
Lalu apa yang diiduladhakan dan yang diqurbankan darinya jika yang hewan itu tak lain adalah dirinya?
Peradaban ini peradaban manusia, bukan peradaban hewan. Indonesia ini negara manusia, bukan negara hewan. Menusia memilih pemimpin manusia, bukan memilih pemimpin hewan.
Agar takbir kita memanusia, shalat Id kita memanusia, qurban kita memanusia, dan kita tak menjadi korban sembelihan murka Allah, disembelih gempa, disembelih tsunami, maka yang tumpah di hari ini tak cukup darah merah hewan saja tapi milyaran tetes air mata taubat dan jutaan tetes kepedulian sosial. Tak perlu menambah gempa lagi di Lombok untuk negeri ini bertaubat. Hanya tetesan darah hewan, tetesan kepedulian sosial dan tetesan air mata taubat yang mampu menghentikan gempa itu.
Surah al-A’raf ayat 179 menjelaskan ciri-ciri manusia setengah hewan itu.
Pertama:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
Mereka punya hati, tidak mereka tidak mengerti. Yakni hati meraka tidak digunakan untuk memahami. Tidak mengingat Allah.
Kedua:
وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا
Mereka punya mata. Tapi mereka tidak melihat dengan mata itu.
Ketiga:
وَلَهُمْ أٰذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا
Mereka punya telinga. Tapi mereka tidak mendengar dengan telinga itu.
Negeri ini bertubi-tubi ditimpa gempa. Mulai dari gempa bumi di Lombok yang sampai hari ini belum berakhir dan terus menyisakan jerit kepiluan para korban yang mengungsi, sampai gempa ekonomi, gempa kepemimpinan, dan gempa-gempa lainnya. Tidaklah hati memahami? Tidakkah mata melihat? Tidakkah telinga mendengar? Ini kode keras dari Allah, bahwa segeralah bertaubat. Segeralah menghentikan maskaiat. Segeralah berjamaah di masjid.
Namun menusia setengah hewan memang sejatinya hewan yang berwujud manusia. Tak bisa memahami, tak bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Mereka adalah sebagaimana yang dikatakan Allah:
أُولٓئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٓئِكَ هُمُ الغَافِلُونَ
Mereka itu seperti hewan. Bahkan mereka lebih buruk (prolakunya). Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS al-A’raf: 179)
Allah Swt bersumpah di pembuka ayat 179 surah al-A’raf bahwa Dia akan memenuhi neraka Jahannam dengan banyak dari manusia dan jin yang setengah hewan. Karena gempa, kesempitan hati, dan kesulitan hidup tak mampu membuka hati, mata, dan telinga mereka. Maka Jahannam-lah yang bisa membukanya.
Allah Swt. berfirman:
وَلَقّدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الجِنِّ وَالإِنْسِ
Demi, sesungguhnya Kami benar-benar akan memehuni neraka Jahannam dengan banyak dari bangsa jin dan bangsa manusia.
Saat mereka melihat adzab, sebagaimana dilukiskan dalam surah al-Furqan ayat 43, mereka baru akan menyadari kesalahannya. Siapa yang lebih buruk dari hewan.
Semoga Idul Adha kita, shalat Id kita, dan qurban kita, air mata kita, hari ini, adalah taubat panjang kita. Membuka hati, mata, dan telingan kita. Mematikan kehewanan kita. Sehingga Allah hentikan segala gempa yang menimpa kita. Menimpa negeri ini. Dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.
Depok, Masjid An-Nur, 22 Agustus 2018




