FIQIH IMAM ‘ATHÂ’ BIN ABÎ RABÁH (w. 114 H.) LANDASAN SAHNYA SHALAT BERJAMAAH ONLINE FROM HOME?

FIQIH IMAM ‘ATHÂ’ BIN ABÎ RABÁH (w. 114 H.) LANDASAN SAHNYA SHALAT BERJAMAAH ONLINE FROM HOME?
Oleh: @deden_mm

Di antara syarat sah shalat berjamaah yang dilakukan dari atau di luar masjid adalah jarak antara imam dengan makmum atau shaf-shaf makmum tidak jauh dan tidak ada penghalang. Jika jauh atau ada penghalang meski jaraknya dekat maka tidak sah.

Yang dimaksud jarak yang jauh menurut madzhab al-Syafii adalah 300 siku, atau setara 150 meter. Dan, yang disebut penghalang adalah penghalang yang menutup akses ke imam tanpa berbelok dari arah qiblat.

Tapi, imam al-Syafii (w. 204 H.) mencantumkan madzhab imam ‘Athâ’ bin Abî Rabâh (w. 114 H.) dalam kitab Mukhtashar al-Muzani (halaman 38). Yaitu, bahwa, menurut imam ‘Athâ, yang menjadi syarat sah shalat berjamaah bukan jarak yang dekat atau akses yang tak tertutup tapi makmum mengetahui imam.

Imam al-Syafii (w. 204 H.) memang tidak sependapat dengan imam ‘Athâ (w. 114 H.), tapi madzhab imam ‘Athâ yang demikian adalah benar adanya, bahkan telah dipraktekan oleh penduduk Makkah sejak lebih dari satu abad sebelum Imam Syafii melahirkan ijtihadnya.

Imam Athâ bin Abî Rabâh (w. 114 H.) adalah ulama tâbi’în yang pernah belajar kepada 200 orang sahabat Nabi Saw. Di antaranya adalah Ibn Abbas, Ibnu Umar, dan Ummul Mukminin, Aisyah. Dia adalah mufti Makkah setelah generasi sahabat. Dikenal ahli ibadah dan wara’ disamping kepakarannya dalam tafsir dan fiqih.

Dalam al-Hâwi al-Kabîr (2/345), imam al-Mawardi (w. 450 H.), mengatakan, bahwa menurut imam ‘Athâ, boleh bermakmum kepada imam, baik jaraknya jauh maupun dekat, dan baik terhalang penghalang maupun tidak, selama makmum mengetahui imam. Pendapat ini disandarkan pula oleh imam al-Mawardi (w. 450 H.) kepada imam al-Nakha’i, imam Hasan al-Bishri, dan sahabat Nabi Saw., sayyidina Anas bin Malik.

Imam al-Qaffal (w. 365 H.) dalam Hilyah al-‘Ulamâ (1/237) mengemukakan, bahwa yang menjadi patokan dalam shalat berjamaah menurut imam ‘Athâ, juga menurut imam al-Nakha’i dan Hasan al-Bishri adalah makmum mengetahui shalatnya imam, bukan melihat imam langsung, baik ada penghalang maupun tidak ada.

Lalu, imam al-Imrani (w. 558 H.) dalam al-Bayân (2/435) mengemukakan, bahwa menurut imam ‘Athâ, makmum bisa ikut ke imam walau antara keduanya terbentang jarak yang sangat jauh selama makmum tersebut masih mengetahui shalatnya imam.

Kemudian imam al-Nawawi (w. 676 H.) dalam kitab al-Majmu’ (4/309), mengemukakan, bahwa menurut imam ‘Athâ, sah bermakmum kepada imam secara mutlak, yakni meski terhalang aksesnya atau terbentang jarak yang jauh sampai satu mil (1,609 km) atau lebih, selama makmum mengetahui shalatnya imam.

Yakni, yang menjadi patokan bukan soal jarak atau akses, tapi pengetahuan makmum terhadap shalat imam. Ini sesuai dengan mafhum dari sabda Rasulullah Saw:

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
Imam itu hanya dijadikan untuk diikuti (HR al-Bukhari, Muslim, al-Nasa’i dan Ibn Majah)

Yakni, tidak mungkin bisa mengikuti imam kalau tidak mengetahuinya. Bahkan, sebenarnya, masalah jarak dan akses yang dibahas para ulama tak lain adalah untuk mamastikan shalat imam diketahui dengan jelas oleh makmum agar dapat mengikuti.

Di era digital dan IT seperti sekarang, jarak tak lagi menjadi penghambat hubungan antara manusia di lintas benua. Live streeming bisa dilakukan, bukan hanya dalam bentuk suara, tapi juga gambar. Lalu, apakah fiqih imam ‘Athâ bin Abí Rabâh bisa menjadi landasan sahnya shalat berjamaah online from home? Maka, silahkan para ulama yang berwenang merumuskan.

Tapi, tentu, jika shalat berjamaah online ini diberlakukan, misalmya dalam shalat Tarawih, maka meski tempatnya berbeda jauh, zona waktunya harus sama. Tidaklah sah orang di Indonesia bermakmum kepada imam di Makkah. Adapun posisi imam yang bisa jadi lebih belakang dari makmum maka masih ada ruang toleransi mengingat ada qaul qadim dalam madzhab Syafii yang membolehkan posisi makmum di depan imam.

Dan, juga pastikan sinyalnya bagus dan kuotanya cukup agar tidak terputus di tengah jalan. Nanti, akan ada tebak-tebakan, shalat apa yang batal karena kuota internet habis. Yaitu, shalat yang berjamaah secara online lalu putus karena kuota habis sementara tidak meniatkan mufaraqah.

Wallâhu ‘A’lam
Deden Muhammad Makhyaruddin

Cibubur, 16 April 2020

(Visited 139 times, 1 visits today)