KITAB SUCI FIKSI? MASUKAN UNTUK PAK ROCKY GERUNG
Oleh: @deden_mm
“Kitab suci fiksi atau bukan? Siapa yang berani jawab?”
Hati saya mendadak hening. Sehening ruangan pagelaran ILC malam itu. Tersentak sejenak dengan pertanyaan profesor filsafat juga pengamat politik yang tengah populer dengan kritikan-kritakan emasnya terhadap Pemerintah, Rocky Gerung.
“Kitab Suci itu fiksi. Karena belum selesai. Belum tiba. Belum terjadi. … Kitab Suci selalu ingin tiba di telos. Yaitu harapan. Dan itu sifat fiksi. … Anda ucapkan doa, sebetulnya, Anda masuk ke dalam energi fictional. Karena Anda pupuk harapan.”
Saya pun semakin kaget. Tapi perlahan meleleh setiap kali menyimak dan mencerna paparan demi paparan dari Sang Profesor. Beliau rupanya telah mempersiapkan definisi tersendiri tentang fiksi sampai kemudian berani memfiksikan Kitab Suci sebagai berikut:
1. Fiksi adalah energi yang berfungsi mengaktifkan imagenasi.
2. Fiksi menuntun untuk berfikir lebih imagenatif, maju, dan kreatif.
3. Fiksi tidak buruk melainkan sangat baik
4. Fiksi tidak bohong. Yang bohong adalah fiktif
5. Fiksi lawannya adalah realitas, bukan fakta
6. Fiksi untuk destinasi, bukan untuk prediksi
Saya tidak tahu Agama yang dianutnya. Juga tidak tahu Kitab Suci apa yang dimaksudkannya. Tapi penjelasannya tentang fiksi benar-benar membuka cakrawala berfikir saya. Argumentasinya yang mengangkat fiksi menjadi harapan yang tidak dapat dikatakan bohong mematahkan pengertian fiksi dalam KBBI yang mundur ke belakang sebagai cerita rekaan, rekaan, khayalan, dan tidak berdasarkan kenyataan.
Hanya saja, karena fiksi dengan pengertian Pak Rocky ini berbeda sama sekali dengan pengertian fiksi di kepala kebanyakan orang, saya melihat peluang besar terbukanya kesalahfahaman. Oleh karenanya perlu saya urainkan fakta-fakta dalam Kitab Suci Islam, yaitu Al-Quran yang mungkin, mohon maaf, Pak Rocky belum tahu.
Fiksi versi Pak Rocky yang dapat disifatkan pada Kitab Suci, kalau dalam Al-Quran, itu disebut al-Ghaib. Yakni, Al-Quran punya terma yang tepat untuk mewadahi pengertian fiksi versi Pak Rocky ini. Yaitu kata al-Ghaib. Atau dalam bahasa Indonesia sebut saja “gaib.” Pak Rocky mengatakan bahwa lawan dari fiksi versinya adalah realita. Nah, dalam Al-Quran, realita disebut al-syahadah. Dan lawan dari al-syahadah adalah al-ghaib.
Hanya saja al-ghaib benar adanya. Misalnya kematian bagi yang bernyawa. Dia gaib tapi pasti adanya. Dan kepastian yang melekat padanya adalah benar-benar adanya. Yakni, dipercayai atau tidak, diyakini atau tidak, diimani atau tidak, tetap akan terjadi. Demikian pula Surga, Neraka, Hari Kiamat, dan hal-hal akhirat lainnya. Bahkan ada yang Mahagaib. Yaitu Tuhan. Allah Swt. Maha pasti adanya. Terma yang mewadahi kepastian seperti ini adalah al-Haq sebagaimana terma yang mewadahi ketakterindraannya (kenonrealitasannya) disebut al-Ghaib. Tak kena rasanya kalau Tuhan disebut fiksi. Apalagi disebut Mahafiksi.
Iman kepada yang ghaib inilah sebenar-benarnya energi yang dengan dahsyatnya mengaktifkan kreativitas, karya, cipta, rasa, karsa, spiritual, peradaban, nilai, dan kebahagiaan abadi. Lihat surah Al-Baqafah ayat 3. Mungkin semalas-malasnya orang membaca Al-Quran, tapi ayat ini biasanya tahu. Dan iman semacam ini tidak akan goyah. Karena yang diimaninya benar-benar ada. Dialah al-Ghaib. Yaitu suatu makna yang besar yang tidak dapat ditampung dalam kata fiksi. Karena fiksi, kendati kata Pak Rocky itu tidak berarti bohong, tapi ketidakbohongannya tersebut masih ada peluang bohong. Dan menjadi imagenasi selamanya.
Ketika al-ghaib tersebut dihadapkan kepada pilihan manusia maka akan lahir harapan. Misalnya, Surga dan Neraka, dua-duanya pasti, tapi manusia pasti memilih Surga, sementara apakah akan masuk Surga atau Neraka ghaib juga. Demikian pula kematian. Pasti. Tapi kapan, di mana, dalam keadaan apa, dan disebabkan apa. Tentu manusia berharap panjang umur dan diberikan kematian terbaik, baik waktu, keadaan dan sebabnya. Allah tidak memberitahukannya dalam Kiab Suci, melainkan hanya memperinci amalan-amalan yang sebabkan dianugerahi kematian terbaik, juga kehidupan terbaik, di dunia dan akhirat, dan masuk Surga. Juga amalan-amalan sebaliknya. Al-Ghaib di level pilihan manusia inilah mungkin yang mendekati pengertian fiksi versi Pak Rocky. Tapi Al-Quran punya terma yang lebih pas lagi. Yaitu “doa.” Atau lebih khusus lagi disebut “ibadah.”
Al-Quran, sebagaimana di atas, memang menyimpan ayat-ayat tentang keimanan kepada yang ghaib dan jembatan harapan manusia terhdap yang ghaib itu, tetapi tidak lantas dengan mudahnya menyebut Al-Quran dengan Kitab Ghaib. Apalagi disebut Kitab Fiksi. Karena tidak semua ayat-ayatnya melulu tentang keimana kepada yang ghaib. Bahkan kisah-kisah dalam Al-Quran tidak ada yang fiksi, apalagi fiktif, semuanya faktual. Yakni benar-benar pernah terjadi. Demikian pula ayat-ayat tentang alam semesta, penciptaannya, hukum-hukumnya, dan tentang makhkuk hidup, tidak ada yang fiksi. Semuanya nyata. Dan penemuan ilmiah dari masa ke masa terus dan akan terus membuktikannya.
Tentang hastag #2019 Ganti Presiden yang dibela Pak Rocky dengan pemaparan fiksinya, itu lebih tepatnya disebut “doa.” Atau lebih menukik lagi “ibadah.” Bukan fiksi. Tapi tidak berarti pula menjadi pasti tanpa ikhtiar. Ya, mungkin kata fiksi dengan perngertian versi Pak Rocky adalah “doa.” Hanya Allah saja yang tahu pastinya. Baca surah al-Naml ayat 65. Tapi ketika hastage #2019 Ganti Presiden tersebut mendorong hati menjadi lebih kuat yakinnya kepada Allah, maka tunggu tahun 2019 apa yang terjadi.
Wallahu A’lam…
Deden Muhammad Makhyaruddin




