HIKMAH ENAM HARI BULAN SYAWWAL Tausiah Hari Raya (THR)

HIKMAH ENAM HARI BULAN SYAWWAL
Tausiah Hari Raya (THR)

Rasulullah Saw bersabda sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim dari sahabat, Abu Ayyub al-Anshari:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengikutkannya dengan enam hari bulan Syawwal maka seperti puasa sepanjang tahun. (HR Muslim)

Kata shama (صَامَ) adalah fiil madhi, yaitu kata kerja lampau, dan yang dimaksud Ramadhan adalah suruh harinya.

Jadi, yang dimaksud orang yang berpuasa Ramadhan pada hadis ini adalah orang yang sudah menuntaskan seluruh puasanya selama Ramadhan. Yaitu, sudah selesai 29 atau 30 hari. Lalu, mengiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawwal maka seperti puasa sepanjang tahun.

Orang yang memasuki Idul Fitri tapi masih ada puasanya yang belum diqadha karena datang bulan, nifas, sakit, atau bepergian maka tidak dapat mengerjakan puasa enam hari bulan Syawwal sesuai hadis ini kecuali setelah menuntaskan qadha-nya.

Bisa jadi puasa enam harinya tidak bulan Syawwal melainkan bulan Dzul Qa’dah seperti yang terjadi pada seorang perempuan yang nifas selama Ramadhan lalu berhenti nifasnya saat memasuki bulan Syawwal.

Maka, hari-hari Syawwal seluruhnya dihabiskan untuk qadha. Barulah diikutkan dengan puasa enam hari walau tak lagi di bulan Syawwal.

Tapi, apakah boleh mendahulukan puasa enam hari bulan Syawwal sebelum menuntaskan qadha-nya? Maka, menurut madzhab Syafi’i, sebagian Hambali, madzhah Hanafi dan Maliki, hukumnya boleh. Hanya saja tidak menunjukkan lebih utama. Yakni, sekadar boleh saja.

Karena, kewajiban qadha Ramadhan itu bukan kewajiban yang harus disegerakan, bahkan bisa ditunda selama belum masuk Ramadhan berikutnya.

Kata sittan min syawwal (سِتًّا مِنْ شَوّالٍ) artinya enam hari dari bulan Syawwal. Kata min (مِنْ) menunjuk pada bagian keseluruhan hari-hari bulan Syawwal. Yakni, enam hari yang dimaksud adalah tanggal berapa saja dari bulan Syawwal selain tanggal 1.

Bisa enam hari pertama, enam hari kedua, en hari ketiga, atau enah hari terakhir. Maka, boleh. Hanya saja bersambung langsung dengan hari raya lebih utama. Atau, bagi yang punya qadha, langsung setelah selesai qadha.

Juga, yang enam hari ini bisa berturut, juga bisa berselang. Tapi, berturut-turut lebih utama kecuali menurut madzhab Hanafi.

Yang dimaksud kashiyami al-dahr (كَصِيَامِ الدَّهْرِ) yang diterjemahkan puasa sepanjang tahun adalah puasa satu tahun penuh. Dan, jika dilakukan setiap tahun maka seperti puasa semurut hidup.

Setiap satu kebaikan bernilai sepuluh pahala, Ramadhan 30 hari berarti kali sepuluh menjadi setara pahala 300 hari. Lalu, enam hari setara pahala 60 hari. Puasa Ramadhan yang 30 ditambah 6 hari bulan Syawwal adalah 360 sesuai jumlah hari dalam setahun.

Kata para ulama, misalnya, dalam I’anatut Thalibin, pahala puasa yang dimaksud adalah setara pahala puasa wajib selama 360 hari, bukan pahala sunnah. Sehingga, nilai dan bobotnya sangat tinggi berkali-kali lipat.

Hal ini, karena, jika yang dimaksud adalah setara pahala 360 hari puasa sunnah maka tidaklah perlu yang enam hari itu dilakukan di bulan Syawwal. Karena, dilakukan di bulan apapun, tetap aka seyara 360 hari.

Mungkin ada yang bertanya, Ramadhan itu tidak selamanya 30 hari, melainkan adakalanya 29 hari. Jika demikian, kalau Ramadhannya 29 hari ditambah 6 hari Syawwal maka tidak setara 360 hari? Apakah perlu kemudian puasa Syawwalnya jadi tiga hari.

Maka, hadis ini tentang keutamaan puasa enam hari bulan Syawwal ini mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhan itu tetap dianggap 30 hari saja walau 29 hari.

Dan, ada hadis lain (HR Bukhari dan Muslim), bahwa bulan hari raya yang dua itu tidak pernah berkurang, Ramadhan dan Dzul Hijjah. Maksudnya, bukan berarti selalu 30 hari, tapi adakalanya 29 hari, tapi tetap pahalanya sempurna seakan-akan 30 hari.

Tampaknya, puasa enam hari bulan Syawwal ini isyarat keterpeliharaan orang yang diterima puasanya dan rangkaian ibadah Ramadhan lainnya sepanjang tahun sampai bertemu dengan Ramadhan berikutnya atau bertemu dengan Allah dalam balutan keridhoaan-Nya.

Deden M. Makhyaruddin

(Visited 16 times, 1 visits today)