DOSA APA SAJA YANG DIAMPUNI DENGAN PUASA RAMADHAN?

DOSA APA SAJA YANG DIAMPUNI DENGAN PUASA RAMADHAN?

Dalam hadis tentang pahala puasa Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni untuknya apa yang telah lalu dari dosanya.

Kata yang menunjuk pada dosa-dosa yang diampuni pada hadis ini dalah kata ma (مَا) yang dijelaskan kemudian dengan kata min dzanbihi (مِنْ ذَنْبِهٖ) setelahnya.

Kata ma (مَا) adalah Isim Maushul yang menunjuk kepada segala sesuatu yang tak berakal secara umum. Yakni, mencakup semua yang dilakukan oleh manusia, baik kecil maupun besar, baik sedikit maupun banyak, baik jarang maupun sering.

Lalu, dibatasi dengan mindzanbihi (مِنْ ذَنْبِهِ) yang menunjukan bahwa yang dimaksud dengan segala yang dilakukan manusia di sini adalah dosa-dosanya, baik besar maupun kecil, baik banyak maupun sedikit, dan baik sering maupun jarang.

Tapi, sejumlah ulama madzhab Syafi’i semilah Syaikh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H.) dalam Fathul Mu’in menyebutkan bahwa dosa-dosa yang diampuni dengan puasa Ramadhan adalah hanya dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat diampuni kecuali dengan bertaubat.

Hanya saja ketika tengah menjelaskan pahala orang yang beribadah haji berupa keluar dari dari dosa-dosanya seperti hari pertama kali dilahirkan oleh ibunya dikomentari oleh pensyarahnya, yaitu Syaikh Bakri Syatha (w. 1310 H.) dalam I’anatuth Thalibin bahwa yang dimaksud dosa-dosa adalag termasuk dosa besar, dosa kecil, dan bahkan dosa-dosa yang ada sangkut pautnya dengan sesama manusia (tabu’at).

Syaikh Bakri Syatha (w. 1310 H.) menyandarkan komentarnya kepada Ibn Allan (w. 1057 H.) yang di antara yang menjadi rujukannya adalah pendapat Ibn al-Mundzir (w. 318 H.), bahwa dalam hadis tentang pahala ibadah haji dan semisalnya, yang dimaksud dosa-dosa yang akan diampuni dengan dosa-dosa itu adalah semua dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar.

Apa yang dikemukakan oleh Ibn al-Mundzir (w. 318 H.) adalah lebih sesuai dengan keumuman teks hadis.

Sedang, yang membatasinya dengan dosa-dosa kecil, seperti Ibn Hajar al-Haitami (w. 974 H.) adalah karena ada sebuah hadis yang pada bagian penggalannya ada kalimat; “dan Ramadhan ke Ramadhan mengkifarati dosa-dosa antara keduanya selama dijauhi dosa-dosa besar.”

Dari sini disimpulkan bahwa dosa-dosa yang diampuni dengan puasa Ramadhan adalah selain dosa-dosa besar.

Tapi, jika kembali kepada teks hadis tentang pahala puasa Ramadhan, maka terlihat bahwa puasa Ramadhan yang dengannnya dapat diampuni dosa-dosa bukan puasa yang biasa-biasa saja, sehingga berbeda dengan muatan puasa dalam hadis “Ramadhan ke Ramadahan…”

Puasa Ramadhan yang tidak biasa-biasa saja itu adalah puasa yang dilakukan dengan dua hal:

Pertama, imanan (إيمَانًا), yaitu percaya bahwa kewajiban puasa itu haq (kebenaran), termasuk rukun Islam, dan percaya kepada pahala yang dijajikan oleh Allah bagi yang berpuasa, serta takut akan adzab jika tidak mengerjakannya.

Kedua, ihtisaban (إحْتِسَابًا), yaitu mencari pahala dari Allah, ikhlas hanya karena-Nya.

Yakni, tidak ada yang mendorong puasa selain imanan wah tisaban, bukan karena takut kepada manusia, malu, riya, atau tujun mencari popularitas.

Maka, dengan dua motivasi ini, adalah tepat kalau dosa-dosa yang diampuni dengannya adalah termasuk dosa-dosa besar.

Karena, puasa yang demikian akan mendorong ibadah-ibadah yang lain seperti Qiyamul Lail, memperbanyak membaca Al-Qur’an, i’tikaf, sedekah yang lebih banyak dan lebih cepat dari angin yang berhembus, istighfar dan taubat.

Tujuan puasa Ramadhan adalah menghantarkan manusia yang beriman menjadi pribadi-pribadi yang muttaqin. Dan, dalam surah Ali Imran ayat 135 disebutkan bahwa di antara ciri muttaqin adalah selalu bertaubat.

Yakni, pasti ada taubat dalam puasa yang imanan wahtisaban. Sehingga tidaklah Ramadhan berakhir kecuali dosa-dosanya sudah diampuni.

Dalam riwayat Ibn Majah, yang berpuasa Ramadhan dan Qiyamul Lail Ramadhan keluar dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya.

Deden M. Makhyaruddin

(Visited 16 times, 1 visits today)