BERAKHIRNYA TAHUN KESEDIHAN
(Renungan Isra Mi’raj 27 Rajab 1439 H.)
Oleh: @deden_mm
Tak ada kesedihan yang mampu melukai hati seorang nabi kecuali sangat besar. Kesedihan terbesar pun menimpa Nabi terbesar, Nabi kita, Rasulullah Saw.. Allah ambil istri tercinta beliau dan paman terkasih beliau tanpa syarat justru di saat beliau tengah butuh-butuhnya pada motivasi, cinta dan perlindungan mereka.
Tantangan dakwah semakin berat. Medan perjuangan semakin berliku. Tekanan dan ancaman datang dari sana-sini. Celaan dan hinaan terlontar setiap hari. Kepedihan kian tergores lahir dan batin. Arah kehidupan masyarakat semakin tidak jelas. Dan cahaya kebenaran nyaris padam tertiup angin kejahiliyyahan yang terusik. Dalam sejarah dikenal dengan ‘Am al-Huzn. Yaitu tahun kesedihan Rasulullah Saw.
Allah ambil sandaran hati rasul-Nya Saw. agar hati beliau tak bersandar lagi kecuali hanya kepada-Nya. Karena hati yang paling bahagia adalah hati yang tak pernah berpaling dari-Nya walau kesedihan menyayat-nyayat setiap jengkal dindingnya yang rapuh. Allah kuatkan dengan Ayat-ayat-Nya. Menghibur hati Beliau dari masjid ke masjid. Dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa. Lalu naik ke puncak tertinggi untuk sebuah solusi yang dapat menghapus segala lara dan kesedihan. Dialah perintah Shalat.
Shalat adalah solusi terbaik dari segala solusi. Ia bukan hanya menghapus kesedihan satu hari, tapi kesedihan yang menahun. ia pun mengakhiri Tahun Kesedihan Rasulullah Saw. Tak pernah ada lagi tahun kesedihan yang menimppa beliau setelah turun Ayat Shalat sampai akhir hayat beliau. Beliau pernah bersabda: “… dan kebahagiaan hatiku ada di dalam shalat.” Shalat adalah qurratu ‘ain beliau.
Segala persoalan hidup, mulai dari persoalan rumah tangga, persoalan rizqi, persoalan jodoh, persoalan kesehatan, hingga persoalan Bangsa, maka shalat adalah solusinya. Bukankah Allah berfirman: “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.” Jika masih ada sisa-sisa kesedihan dalam hati maka paling pertama harus diperiksa adalah shalatnya. Banyaknya persoalan bangsa yang tak kunjung selesai adalah penampakan dari kualitas shalatnya,shalat kita, shalat bangsa ini.
Kesedihan dan masalah yang terjadi adalah karena ada hubungan hati yang terputus dengan Allah. Shalat adalah tali penyambungnya. Datangi Allah di masjid-masjid. Sambungkan kembali tali yang terputus itu dengan shalat yang khusyuk. Semakin khusuk semakin kuat. Penuhi masjid-masjid dalam lima waktu shalat. Semakin penuh semakin hebat. Niscaya kesedihan-kesedihan bangsa ini akan berakhir.
Sejak Indonesia merdeka tahun 45, peringatan Isra Mi’raj telah termurajaah (berulang) lebih dari 72 kali, tetapi rasanya baru tahun-tahun ini kesedihan datang silih berganti menimpa bangsa ini. Tampaknya Allah menunggu bangsa ini di masjid-masjid untuk diberikan solusi, melupakan siapa, apa, dan dari mana asal kita, tapi mengingat kepada siapa kita menghadap. Dalam shaf yang sama, dalam ruku yang sama, dalam sujud yang sama, dalam do’a yang sama. Bangsa ini belum mati hingga perlu dishalatkan. Hanya sedang bersedih. Perlu banyak shalat untuk bangkit dan mengakhiri segala kesedihannya.
Selamat memperingati Isra dan Mui’raj Rasulullah Saw. 27 Rajab 1439 H.
Deden Muhammad Makhyaruddin




