MAKNA DI BALIK KEBAHAGIAAN IDUL FITRI Tausiah Hari Raya (THR)

MAKNA DI BALIK KEBAHAGIAAN IDUL FITRI
Tausiah Hari Raya (THR)

Hari Raya adalah hari berbahagia dan bergembira ria. Baju baru dipakai, makanan enak dihidangkan, canda dan tawa pecah dalam kehangatan bersama keluarga, sanak famili, dan kawan.

Tapi, yang perlu diperhatikan, sifat bergembira pada Idul Fitri adalah bergembira karena telah diampuni dosa-dosa dan diterima amal-amal ibadah Ramadhan.

Maka, sebelum kita meluapkan kegembiraan itu dengan baju baru, makan ketupat, dan canda-tawa, pastikan dulu bahwa kita telah mempunyai alasan kebahagiaan itu.

Seseorang melihat Ali bin Abu Thalib sedang makan sepotong roti yang keras di hari raya Idul Fitri. Dia berkata, “Wahai Amiral Mu’minin, apakah di hari raya engkau makan sepotong roti keras?”

Ali bin Abu Thalib menjawab, “Hari ini adalah hari rayanya orang yang diterima puasa dan shalat malamnya, hari rayanya orang diampuni dosa-dosanya, hari rayanya orang yang dibalas lelah ibadahnya, dan hari rayanya orang yang diterima amal-amalnya.”

“Hari ini, bagi kami, adalah hari raya. Dan, besok pun, bagi kami, adalah hari raya. Karena, hari raya kami adalah setiap hari yang di dalamnya kami tidak bermaksiat kepada Allah,” lanjut Ali bin Abu Tahalib.

Seorang tabiut tabiin, Wuhaib bin al-Ward melihat sekelompok orang yang tertawa-tawa di hari raya Idul Fitri. Dia berkata:

“Jika mereka diterima puasanya maka tertawa seperti itu bukanlah perbuatan orang-orang yang bersyukur, dan jika tidak diterima puasanya maka tertawa pun bukan sesuatu yang tepat dilakukan oleh orang-orang yang gagal meraih kebaikan.”

Idul Fitri adalah penutup rangkaian amalan Ramadhan sekaligus pengantar amalan-amalan tersebut akan dilakukan sepanjang tahun dimulai dari hari setelahnya.

Oleh karenanya, Rasulullah Saw menganjurkan agar sebulan puasa Ramadhan diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawwal sehingga tercipta keistiqamahan sejak awal.

Deden M. Makhyaruddin

(Visited 19 times, 1 visits today)