Manusia yang mendekat kepada malikinnâs jiwanya selalu stabil. Marahnya saja teduh dan memberikan kesejukan. Apalagi senyumnya. Ia dilindungi Allah. Bahkan Allah Swt akan marah kepada siapapun yang melukainya. Padanya Allah berikan kerajaan sebagai anugerah untuk semesta. Dan kepada selainnya Allah Swt berikan kerajaan sebagai adzab untuk para pendusta dan ujian untuk mukminin. Fenomena yang terjadi di Indonesia sekarang, yaitu di Jakarta, tidak akan berakhir sampai ego muslimin benar-benar lumpuh di hadapan malikinnâs. Yang mendorong perjuangannya tak lagi amarah, tapi lembutnya kedekatan dengan Raja Manusia. Tak takut tak menang hingga harus menggunakan cara-cara yang beramarah. Allah Swt Mahateliti, Mahaadil, dan Mahabijaksana sehingga tahu apa yang seharusnya terjadi dan apa yang seharusnya tidak terjadi di semesta ini. Dia tidak bisa ditanya.
Dalam al-Bidâyah wa al-Nihâyah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Nawawi al-Banteni (w. 1314 H.) dalam Qâmi‘ al-Thughyân, sebuah syarah (penjelasan) terhadapNazham Syu‘ab al-’Îmân yang lazim dipelajari di pesantren-pesantren tradisonal yang kuat dengan nilai-nilai keindonesiaannya terdapat sebuah kisah tentang pertanyaan Syaikh Afifududdin di Mesir kepada Allah Swt saat sampai berita kepadanya tentang tragedi yang menimpa umat Islam di Baghdad. Pasukan Mongol yang dipimpin Holako Khan membantai kaum muslimin tanpa pandang bulu. Mulai dari raja, rakyat jelata, laki-laki, perempuan, orang dewasa, dan anak-anak semuanya kena. Sampai ada riwayat yang mengatakan korban tewas saat itu mencapai dua juta orang. Syaikh Afifuddin marah kepada para pembantai itu tapi tak tahu bagaimana menumpahkannya. Ia menyoal Allah di mana keadilan-Nya. Bagaimana bisa muslimin dikalahkan para penyembah berhala. Lalu Allah Swt menegurnya melalui sebuah mimpi. Ia melihat seseorang membawa papan bertuliskan dua bait syair. Di antara isinya adalah: “Hentikan melawan kebijakan Tuhan. Itu bukan urusanmu.” Lalu sejarah Islam membuktikan, bahwa tak berlalu setengah abad setelah itu kecuali anak cucu dari para pembantai tersebut menjadi para penyebar Islam ke berbagai penjuru dunia termasuk ke India, Cina, dan Indonesia sampai kerajaan-kerajaan Islam bertebaran di situ. Demikian ketika Allah,malikinnâs, telah menetapkan kebijakan-Nya.




