SOCIAL DISTANCING DAN LOCKDOWN (IMBAS CORONA) BAGIAN DARI MENJALANKAN SUNNAH NABI

SOCIAL DISTANCING DAN LOCKDOWN (IMBAS CORONA) BAGIAN DARI MENJALANKAN SUNNAH NABI

Oleh: @deden_mm

Virus Corona, bermula dari Wuhan, Cina, akhirnya mewabah ke berbagai belahan dunia. Tanpa terkecuali Indonesia. Bahkan, sudah ada korban meninggal dunia akibat virus ini. Sebagai langkah pencegahan dan menghambat penularan diberlakukan Social Distancing dan atau Lockdown di sejumlah negara.

Social Distancing adalah mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain untuk mengurangi kontak fisik dan tatap muka langsung. Bersifat imbauan dari pemerintah dan kesadaran dari masyarakat.

Sedang, Lockdown adalah tindakan yang dilakukan pemerintah dengan memaksa menutup sejumlah tempat dan kawasan. Yang di dalam tidak bisa keluar dan yang di luar tidak bisa masuk ke dalam.

Dalam perspektif Fiqih Islam, melakukan Social Distancing bagi warga yang berada di dalam kawasan Lockdown menjadi wajib. Keluar dari kawasan Lockdown hukumnya haram. Dan, Social Distancing bagi warga yang di luar kawasan Lockdown hukumnya Sunnah. Tapi, haram masuk ke kawasan Lockdown.

Rasulullah Saw bersabda:
فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيهِ، وَإِذَ وَقَعَ فِي أَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيهَا فَلَا تَنْفِرُوا مِنْهُ،
… maka jika kamu mendengar wabah (terjadi di suatu kawasan) maka kamu jangan masuk ke sana. Dan, jika wabah terjadi di kawasan yang kamu ada di dalamnya maka kamu jangan keluar darinya. (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan kata lain, melakukan Social Distancing saat terjadi wabah adalah bagian dari menjalankan sunnah Nabi Saw. Jangan bersedih kalau dalam sementara waktu tak lagi berkumpul di masjid-masjid dan majlis-majlis pengajian, karena dengan menjalankan Social Distancing berarti pindah dari mengerjakan satu sunnah ke sunnah yang lain.

Social Distancing dan Lockdown tidaklah kemudian akan menyelematkan semua orang dari wabah. Tapi, diharapkan dapat menekan jumlah kematian sekecil mungkin sampai akhirnya wabah itu berakhir. Yakni, orang yang belum tertular di kawasan Lockdown, dengan tetap berada di dalamnya, terlebih kesadaran Social Distancing kurang, ada kemungkinan tertular dan meninggal. Sebaliknya, yang sudah tertular ada kemungkinan sembuh. Tapi, yang jelas, virus tidak keluar dari kawasan lockdown.

Rasulullah Saw menyebut para korban wabah yang memilih bertahan di kawasan lockdown, lalu tidak tertolong, sebagai pahalawan yang meraih pahala syahid, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Amr bin Ash pernah menerapkan Social Distancing dalam lockdown wabah Emaus, Paslestina (sekarang Israel) tahun 18 Hijrah. Dan, berhasil mengurangi jumlah korban jiwa setelah wabah tersebut merenggut lebih dari 25 ribu dalam rombongan pasukan muslimin. Di antaranya adalah sahabat yang agung, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal.

Demikian. Wallahu A’lam.
Cibubur, 18 Maret 2020
Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 22 times, 1 visits today)
Bagikan